Gagal Berikan Kritik Menyejukkan Bikin Elektabilitas Prabowo-Gatot Terperosok

KRICOM – Pengamat politik dari Exposit Strategic Arif Soesanto menilai tak ada yang aneh dari rendahnya suara para penantang Joko Widodo seperti Prabowo Subianto dan Gatot Nurmantyo.

Dalam beberapa lembaga survei, elekabilitas Prabowo dan Gatot berada di bawah 20 persen. Menurut Ari, rendahnya presentase tersebut akibat kegagalan keduanya dalam memberikan alternatif dan kritik yang bermanfaat bagi rakyat.

“Jokowi bukan tanpa kelemahan, tetapi saya pikir lawan politiknya gagal menunjukkan apa yang kurang dari Jokowi. Mereka gagal memberikan alternatif yang menyejukkan,” kata Arief kepada Kricom di Jakarta, Rabu (25/4/2018).

Dia yakin, jika mampu memberikan alternatif, niscaya tingkat kepuasan terhadap para penantang akan meningkat.

Survei Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengalami tren kenaikan, sementara calon presiden Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto mengalami penurunan.

Survei diadakan Litbang Kompas pada 21 Maret-1 April 2018, saat Prabowo belum menerima mandat sebagai calon presiden (capres) di Rapat Koordinasi Nasional Gerindra pada 11 April lalu.

Yang teranyar, berdasarkan survei Litbang Kompas, elektabilitas Jokowi pada April 2018 mencapai 55,9 persen atau terus mengalami kenaikan dibandingkan hasil survei pada Oktober 2017 sebesar 43,6 persen dan April 2017 (41,6 persen). Sebaliknya, elektabilitas Prabowo pada April 2018 sebesar 14,1 persen, atau mengalami penurunan dari survei pada Oktober 2017 (18,2 persen) dan April 2017 (22,1 persen).

Seperti halnya Prabowo, beberapa kandidat lain juga mengalami penurunan elektabilitas. Litbang Kompas menyebutkan misalnya mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo memiliki elektabilitas 1,8 persen, padahal enam bulan sebelumnya elektabilitas mencapai 3,3 persen.

Kenaikan elektabilitas Jokowi terkait dengan kepuasan responden terhadap kinerja pemerintahan. Pada April 2018, kepuasan secara umum terhadap kinerja pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla mencapai 72,2 persen atau meningkat dibandingkan Oktober 2017 (70,8 persen) dan April 2017 (63,3 persen).

Lanjut ..

Satu Penerjun Payung Perayaan Hari Kartini 'Nyasar' ke Sawah Besar

KRICOM – Langit area Monumen Nasional (Monas) pagi ini dihiasi 35 penerjun payung cantik yang tergabung dari TNI, Polwan dan juga wanita komponen bangsa. Sebanyak 34 penerjun mendarat di Monas cukup apik, namun ada satu penerjun yang sempat ‘nyasar’ ke Sawah Besar.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Kricom, Rabu (25/4/2018) pada saat gelaran apel merayakan hari Kartini puluhan wanita tangguh berseragam itu melakukan terjun payung sekira pukul 08.00 WIB. Saat penerjunan, langit Jakarta tengah mendung, angin berembus dengan intensitas sedang.

Sebanyak 34 penerjun berhasil mendarat di titik pendaratan yang sudah disediakan panitia tepatnya berdekatan dengan monumen nasional tersebut.

Namun sayang, akibat gagal mengendalikan putaran arah angin, parasut salah satu penerjun tidak mendarat apik di titik pendaratan. Wanita cantik yang belum diketahui identitasnya itu mendarat di kawasan Sawah Besar.

“Tadi ada yang nyasar ke Sawah Besar,” kata salah satu petugas yang mengamankan gelaran terjun payung ini bernama Rudi kepada Kricom di lokasi.

Acara apel bersama yang dipimpin Presiden Joko Widodo itu dihadiri oleh 10 ribu wanita dari berbagai kalangan, yakni TNI, Polwan, Satpol PP, Tagana, serta Paskibraka.

