Isu Nuklir Korut Bayangi Kunjungan Menhan Jepang ke Pentagon

Perundingan yang macet untuk melucuti program nuklir Korea Utara membayangi pembicaraan tingkat tinggi antara AS dan Jepang.

Hanya sehari setelah Korea Utara meminta Menteri Luar Negeri Mike Pompeo untuk dicopot dari jabatannya sebagai perunding utama Presiden Donald Trump, Pompeo dan penjabat Menteri Pertahanan Patrick Shanahan hari Jumat bertemu di Departemen Luar Negeri dengan mitranya dari Jepang untuk merencanakan langkah ke depan.

Menteri Pertahanan Jepang Takeshi Iwaya kemudian bertemu dengan Shanahan di Pentagon.

“Kami percaya pada kata-kata Presiden Trump bahwa ia akan terus melakukan pembicaraan konstruktif dengan Korea Utara dan kita juga akan bekerja sama, langkah demi langkah, sehingga kita bisa mencapai denuklirisasi lengkap Korea Utara,” kata Takeshi Iwaya.

Pejabat AS mengatakan mereka tetap terbuka untuk melanjutkan perundingan dengan Korea Utara, tetapi Pompeo belum bereaksi terhadap permintaan Korea Utara, yang disusul dengan uji coba misil taktis baru.

Pembicaraan nuklir itu menemui jalan buntu sejak KTT kedua Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, gagal mencapai kesepakatan di Vietnam pada akhir Februari.(my)

Lanjut ..

Karzai: Perdamaian Mungkin Terwujud apabila Warga Afghanistan Duduk Bersama

Mantan presiden Afghanistan Hamid Karzai menyatakan ia sedih karena dibatalkannya pembicaraan meluas dengan Taliban. Ia menekankan bahwa perdamaian tidak akan mungkin terwujud di tanah airnya, yang telah lebih dari 17 tahun dilanda perang, sebelum warga Afghanistan dari berbagai lapisan masyarakat duduk bersama dan berunding.

Karzai berbicara kepada kantor berita Associated Press sehari setelah tuan rumah Qatar mengumumkan pertemuan yang telah dijadwalkan untuk pembicaraan antara kelompok-kelompok Afghanistan, ditangguhkan tanpa batas setelah perselisihan mengenai siapa yang seharusnya menghadiri pertemuan tersebut.

Pembicaraan itu seharusnya dimulai hari Jumat (19/4) di Qatar, di mana Taliban memiliki kantor di sana. Pertemuan ini akan menandai untuk pertama kalinya Taliban dan para pejabat pemerintah Kabul duduk bersama.Meskipun Karzai tidak menyalahkan pihak tertentu atas pembatalan itu, ia mendesak Amerika Serikat agar “memberi dorongan untuk membuat pembicaraan itu terselenggara.” [uh]

Lanjut ..

Pernyataan Pimpinan Alibaba Picu Debat tentang Jam Kerja di China

Taipan e-commerce China Jack Ma telah lama menjadi contoh mengenai bagaimana kekuatan bermimpi besar, kepemimpinan yang kuat dan kerja keras dapat menciptakan kekayaan luar biasa besar dalam ekonomi China.

Namun pernyataan yang baru-baru ini dilontarkan oleh pimpinan raksasa bisnis online China Alibaba itu, bahwa generasi muda harus siap bekerja 12 jam per hari, enam hari per minggu, telah memicu perdebatan publik mengenai keseimbangan kerja dan hidup di negara itu.

Ma adalah salah satu orang terkaya di China. Pernyataannya itu mengundang kecaman dan juga dukungan, sementara ekonomi China memasuki masa pertumbuhan yang lebih lambat, dan orang-orang muda tidak ingin menjalani pekerjaan membosankan yang kerap dialami orang tua mereka.

Surat kabar People’s Daily yang menjadi corong Partai Komunis yang berkuasa mengeluarkan tajuknya pekan ini yang menyebutkan kerja lembur wajib mencerminkan keangkuhan manajerial serta “tidak praktis dan tidak adil” bagi para pekerja. Keluhan yang muncul di internet mencakup kecaman terhadap jam kerja yang panjang yang disebut menyebabkan rendahnya tingkat kelahiran.

 Kekhawatiran perusahaan-perusahaan dapat dimengerti tetapi cara menghilangkan kekhawatiran itu adalah tidak membuat para pegawai bekerja lembur sebanyak mungkin, sebut People’s Daily. [uh]

Lanjut ..

