Jejak Digital di Medsos Paksa Calon Parpol Utama Australia Mundur

Seorang calon partai Liberal yang berhaluan tengah-kanan mengatakan orang-orang Islam berencana menggulingkan pemerintah Australia dan menjalankan hukum syariah di negara itu. Calon lainnya mengatakan imigran Muslim harus dilarang masuk ke Australia.

Sejumlah calon terpaksa harus mengundurkan diri secara tiba-tiba atau membantah apa yang pernah mereka katakan dalam media sosial. Postingan yang bersifat rasis dan seksis juga telah muncul kembali dalam jaringan internet.

Perdana Menteri Scott Morrison dari partai Liberal dengan cepat menjauhkan dirinya dari tiga orang calon partainya sendiri.

“Saya tidak setuju dengan komentar-komentar yang dikeluarkan orang-orang itu. Saya tidak bisa menerimanya dan saya tidak akan mempertahankannya,” tegasnya.

Jessica Whelan adalah seorang calon partai Liberal yang dipaksa mengundurkan diri. Ia membantah telah memasang postingan yang mengatakan bahwa perempuan yang mendukung agama Islam harus dimutilasi dan dijual sebagai budak. Tapi ia juga mengakui pernah membuat komentar-komentar yang bernada rasis.

“Dua tahun yang lalu saya mungkin telah memasang postingan yang anti-Islam, dan saya tidak membantah hal itu,” akuJessica Whelan.

Tidak satupun dari partai-partai besar yang terbebas dari tuduhan seperti itu. Kelompok Partai Buruh yang beroposisi juga terpaksa membatalkan calon-calonnya karena membuat lelucon tentang perkosaan, orang-orang lesbian dan orang Katolik.

Di kawasan Northern Territory, calon dari partai Buruh, Wayne Kurnoth terpaksa mengundurkan diri setelah terungkap ia pernah memasang foto tentang ISIS dalam jaringan internet, dan juga teori konspirasi yang mengatakan dunia dikuasai oleh orang-orang Yahudi dalam bentuk kadal yang bisa berubah bentuk.

Kebanyakan komentar-komentar itu tidak dibuat belakangan ini, tapi muncul kembali pada waktu yang kritis dan bisa mengakibatkan konflik yang parah.

Kata seorang calon yang menarik diri, kejatuhan politiknya adalah “pelajaran penting bagi orang-orang muda bahwa jejak media sosialnya akan terus mengikutinya kemanapun ia pergi.’

Kendati telah dikecam keras, rasisme telah menjadi tema yang sering muncul dalam masa kampanye ini. Calon-calon yang tidak pernah menulis komentar rasis bahkan mendapati poster-poster kampanye mereka telah dicoreti dengan gambar-gambar swastika dan simbol-simbol lain yang ofensif. (ii)

Lanjut ..