Lanjut ..

Peringati Hari Kartini, Jokowi: Dahulukan Kepentingan Rakyat di Atas Kepentingan Pribadi

KRICOM – Presiden Joko Widodo menghadiri acara Apel bersama anggota TNI Polri Wanita, ASN (Aparatur Sipil Negara) Departemen, serta komponen bangsa lainnya pada Rabu (25/4/2018) di Monas, Jakarta Pusat, untuk memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2018.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan penghargaan serta rasa terima kasih kepada wanita-wanita anggota Korps TNI Polri atas peran dan proporsinya terhadap negara Indonesia yang semakin besar.

“Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan penghargaan dan harapan kepada saudari-saudari semuanya terimakasih atas kontribusi saudari dalam menjaga pertahanan dan keamanan negara. Terimakasih atas peran saudari-saudari yang terus meningkat dari waktu ke waktu, saya bangga bahwa anggota korps wanita TNI dan Polisi semakin banyak dan proporsinya juga semakin besar,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi wanita secara keseluruhan dan menyebut bahwa negara membutuhkan karakter wanita yang lembut tapi tegas.

“Dalam brbagai kesempatan dibawah korps wanita TNI dan Polwan benar-benar terampil di lapangan bisa membuat situasi yang sulit dapat menjadi tenang dan terkendali. Itulah kelebihan perempuan. Lembut tapi tegas itulah yang dibutuhkan bangsa ini,” sambung Presiden ke-7 Indonesia ini.

Lebih lanjut, Presiden mengajak agar seluruh peserta meneruskan semangat Juang Ibu Kartini untuk membangun bangsa dan negara serta mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

“Para anggota korps TNI dan Polwan serta PNS TNI Polri yang saya banggakan, saya mengajak saudari-saudari semuannya untuk terus meneruskan semangat juang Kartini. Semagat juang untuk membangun keadilan, semangat juang untuk memajukan bangsa dan negara dan, semangat juang yang mengutamakan kepentingan seluruh rakyat Indonesia di atas kepentingan pribadi maupun golongan,” tandasnya.

Selain apel bersama yang dihadiri 10.977 peserta wanita, acara ini juga dimeriahkan oleh drama kolosal, berkuda, motor gede, dan terjun payung.

Lanjut ..

Disebut Blunder, Gerakan Ganti Presiden Justru akan Naikkan Elektabilitas Jokowi

KRICOM – Gerakan viral ‘2019 Ganti Presiden’ dinilai akan membuat sebuah blunder besar yang justru membuat nama Joko Widodo (Jokowi) semakin populer dan membuatnya kembali berkuasa untuk periode kedua. Pasalnya gerakan yang digagas kubu oposisi tersebut tidak memberikan solusi bagi masyarakat.

Pengamat politik Arief Susanto juga menyebutkan, gerakan ini sama sekali tidak menjelaskan siapa calon yang diajukan untuk menggantikan Jokowi.

“Ada beberapa peluang. Peluang pertama adalah, sejauh mereka tak mampu memberikan alasan penggantinya. Ini sebenarnya sedang memberikan amunisi gratis bagi Jokowi untuk terus meningkatkan elektabilitasnya,” kata Arief kepada Kricom di Jakarta, Rabu (25/4/2018).

Arief melanjutkan, jika merujuk pada beberapa lembaga survei, tingkat kepuasan terhadap kinerja Jokowi cenderung meningkat.

“Tidak menjadi suatu anomali kalau kepuasan terhadap kinerja meningkat, tapi dorongan untuk mengganti Presiden, itukan anomali,” kata dia. ”Kecuali Anda bisa memberikan alasan yang masuk akal dan itu bisa ditemukan.”

Namun, gerakan ini bisa menjadi pukulan balik bagi Jokowi, jika pemerintah tak bisa menunjukkan atau mengkonversi tingkat kepuasan yang tinggi dengan elektabilitas.

