Intelijen AS Tak Heran Korea Utara Tingkatkan Pangkalan Misil

Upaya-upaya Korea Utara untuk meningkatkan dan memperluas pangkalan misil jarak jauh, tidak mengherankan pejabat-pejabat intelijen AS, yang telah lama was-was pada janji-janji Korea Utara untuk melucuti senjata nuklirnya.

Foto-foto baru dari satelit menunjukkan apa yang tampak sebagai perbaikan di pangkalan misil Yeongjeo-dong, sebuah fasilitas yang terletak di dalam pegunungan Korea Utara, dan juga di fasilitas baru, Hoejung-ri, yang jaraknya 11 kilometer dari Yeongjeo-dong.

“Pengamatan kami belum berubah,” kata seorang pejabat intelijen AS kepada VOA, ketika ditanya tentang foto-foto satelit itu.

“Korea Utara punya tugas besar untuk dilakukan. Sebelum tugas itu selesai sepenuhnya dan mereka telah selesai melakukan tugas mereka, kita harus tetap skeptis,” tandasnya.

Foto-foto yang diperoleh CNN menunjukkan, Korea Utara mulai membangun fasilitas besar di bawah tanah pada tahun 2017 dan pembangunan itu masih berlangsung hingga Agustus tahun ini. (ps/is)

Lanjut ..

Tegas! Kuasa Hukum: Habib Bahar Bin Smith Korban Diskriminasi Rezim

Jum’at, 7 Desember 2018

Faktakini.com, Jakarta – Kuasa hukum Habib Bahar bin Ali bin Smith, Aziz Yanuar, menyebut kliennya merupakan korban tindak diskriminasi dari institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan rezim pemerintahan yang berjalan saat ini.

Menurutnya, Polri selalu menerapkan perlakuan yang berbeda dalam menangani kasus dengan terlapor pihak atau oknum pendukung Presiden Joko Widodo seperti Ade Armando, Victor Bungtilu Laiskodat, Permadi Arya alias Abu Janda, dan Sukmawati Soekarnoputri.

“Secara lugas kami kuasa hukum menyatakan bahwa justru klien kami adalah korban perlakuan diskriminasi dari rezim yang sedang menguasai dan membajak negara,” kata Aziz dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (6/12).

Dia pun menyatakan proses hukum terhadap Habib Bahar dalam kasus dugaan tindak pidana kejahatan terhadap penguasa dan ujaran kebencian terkesan dipaksakan dan sengaja dipercepat. Menurutnya, hal ini seolah-olah menunjukkan keinginan pihak tertentu agar Habib Bahar segera dipenjara.

Hal ini, lanjutnya, juga seolah-olah ingin membungkam Habib Bahar untuk berdakwah.

Menurutnya, perlakuan yang diterima Habib Bahar tidak bisa lepas dari posisi yang merap mengkritik rezim yang melakukan kezaliman.

“Perlakuan diskriminatif yang dilakukan Polri atas pilihan politik merupakan tindakan diskriminasi yang nyata yang bertentangan dengan UUD (Undang-undang Dasar) 1945,” ucap Aziz.

Dia menambahkan, perilaku diskriminatif seperti yang dialami Habib Bahar sebelumnya telah dialami sejumlah tokoh yang berseberangan dengan pemerintah, seperti Habib Rizieq Shihab, Habib Haidar bin Abdurrahman BSA, Habib Mahdi Shahab, dan Habib Syukri Baraqbah.

Laporan terhadap Habib Bahar muncul akibat pernyataannya dalam sebuah video di media sosial. Dia dilaporkan oleh Jokowi Mania. Laporan itu diterima dengan nomor : LP/B/1551/XI/2018/Bareskrim tanggal 28 November 2018.

Dalam video itu, Habib Bahar menyebut Jokowi sebagai pengkhianat negara dan rakyat. Dia juga menyebut Jokowi sebagai seorang banci.

Habib Bahar dilaporkan atas dugaan melanggar Pasal 207 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf b angka 1 dan Pasal 45 ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sementara itu, Habib Bahar juga dilaporkan dengan tuduhan serupa di Polda Metro Jaya oleh Muannas Alaidid. Laporan tersebut terdaftar dengan nomor : LP/6519/XI/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus tertanggal 28 November 2018.

Habib Bahar sebelumnya mengatakan ceramahnya saat itu terkait dengan adanya aksi 4 November 2016 atau Aksi 411. Dia menilai Jokowi sebagai presiden RI saat itu tak merespons keresahan umat.