Laporkan Pelecehan Seksual Guru, Siswi Bangladesh Tewas Dibakar

Seorang siswi di Bangladesh dibakar hingga meninggal atas perintah kepala sekolahnya setelah sang siswi melaporkan kepala sekolah itu atas pelecehan seksual yang dilakukan terhadapnya, kantor berita AFP melaporkan, Jumat (19/4).

Kematian Nusrat Jahan Rafi yang berusia 19 tahun pada pekan lalu memicu protes di seluruh Bangladesh. Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina bahkan berjanji akan mengadili semua pihak yang terlibat.

Rafi diajak naik ke loteng sebuah pesantren tempat dia belajar. Di loteng tersebut, para pelaku penyerangan meminta Rafi untuk menarik pengaduan mengenai pelecehan seksual yang sudah disampaikan kepada polisi.

Ketika dia menolak, dia disiram dengan minyak tanah dan dibakar.

Polisi mengatakan, Jumat (19/4), satu dari 17 tersangka yang ditangkap terkait dengan kematian Rafi, menuduh kepala sekolah yang memerintahkan penyerangan tersebut.

Kepala sekolah itu “mengatakan kepada tersangka untuk menekan Rafi agar menarik pengaduan atau membunuhnya bila dia menolak,” kata Kepala Polisi Mohammad Iqbal, yang memimpin penyelidikan kepada kantor berita AFP.

Akhir Maret lalu, Rafi mengadukan ke polisi tentang pelecehan seksual yang dialaminya. Sebuah rekaman video yang dibocorkan menunjukkan kepala kantor polisi mencatat pengaduannya, namun mengatakan “itu bukan masalah besar.”

Iqbal mengatakan setidanya lima dari sejumlah tersangka sudah ditahan termasuk tiga teman sekelas Rafi yang mengikat tangannya sebelum kemudian membakarnya.

“Rencananya insiden itu dibuat seperti uapaya bunuh diri. Tapi gagal setelah Rafi berhasil turun dari loteng dengan badan terbakar. Karena selendang yang dipakai untuk mengikat ikut terbakar, dia bisa membebaskan ikatan pada tangan dan kakinya,” kata Iqbal.

Rafi menderita luka bakar hingga 80 persen dan meninggal di rumah sakit pada 10 April.

Tapi dia sempat merekam video sebelum kematiannya. Dalam rekaman tersebut, dia mengulangi tuduhan terhadap kepala sekolah.

“Dia menyentuh saya, Saya akan memerangi kejahatan ini hingga nafas terakhir,” katanya. Rafi juga mengungkap identitas beberapa penyerangnya.

Kelompok hak-hak asasi manusia mengatakan kasus-kasus pemerkosaan dan penyerangan seksual meningkat di Bangladesh karena pihak berwenang gagal melakukan penuntutan hukum kepada para penyerang. [ft]

Lanjut ..

Pakistan: Peningkatan Konflik Bisa Gagalkan Upaya Perdamaian di Afghanistan

Pakistan hari Kamis (18/4) memperingatkan bahwa peningkatan konflik bisa menggagalkan usaha perdamaian pimpinan Amerika di Afghanistan, tapi tidak mengutuk permulaan serangan musim semi yang dilancarkan Taliban di Afghanistan.

Taliban mengumumkan musim serangan baru Jumat lalu di tengah harapan akan tercapainya perundingan langsung dengan Amerika. Perundingan dengan Amerika itu tadinya diharapkan akan mencegah serangan Taliban yang biasa dimulai pada musim semi, dalam perang yang telah memasuki tahun ke-18.

Perunding utama Amerika Zalmay Khalilzad dengan cepat mengutuk serangan itu, karena katanya tidak akan mendorong perundingan damai. Ia juga menyerukan kepada Pakistan, Qatar, Rusia, China dan Iran supaya melakukan hal yang sama.

Juru bicara Kementerian LN Pakistan, Mohammed Faisal mengatakan prospek perdamaian di Afghanistan tampak semakin cerah setelah diadakannya perundingan langsung antara Amerika dan Taliban.

Pakistan sejak lama mengatakan bahwa penggunaan kekuatan militer untuk melawan Taliban, atau usaha memperlakukan kelompok itu sebagai “bukan entitas Afghanistan” tidak akan membantu penyelesaian damai. (ii)

Lanjut ..