“Karena itu misalnya terjadi juga dengan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Tingkat kepuasan tinggi, tapi dia tak mengkonversi menjadi dukungan suara,” paparnya.

Dengan konsentrasi yang besar pada konstelasi kekuasaan, bisa saja para politikus akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kekuasaan.

“Ini yang kita khawatirkan dari merebaknya politik kebencian berbasis identitas dari tahun 2017 lalu,” tutupnya.

 
Lanjut ..

Jawab Polemik Tas Sembako Jokowi, Ini Penjelasan Istana

KRICOM – Istana Negara akhirnya angkat bicara terkait polemik soal tingginya anggaran pengadaan tas sembako yang kerap dibagi-bagikan Presiden Joko Widodo selama melakukan kunjungan ke daerah-daerah.

Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengatakan, anggaran tersebut diambil dari pos bantuan sosial presiden yang sudah ada sejak dulu.

“Cuma penggunaannya saja sudah beda-beda,” kata Pratikno kepad wartawan, Selasa (25/4/2018).

Pratikno memastikan pengadaan tas sembako ini sesuai prosedur dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Bapak Presiden menggunakannya, inikan terbuka, semua orang tahu siapa yang menerima. Kami akuntabel untuk administrasi,” kata Pratikno.

Pratikno memastikan proses pengadaan tas sembako ini telah sesuai dengan prosedur yang ada dan bisa dipertanggungjawabkan.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi memang kerap membagi-bagikan sembako saat kunjungan kerja ke daerah. Sembako itu dibungkus di dalam tas bertuliskan ‘Bantuan Presiden Republik Indonesia’.

Di laman lpse.kemenkeu.go.id, tercantum informasi soal lelang pengadaan tas sembako bantuan presiden dengan kode lelang 23246011.

Pengadaan ini ada di bawah Kementerian Sekretariat Negara, satuan kerja Istana Kepresidenan Jakarta. Nilai pagu paket Rp 3.000.000.000 yang dananya berasal dari APBN tahun anggaran 2018.

 
Lanjut ..

Ini Alasan ICW Kecewa dengan Vonis 15 Tahun Setnov

KRICOM – Indonesia Corruption Watch (ICW) menyesalkan vonis 15 tahun penjara kepada Setya Novanto dalam kasuS korupsi e-KTP.

Pasalnya, vonis itu lebih rendah dari tuntutan jaksa.

“Saya sedikit kecewa. Harusnya putusannya dimaksimalkan sesuai dengan apa yang menjadi dakwaan yang disampaikan,” kata peneliti ICW, Abdullah Dahlan di Jakarta, Selasa (24/4/2018).

Abdullah melanjutkan, putusan mencabut hak politik mantan Ketua DPR RI itu juga seperti setengah hati karena pengadilan hanya melarang Setnov untuk tidak aktif di kegiatan politik selama 5 tahun saja.

“Ini terkesan masih setengah hati. Masih abu-abu untuk menegaskan pencabutan hak politik,” paparnya.

Pasalnya, jika belajar dari beberapa putusan Pengadilan Tipikor sebelumnya, beberapa terpidana yang melakukan kejahatan politik secara besar wajib dicabut hak politik secara utuh.

“Vonis ini masih membuka ruang bagi Setnov untuk terlibat aktif lagi sebagai politikus walaupun tidak di partai terkait,” ungkapnya.

“Kalau melihat putusan yang disampaikan dan track record dan kerugian yang ada di korupsi e-KTP, saya kira sudah selayaknya hak politik itu secara utuh dicabut, sehingga ada kepastian soal larangan untuk terlibat aktif kembali secara politik dalam kelembagaan politik manapun,” tutupnya.

Diketahui pada sidang pembacaan vonis, Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menjatuhkan vonis 15 tahun penjara kepada terdakwa korupsi proyek pengadaan e-KTP Setya Novanto, Selasa (24/4/2018).