“Saya mengatakan Jokowi presiden banci karena waktu aksi 411 jutaan umat Islam mendatangi depan Istana untuk bertemu dengannya untuk meminta keadilan penegakan hukum. Dia sebagai presiden malah lari dari tanggung jawab dan lebih memilih urusan yang tidak penting daripada jutaan umat Islam yang ingin menemuinya. Malah para habaib, kiai, dan ulama diberondong dengan gas air mata,” kata Habib Bahar.

Habib Bahar mengakui dalam ceramahnya dia menyebut Jokowi pengkhianat bangsa. Sebab, menurut dia, Jokowi telah memberi janji palsu karena tidak bisa membuat seluruh rakyat Indonesia sejahtera.

“Rakyat menderita, susah, kehausan, kelaparan, yang makmur China, Barat, yang makmur perusahaan-perusahaan asing, kita pribumi Indonesia menjadi budak di negara kita sendiri,” ujarnya.

Soal dirinya yang dilaporkan ke polisi terkait dengan ceramahnya, Habib Bahar bin Smith mengaku tak gentar. Dia mengaku siap dipenjara demi membela rakyat.

“Kalau mereka mendesak saya minta maaf maka demi Allah saya lebih baik memilih busuk dalam penjara daripada harus minta maaf,” ujarnya.

Foto: Kuasa hukum Habib Bahar bin Ali bin Smith, Aziz Yanuar saat berdiskusi dengan Habib Bahar

Sumber: CNNI

Lanjut ..

Blak-Blakan, Direktur Median Nilai Daya Tarik Ma’ruf Amin Memudar

Kamis, 6 Desember 2018

Faktakini.com, Jakarta – Ditengah fenomena warga masyarakat terutama Emak-Emak seperti “demam” alias sangat menyukai Cawapres Sandiaga Uno yang muda, keren dan energik, dikabarkan hal sebaliknya terjadi pada Cawapres dari kubu rival.

Direktur Eksekutif lembaga survei Median, Rico Marbun mengatakan, salah satu pesan dari reuni 212 yang digelar Minggu, 2 Desember 2018 mengisyaratkan bahwa efek atau daya tarik KH Ma’ruf Amin memudar. Hal ini menurutnya terjadi karena Ma’ruf sebagai calon Wakil Presiden justru diharapkan bisa meredam gerakan 212 namun nyatanya kata Rico, tidak demikian.

“Saya pikir 212 kemarin itu ada satu pesan politik yang kelihatannya sangat clear yaitu efek KH Ma’ruf sudah pudar. Jadi 212 yang membludak menandakan efek yang cukup didengar ketika pencalonannya sebagai Cawapres hilang,” kata Rico saat dihubungi VIVA, Kamis 6 Desember 2018.

Rico pun menilai, pada waktu berikutnya, pemimpin umat seperti Ma’ruf akan kehilangan pengikutnya. 

“Saya khawatir pemimpin umat seperti kehilangan pengikutnya. Kata-kata mereka tidak didengar saat mereka bergabung ke kubu pak Jokowi,” ungkapnya.

Rico mencontohkan, ketika Tuan Guru Bajang (TGB) merapat ke Jokowi, elektabilitasnya turun. Pun banyak di-bully. Hal itu juga terjadi ketika Yusril Ihza Mahendra bergabung ke Jokowi.

“Saya pikir tadinya akan berbeda, ini kan mirip kejadian waktu TGB mendukung Jokowi. Bukan hanya di-bully netizen,  setelah kami tanya ke publik, pada saat itu elektabilitas TGB sebelum dan sesaat sesudah mendukung Jokowi berubah, beda jauh dan turun drastis. Begitu juga dengan Yusril Ihza Mahendra,” katanya.

Foto: Sandiaga Uno dan daya tarik dahsyatnya

Beberapa komentar Netizen:

Alfan Ridha
Bukan memudar, tp tak punya nilai jual,
Ini blunder politik menurut saya, tujuan untuk memecah suara umat, justru sebalik nya malah di tinggalkan umat.
Terbukti dlm aksi 212 kmrn, umat lebih percaya komando ijtima ulama.
Siap siap gulung tikat rezim ini, karena selalu blunder, karena kegagalan memahami persoalan bangsa.

Dedy Sucahyo Chai
Pak kyai tidak sadar.. di tunjuknya beliau hanya utk mengambil suara umat..sdg kalau sudah jadi seperti biasa ttp islam yg di tinggalkan.. itulah usia boleh tua tapi hawa nafsu tidak pernah tua..berkat gerakan 212, siapapun tokoh islam yg nyebrang pasti kita kita tinggalkan!

