Penangkapan petinggi Huawei di Kanada picu pelemahan rupiah

Iqbal Musyaffa

JAKARTA

Bank Indonesia menyebut nilai tukar rupiah yang kembali melemah salah satunya disebabkan penangkapan petinggi Huawei di Kanada karena tuduhan melanggar sanksi yang diberikan AS kepada Iran.

Huawei dianggap telah mengirimkan teknologi asal AS ke Iran.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan insiden tersebut mencerminkan perang dagang yang belum mereda.

“Saat pelemahan kurs dolar pada minggu lalu, ada harapan bahwa perang dagang AS dan China mereda setelah pertemuan G20. Tapi ternyata belum,” ungkap Mirza setelah shalat Jumat.

Pelemahan nilai tukar rupiah pada minggu ini menurut Mirza, juga terjadi secara global akibat perang dagang tersebut. Bahkan, Mirza mengkhawatirkan kondisi ini akan memperlambat ekonomi dunia.

“Bank sentral China juga merespons dengan melakukan depresiasi kurs yuan sehingga membuat depresiasi kurs di negara emerging market,” jelas Mirza.

Pelemahan kurs dalam tiga hari terakhir, menurut dia, juga akibat penjualan saham di pasar global.

Aksi ini karena adanya perlambatan perekonomian di AS dan akan terjadinya perlambatan pertumbuhan laba perusahaan.

“Akibatnya, pasar saham bereaksi dengan penjualan saham ini yang juga menular ke negara emerging market termasuk Indonesia sehingga terjadi outflow di pasar saham,” urai dia.

BI juga melihat ada tanda-tanda perlambatan ekonomi di AS yang tercermin dari penurunan kurva surat utang AS. Kondisi itu, menurut Mirza, menunjukkan bahwa akan terjadi perlambatan pertumbuhan sehingga pasar bereaksi lebih awal.

“Jadi itu yang kira-kira kita lihat kenapa terjadi pelemahan kurs di emerging market termasuk Indonesia karena fenomena global ini, setelah sempat terjadi penguatan,” tutur Mirza.

Meski begitu, Mirza melihat fenomena penjualan saham di negara maju yang berdampak pada emerging market hanya bersifat temporer.

Pada 2019 mendatang saat ekonomi AS melambat, Mirza memprediksi arus modal akan kembali masuk ke emerging market termasuk Indonesia. Kurs rupiah juga akan lebih baik dan stabil pada 2019.

Pelemahan kurs rupiah saat ini, menurut dia, lebih besar dibandingkan negara lainnya karena ekspor barang dan jasa yang masih defisit sehingga pasar bereaksi lebih banyak.

“Maka dari itu, kita jangan terlena penguatan rupiah pada minggu lalu,” imbau Mirza.

Indonesia, menurut dia, harus bisa menyelesaikan masalah defisit transaksi berjalan. Oleh karena itu, BI bersama pemerintah terus mendorong ekspor dan pariwisata, serta mengendalikan impor-impor yang tidak perlu.


Original Source

Related posts

Leave a Comment