Vonis hakim ini lebih ringan dari tuntutan JPU KPK yang menuntut Novanto 16 tahun penjara dan denda sebesar Rp1 miliar.

Lanjut ..

Polisi Duga Kompol Fahrizal Alami Gangguan Jiwa akibat Pernah 'Ngilmu'

KRICOM – Penyidik Polda Sumatera Utara mencium adanya gejala gangguan jiwa pada Wakapolres Lombok Tengah, Kompol Fahrizal.

Akibat gangguan kejiwaan itu, Fahrizal pun akhirnya nekat menembak adik iparnya, Jumingan alias Jun (33) di Kecamatan Medan Tembung, Medan, Sumatera Utara, Rabu (4/4/2018).

“Sementara dalam tahap observasi karena informasi terakhir ada sedikit gangguan kejiwaan,” kata Kapolda Sumatera Utara, Inspektur Jenderal Polisi Paulus Waterpauw saat ditemui wartawan di Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2018).

Namun Paulus enggan memastikan penyebab Kompol Fahrizal mengalami dugaan gangguan jiwa. Namun dari informasi awal yang didapat penyidik, dugaan gangguan kejiwaan ke Fahrizal karena pernah ‘ngilmu’ di Jawa Barat.

“Kemungkinan besar ada belajar ilmu. Berguru dulu,” ujarnya.

Sedangkan terkait kasus penembakan, Kompol Fahrizal belum mendapat konsekuensi di kedinasan. Menurut Paulus, tim penyidik masih menunggu hasil observasi tim psikologi dan kejiwaan.

“Artinya, kalau dengan pengaruh (gangguan) jiwa akan menjadi bahan pertimbangan,” papar dia.

Sementara itu, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto pernah mendengar kabar jika Fahrizal ‘ngilmu’ di Jawa Barat. Maski begitu, penyidik belum bisa memastikan kebenaran informasi tersebut.

“Nanti harus dibuktikan. Saya juga dengar itu, tapi saya tidak mau berandai-andai. Kalau memang dia ngilmu harus dibuktikan dia menganut ilmu apa. Gitu, kan?” papar Setyo, Selasa ini.

Lanjut ..

Pekan Depan, Polisi Limpahkan Berkas Arseto ke Kejaksaan Tinggi

KRICOM – Penyidik Subdit I Ditresnarkoba Polda Metro Jaya akan melimpahkan berkas perkara Arseto Suryoadji atas kasus penyalahgunaan narkotika pada pekan depan.

“Sudah diberkas, mudah-mudahan minggu depan kami limpahkan ke Kejaksaan Tinggi,” kata Kasubdit I Ditresnarkoba Polda Metro Jaya AKBP Calvijn Simanjuntak di Polda Metro Jaya, Selasa (24/4/2018).

Atas rencana pelimpahan ini, penyidik Subdit I Ditresnarkoba akan berkoordinasi dengan Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.

Bukan tanpa sebab koordinasi dilakukan, pasalnya Arseto diketahui terjerat kasus dugaan ujaran kebencian di media sosial. Kasus dugaan ujaran kebencian itu, ditangani penyidik Ditreskrimsus.

“Kami koordinasi dengan kasus yang lain yang dari Krimsus,” papar dia singkat.

Sebagai informasi, polisi menangkap Arserto atas kasus penyebaran ujaran kebencian melalui media sosial, Facebook. Pengusutan ini berawal dari laporan masyarakat yang curiga bahwa Arseto dianggap menyebarkan hate speech melalui akun Facebook-nya.

Arseto memposting tulisan yang dianggap bermuatan SARA terhadap kegiatan keagamaan yang digelar di Monumen Nasional, Jakarta. Dari pengembangan kasus tersebut, polisi juga menetapkan Arseto sebagai tersangka kasus narkoba dan kepemilikan senjata api ilegal.

Lanjut ..