Pakde Manto
Bukan memudar tapi kharisma beliau hilang karena masuk gerombolan penista agama.
Hehehehehe

Riza Pahlefi
Gelar kiainya hilang karena gabung partai kumpulan orang munafiqun, partai penista agam Islam

Galeh Al Fatih
bukan yai Ma’aruf aja yg pudar jokowi pun sudah pudar sejak dia ingkari  janji pilpresnya.jokowi cemerlang krn polesan media saja faktanya rakyat udah mual alias nek liat mukanya yg sok polos lugu tp penipu.

Afwan
Jelaslah karomahnya ditarik semenjak memilih keduniawian dibanding umat

Tengku Moeslim Lay
Ya iya lah…mau beli kambing aja pilih yang mudah dan sehat, ngapain beli bandot tua. mana ada nilai jualnya.

Fazi Rak
Emang apa daya tarik ma’ruf amin masih mending memudar, ini tidak ada sama sekali…kalau mau kembali ke 2016 adanya aksi 212 untuk ahok, bukan ma’ruf amin hanya di hargai sebagai ketua  MUI yg berfatwa tapi bukan ma’ruf amin saja berbagai ormas yg ada di MUI putuskan…untuk sekarang bergabung dengan rezim gerombolan perlu di pertanyakan karena rezim gerombolan sarang koruptor dan sarang narkoba 3 karung…kok seorang ulama dan kiay ikut bergabung, inikan amar ma’ruf nahi mingkar tidsk jalan…apalagi terjun bebas ke pentas politik praktis yg di jual PKB muhaimin, NU said aqil siraj, GP Anshor Yakult yang notabene punya kepentingan kepentingan politik sesat….

Yuli Zar
Bukan memudar brooo tapi pemilihan beliau sebagai Cawapres krn jebakan batman..hihihihihiiii hihihihihiiii hihihihihiiii hihihihihiiii.. Suka tdk suka dan senang tdk senang.. Pasca terpilih nya beliau sebagai Cawapres maka hancur lah semua strategi yang telah dipersiapkan oleh kubu petahana.. Lihat lah sekarang apapun yang dilakukan pasti akan menjadi harakiri.. Hihihihihihiii hihihihihiiii hihihihihiiii hihihihihiiii hihihihihiiii hihihihihiiii hihihihihiiii hihihihihiiii hihihihihiiii

Wage Supit
Smenjak kyai maaruf amin mendukung jkw,,memang sdh memudar.
Karena beliau terlihat tdk komit dgn omonganya, apa lg beliau seorang ulama

Septa Zakir
Kasian pak kiyai ini di suruh mak banteng buat bersihin nama mak banteng yg tidak percaya akhirat

Muhammad Dzaki Hafiz
Lagian sudah tua,  bukanya perbanyak ibadah saja mbah disisa umur ini… Gak usah ikut2 pengen wakil presiden,  bahaya..  Nanti akan banyak ikut berbohong atau suka PHP, disanakan ada yg bangga jadi anak PKI, kok mbah mau sih didukung sama mereka… Karena pengen didukung sama yg suka bohong akhirnya mbah juga sekarang kadang berbohong…
 Cepet2 istigfar mbah…

Mulyono Sri
Memang dari dulu gak menarik….  Dan gak memudar karena dari awal gak diperhitungkan.
Siapapun cawapresnya Jokowi langsung auto ngedrop

Ughik Ananda
Kasihan mereka sudah uzur tolong jangan di hina mendingan di do’ain semoga di beri hidayah agar kembali sibuk ngitung tasbih darpda ngitung hasil poling yang hasilnya bikin sesak di dada.

Alirusdi Nasution
Yg penting laksanakan fatwa MUI Pusat, pemimpin yang ingkar janji boleh tak ditaati dan jangan dipilih kembali

Avieth Abdellatief
Gak lakuuu…terlebih di kelompok millenial…mereka gak ada yg knl siapa itu makruf amin….

Bintang Moy Moy
Emg gak ada daya tarik kok…..apalagi di awal” joget dangdut…masuk gerombolan penista agama…udh banyak bohongnya

Arjuna Rendi Syahputra
Jokowo memudarq,  gandeng Kyai MA yg juga tdk mampu mendongkrak…….

Semoga ini pertanda baik akan adanya perubahan yang lebih baik bagi bangsa ini,  hadirnya pemimpin baru yg berkualitas dan kredible.

Iman Kamil
Lah siapa yg mau milih maaf kake kake, maaf pak kyai ini jaman milenial perlu orang muda untuk guncangkan dunia

Sumber: Viva

Lanjut ..