China Beri Pinjaman dan Hibah $3,5 Miliar ke Pakistan

China menjanjikan sekitar $3,5 miliar untuk membantu meningkatkan cadangan kas asing Pakistan dan membayar rencana pembangunan sosial-ekonomi yang dijalankan pemerintahan baru negara itu.

Beijing akan segera menyetor $2,5 miliar ke Bank Negara Pakistan, menaikkan jumlah dana pinjaman otomotif menjadi $4,5 miliar pada tahun finansial ini, kata para pejabat dan sumber-sumber diplomatik.

Para pejabat mengatakan pemerintah China juga telah menjanjikan hibah sebesar $1 miliar untuk pendidikan, kesehatan, pelatihan vokasional, air minum dan proyek-proyek pengentasan kemiskinan dalam tiga tahun ke depan.

Menteri Perencanaan, Pembangunan dan Reformasi Makhdum Khusro Bakhtyar mengatakan para pakar China akan tiba di Islamabad bulan ini untuk mengoordinasi pembangunan sosial-ekonomi dengan hibah yang dijanjikan itu. [vm]

 

Lanjut ..

PM Modi Peringatkan ‘Pembalasan’ atas Serangan terhadap Paramiliter India di Kashmir

Perdana menteri India Narendra Modi memperingatkan tentang ‘pembalasan yang menghancurkan’ atas peledakan bom bunuh diri terhadap konvoi para militer India di Kashmir-India yang menewaskan 41 orang. Itulah serangan paling mematikan dalam sejarah wilayah yang terbagi dua dan rawan itu.

Ia sepenuhnya menyalahkan Pakistan atas serangan hari Kamis karena menuduh tetangganya itu mendukung pemberontak di Kashmir.

Hari Jumat (15/2), Modi mengatakan ‘tetangga India merasa serangan demikian akan melemahkan India, tetapi harapan mereka tidak akan terwujud’. Ia menambahkan militer India telah diberi kebebasan penuh untuk menangani militan itu.

Partai yang memerintah di Pakistan menolak tuduhan Modi dengan mengatakan partai yang berkuasa di India menyalahkan Pakistan untuk mendapat manfaat politik dalam pemilihan nasional akan datang di India. (al)

Lanjut ..

Myanmar Hukum Mati 2 Terdakwa Pembunuh Penasihat Suu Kyi

Sebuah pengadilan Myanmar telah menjatuhkan hukuman mati terhadap dua terdakwa karena membunuh seorang pengacara Muslim ternama yang juga penasehat pemimpin de facto, Aung San Suu Kyi.

Pengadilan di Yangon, Jumat (15/2), mendapati tersangka pria bernama Kyi Lin bersalah melakukan pembunuhan terencana dan memiliki senjata terkait kematian Ko Ni di bandara Yangon 29 Januari 2017.

Seorang kaki tangannya yang terlibat dalam perencanaan pembunuhan itu juga dihukum mati atas tuduhan yang sama.

Pengadilan itu juga menjatuhkan hukuman penjara terhadap dua terdakwa lain – keduanya militer — yang terlibat dalam kejahatan itu. Orang kelima, juga memiliki hubungan dengan militer, yang diduga mendalangi kejahatan tersebut masih buron.

Ko Ni ditembak bagian belakang kepalanya saat menunggu taksi dengan cucu yang masih bayi berada dalam genggamannya.

Ia merupakan pengecam keras konstutitusi yang diberlakukan militer yang mencegah Aung San Suu Kyi menjadi presiden. Partai Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi, menyebut pembunuhan Ni sebagai tindakan teroris yang dirancang untuk melemahkan kebijakan-kebijakan mereka.

Konsiutusi yang diberlakukan bekas junta Myanmar memberi militer kewenangan luas karena menetapkan bahwa seperempat jumlah kursi di parlemen diperuntukan bagi mereka. [ab]

Lanjut ..

Kemajuan dalam Pembicaraan Perdagangan AS-China

Pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat dan China yang diadakan minggu ini di Beijing membawa “kemajuan” antara kedua pihak. Demikian dikatakan oleh Gedung Putih, Jumat (15/2) yang memberikan konfirmasi dialog akan berlanjut di Washington minggu depan.

Sebuah pernyataan dari kantor pers Gedung Putih mengatakan, “diskusi yang terperinci dan intensif ini menghasilkan kemajuan di antara kedua pihak.”

“Namun, masih banyak pekerjaan yang tercecer. Kedua pihak akan terus bekerja sama untuk semua masalah yang masih dihadapi sebelum tanggal 1 Maret 2019, batas waktu untuk kenaikan tarif 10 persen terhadap barang-barang impor dari China,” tambahnya. [lt]

Lanjut ..

Pemboman Maut di Kashmir, Sedikitnya 41 Personel Keamanan Tewas

Berbicara hari Jumat (15/2) tentang pemboman menggunakan mobil di Kashmir India, Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan, “teroris dan pendukung mereka telah melakukan kesalahan besar dan akan membayarnya dengan harga yang mahal.”

Sedikitnya 41 tentara paramiliter tewas di Kashmir India, Kamis (14/2) ketika seorang pembom menabrakkan kendaraan yang sarat dengan bahan peledak ke konvoi aparat keamanan.

Serangan itu, yang memakan korban paling banyak yang menarget personel keamanan di Kashmir, terjadi ketika 70 kendaraan berkonvoi di jalan raya utama dekat ibu kota Kashmir, Srinagar.

Serangan itu telah meningkatkan ketegangan antara India dan musuh utamanya, Pakistan yang oleh New Delhi dituduh melindungi dan mendukung militan yang melakukan kekerasan di Kashmir.

Pakistan mengutuk serangan itu dan menganggapnya sebagai masalah serius serta meminta India untuk menyelidikinya sebelum menuduh Islamabad.

Jaish-e-Mohammad, yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke kantor berita setempat, mengatakan seorang anggotanya yang direkrut dari daerah kejadian telah melakukan pemboman bunuh diri itu. [lt]

Lanjut ..

Bom Bunuh Diri di Kashmir Tewaskan 40 Personel Keamanan

Setidaknya 40 anggota para militer tewas ketika seorang pengebom bunuh diri menabrakkan kendaraan bermuatan bahan peledak ke arah satu konvoi militer di Kashmir-India, Kamis (14/2).

Serangan itu adalah serangan terhadap petugas keamanan yang paling mematikan di Kashmir, saat konvoi 70 kendaraan sedang melintas di sebuah jalan raya dekat ibu kota musim panas, Srinagar.

Peristiwa itu kemungkinan akan meningkatkan ketegangan dengan Pakistan, musuh bebuyutan India. New Delhi menuduh Pakistan melindungi dan mendukung militan yang melancarkan kekerasan di Kashmir.

Beberapa jam setelah peristiwa itu, India menuduh serangan itu dilancarkan oleh kelompok Islamis Jaish-e-Mohammad yang berbasis di Pakistan.

Kelompok tersebut mengaku bertanggung jawab atas serangan itu dalam pernyataan yang dikirim ke kantor berita setempat, dan mengatakan serangan dilakukan oleh seorang pejuang setempat.

Perdana Menteri India Narendra Modi menyebut serangan itu “keji”. Ia mencuit, “saya mengutuk sekeras-kerasnya serangan pengecut ini. Pengorbanan aparat keamanan kita tidak akan sia-sia.” [al]

Lanjut ..