Makin 'Kreatif', Pengedar Narkoba Ubah Alas Truk Jadi Tempat Penyimpanan Ganja

KRICOM – Para pengedar narkotika Indonesia terus menemukan cara-cara yang ‘kreatif’ demi menghindar dari kejaran pihak berwajib. Salah satunya terlihat dari aksi para anggota sindikat pengedar ganja jaringan Aceh-Jakarta.

Sebanyak 142,8 kilogram ganja yang dikirim oleh jaringan pengedar narkotika dari Aceh ke Jakarta, Senin (9/4/2018) menggunakan truk pengangkut barang. Untuk menyamarkan aksinya, para pengedar menyulap ruang pengangkutan belakang truk.

Dari keterangan pihak kepolisian, alas ruang pengangkutan dibongkar untuk kemudian menjadi tempat penyimpanan ratusan kilogram ganja, untuk kemudian ditutup papan sehingga ruangan tersebut tampak ‘normal’.

“Kemudian ganja dimasukkan di bawah alas truk. Untuk mengelabui petugas,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Argo Yuwono, Selasa (24/4/2018).

Beruntung, polisi tidak mudah percaya dengan alas pada ruang pengangkutan truk. Kemudian dibongkar alas ruang pengangkutan. “Ditemukan 150 bungkus narkotika. Total beratnya 142,8 kilogram,” papar Argo.

Adapun sopir truk pengiriman narkotika ini berinisial HT. Dia ditangkap di Binjai, Sumatera Utara, Senin (19/4/2018) kemarin. Tidak cukup menangkap HT, polisi membekuk pula ZL, ‘arsitek’ dari pengiriman ganja dari Aceh ke Jakarta ini.

Setelah membekuk ZL, polisi menangkap empat orang yang tergabung sebagai ‘tim penerima’ ganja di Jakarta. Keempatnya berinisial NSN, JV, FS dan DN.

Menariknya, empat orang dari tim penerima ini dikendalikan oleh NC alias JY yang merupakan seorang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang.

Lanjut ..

Kadernya Ketemu Habib Rizieq di Mekah, PDIP: Tidak Ada Kaitannya dengan Partai

KRICOM – Foto pertemuan antara politikus PDI Perjuangan Erwin Moeslimim Singajuru dengan Imam Besar Umat Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab di Tanah Suci Mekah tiba-tiba menghebohkan jagad dunia maya, Selasa (22/4/2018).

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, pertemuan antara kedua tokoh itu merupakan kegiatan pribadi yang dilakukan oleh Erwin. Menurutnya, anak buah Megawati Soekarnoputri itu hanya menjalin silaturahmi dengan Habib Rizieq.

“Itu personal, namanya umrah. Ketemunya juga personal,” ungkap Hasto di DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2018).

Hasto menegaskan, pertemuan itu tidak bermuatan kepentingan politik. Sehingga pertemuan itu dianggap menjadi hal biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan.

“Tidak ada kaitannya dengan partai,” kata Hasto yang mengenakan kemeja merah ini.

Sementara itu Hasto juga tidak mau ambil pusing terhadap pertemuan Erwin dengan Habib Rizieq. Dia juga mengaku tidak resah jika nantinya perjumpaan itu menimbulkan opini negatif terhadap PDIP. Karena dirinya menyakini jika Erwin hanya melakukan pertemuan biasa.

“Kita enggak pernah takut, kita enggak boleh ikut pemilu dulu juga enggak takut,” pungkas Hasto.

Lanjut ..

Amien Rais: Mustahil Poros Ketiga akan Terbentuk, Ini Penjelasannya

KRICOM – Terbentuknya koalisi untuk Pilpres 2019 semakin terlihat. Sebut saja dua poros yang sudah terbentuk di antaranya Poros PDIP dengan koalisinya Partai Golkar, Hanura, Nasdem, PPP, serta poros kedua yang beranggotakan Partai Gerindra, PAN, dan PKS.

Sedangkan beberapa partai seperti Demokrat belum menentukan sikap akan bergabung ke poros mana atau disebut-sebut akan membentuk poros baru alias poros ketiga.

Menanggapi hal ini Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais menyebut poros ketiga mustahil terbentuk.

“Jadi sekarang gambarannya Pak Jokowi didukung oleh PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura dan lain-lain. Ketika kemudian ada yang bilang siapa tahu ada poros ketiga, itu hampir mustahil ya,” ujar Amien di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2018).

Menurutnya, hal ini dikarenakan partai yang mendapat 20 persen kursi di DPR rata-rata telah bergabung dengan poros PDIP maupun poros Gerindra, maka sulit untuk mengadakan pembentukan poros ketiga.

“Alasannya yang nomplok di Pak Jokowi sudah setengah partai, tinggal berapa partai yang belum. (Yang lainnya) Gerindra, PAN, PKS. Tetapi sepertinya belum tau sekarang,” sambungnya.

“Nah kalau misalnya ada 1 partai kan harus 20 persen. Jadi wacana poros ketiga itu tidak ada. Saya bisa keliru tapi menurut saya akhirnya hanya 2 partai (atau poros),” tutup pria yang disebut tokoh reformasi ini.

Lanjut ..

Polisi Buru Pemasok Narkoba ke Pria yang Buat Onar di Diskotek Old City

KRICOM – Penyidik Polsek Tambora masih memburu pemasok narkoba kepada Frenky Bata (37), pengunjung Diskotek Old City, yang menjadi tersangka kasus narkoba usai membuat onar di tempat hiburan malam tersebut.

Kapolsek Tambora Kompol Iver Manossoh mengatakan, penyidik telah mengantongi identitas pemasok narkoba.

“Masih ada pelaku lagi, yaitu yang memberikan dia sabu-sabu dan ineks itu. Nah temennya ini belum bisa saya sebut karena masih dalam pengembamgan,” kata Iver, Selasa (24/4/2018).

“Jadi barang itu dari temennya di luar Old City. Dua-duanya (ekstasi dan sabu) dari temennya tapi ineksnya dipakai di dalam (Diskotek Old City) untuk sabu pakainya di luar sama temennya itu,” ujarnya.

Kendati demikian, penyidik belum mengetahui sudah berapa lama tersangka mengonsumsi narkoba.

“Itu masih kami kembangkan,” jelasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Frenky Bata diamankan petugas keamanan di Jalan Kali Besar Barat, Roa Malaka, Tambora, Jakarta Barat, Senin (23/4/2018) dinihari. Ia diduga terlibat keributan bersama tiga temannya, yang kini buron.

Lanjut ..

Anies Pastikan Harga Sembako di Bulan Ramadhan dan Idul Fitri Stabil

KRICOM – Menjelang bulan Ramadhan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memastikan penyediaan suplai kebutuhan akan aman dan terjamin di bulan suci tersebut.

“Kami ingin pastikan suplai kebutuhan pokok di Jakarta terjamin, aman sampai Idul Fitri,” ucap Anies di Balai Kota Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2018).

Untuk itu, Pemprov menggandeng TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) untuk menyampaikan analisis mengenai suplai kebutuhan pokok di ibu kota menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri tahun ini.

Berdasarkan analisis menyeluruh TPID Provinsi DKI Jakarta, pada triwulan I 2018 inflasi Jakarta masih sangat terkendali, yakni tercatat sebesar 3,23 persen, lebih rendah dari inflasi nasional yang mencapai 3,40 persen.

Meskipun inflasi Jakarta masih terkendali, menurut Anies, beberapa harga bahan pokok masih perlu mendapat perhatian. Maka peran dari SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) pangan Provinsi DKI Jakarta sangat diperlukan.

“SKPD akan berperan memberikan potret demand (permintaan) di Jakarta, BUMD memastikan suplainya berjalan dengan baik antara lain dengan manajemen stok dan meningkatkan potensi perdagangan antar daerah,” papar Anies.

Ia berharap dengan adanya pemantauan demand yang baik dari SKPD dan penyediaan suplai yang diimbangi BUMD, maka akan tercipta stabilitas harga yang menyeluruh di Jakarta.

“Harapannya harga akan bisa terkendali dengan baik, ada catatan khusus kita inginkan stabilitas harga ada di seluruh Jakarta termasuk di Kepulauan Seribu. Karena tugas utama kami adalah memastikan pasokan kebutuhan pokok terjamin dengan baik untuk warga Jakarta, apabila itu dilakukan maka tidak akan terjadi gejolak kenaikan harga,” tandas mantan Mendikbud ini.

Lanjut ..

Miris, Dua Pemuda Penerus Bangsa Jadi Pengedar Narkoba

KRICOM – Sungguh miris yang dilakukan oleh dua pemuda ini, yaitu Faizal (26) dan Yowan Fahmi (26). Bukannya membangun bangsa dengan langkah yang positif, malah sebaliknya, yakni menjadi pengedar narkoba.

Kini, keduanya telah ditangkap oleh petugas Polsek Kalideres di Jalan Kumbang, Pegadungan, Kalideres, Jakarta Barat.

Kapolsek Kalderes Kompol Effendi mengatakan, kedua pelaku tidak berkutik ketika dilakukan penangkapan.

“Sudah kami lakukan penahanan terhadap yang bersangkutan,” kata Effendi, Selasa (24/4/2018).

Effendi menuturkan, peristiwa bermula ketika penyidik menerima informasi dari warga yang merasa resah dengan adanya dua pelaku yang mengedarkan narkoba jenis ganja, sabu dan pil ekstasi.

“Dari tangan Faizal kami menyita barang bukti paket ganja kering seberat 126 gram dan satu unit ponsel,” jelasnya.

Penyidik kemudian melakukan penggeledahan terhadap Yowan dan menyita barang bukti 10 paket sabu dengan berat 203,7 gram serta satu kaleng rokok berisi 28,68 gram ganja.

“Kami juga menyita barang bukti pil ekstasi sebanyak 130 butir,” ungkapnya.

Mantan Kapolsek Tangerang ini mengatakan, pihaknya masih mengembangan kasus ini untuk mencari tahu dari mana barang haram tersebut didapat.

“Kami masih mengembangan terus kasus ini,” tutupnya.

Akibatnya, kedua pelaku dijerat dengan Pasal 114 ayat 2 subsider Pasal 112 ayat 2 dan Pasal 111 ayat 1 juncto Pasal 132 ayat 1 UU Nomor 35/ 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman penjara maksimal 14 tahun.

Lanjut ..

Pengamat: Tagar Ganti Presiden adalah Bukti Oposisi Tak Punya Konsep

KRICOM – Munculnya gerakan #GantiPresiden2019 dinilai banyak kalangan karena partai oposisi tak mampu menghasilkan gagasan dan kritikan yang baik. Apalagi, kebanyakan dari mereka hanya mengeluarkan ungkapan nyinyir belaka.

Pengamat politik Ray Rangkuti menilai, seharusnya oposisi mampu memberikan kritikan yang lebih menohok lagi.

“Kritik yang lebih kekinian dan diterima publik. Dan isunya juga harus dipakai,” kata Ray kepada Kricom di Jakarta, Selasa (24/4/2018).

Ray melanjutkan, tagar ini sepertinya ingin mencari figur lain di luar Prabowo Subianto. Sepertinya, mereka mulai kecewa dengan rendahnya elektabilitas Ketua Umum Gerindra itu.

“Mereka ingin mencari figur lain di luar Prabowo,” papar Direktur Lingkar Madani Indonesia ini.

Selain itu, alasan tagar ini tak bakal laku karena publik membutuhkan kritik yang lugas, bernas, dan hanya tak hit and run saja.

“Jadi harus dijelaskan. Seperti yang dilakukan oleh Pak Amien Rais itu soal bagi-bagi sertifikat tanah. Itu bagus, tapi ketika dikejar oleh publik, oposisi tak mampu memberikan argumen yang memadai untuk melawannya,” tutupnya.

 
Lanjut ..