Polisi: Senjata milik KKSB berasal dari perbatasan Papua Nugini

Erric Permana

JAKARTA

Kepolisian meyakini Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) yang melakukan pembunuhan 19 pekerjaTrans Papua mendapatkan senjata dari jalur perbatasan Papua Nugini.

Hal ini disampaikan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian usai mendampingi Presiden RI Joko Widodo memberikan keterangan pers mengenai Papua pada Rabu.

Menurut Tito, kelompok tersebut mendapatkan senjata dari oknum di perbatasan jalur ilegal.

Kapolri pun mengaku anggotanya pernah menangkap oknum tersebut.

“Saya tidak mengatakan dari pemerintah ya. Tapi dari jalur ilegal oknum oknum di perbatasan Papua Nugini,” ujar Tito.

Selain mendapatkan senjata dari jalur perbatasan, kelompok tersebut kata Tito, mendapatkan senjata dari bekas konflik di Ambon yang pernah terjadi puluhan tahun lalu.

“Dulu banyak senjata beredar di situ. Gudang Brimob saja dijebol,” tambah dia.

TIto juga menyatakan bahwa ada juga senjata yang merupakan hasil rampasan milik anggotanya yang lengah.

Senjata seludupan

Senada dengan Kapolri, Kepala Staf Kantor Presiden, Moeldoko menyebut senjata tersebut berasal dari penyelundupan.

Dia memastikan tidak ada negara lain yang terlibat dalam memberikan senjata-senjata itu.

Setidaknya 19 orang pekerja Trans Papua tewas setelah dibunuh oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.

Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi memberikan kronologi pembunuhan tersebut berdasarkan keterangan saksi yang selamat.

“Pembunuhan tersebut bermula pada 1 Desember 2018,” kata Aidi melalui keterangan persnya, Rabu.

Saat itu kata Aidi seluruh karyawan PT. Istaka Karya memutuskan untuk tidak bekerja karena adanya upacara peringatan 1 Desember yang diklaim sebagai hari kemerdekaan KKSB dan dimeriahkan dengan upacara bakar batu bersama masyarakat.

“Sekitar pukul tiga sore kelompok KKSB mendatangi Kamp PT. Istaka Karya dan memaksa seluruh karyawan sejumlah 25 orang keluar, digiring menuju Sungai Karunggame dalam kondisi tangan terikat dikawal sekitar 50 orang KKSB bersenjata campuran standar militer,” ujar Aidi.

Pada Minggu 2 Desember 2018 pukul tujuh pagi, seluruh pekerja kembali dibawa berjalan kaki dalam keadaan tangan terikat menuju bukit puncak Kabo.

Di tengah jalan mereka dipaksa berbaris dengan formasi 5 barisan dalam keadaan jalan jongkok.

“Tidak lama kemudian para KKSB dalam suasana kegirangan menari-nari sambil meneriakkan suara hutan khas pedalaman Papua. Kemudian mereka secara sadis menembaki para pekerja. Sebagian pekerja tertembak mati di tempat sebagian lagi pura-pura mati terkapar di tanah,” kata Aidi.

Setelah itu anggota KKSB meninggalkan para korban melanjutkan perjalanan menuju bukit Puncak Kabo. Sementara 11 orang pekerja yang pura-pura mati berusaha bangkit kembali dan melarikan diri.

Sayangnya aksi mereka terlihat oleh anggota KKSB sehingga mereka melakukan pengejaran.

Saat itu lima orang pekerja kembali tertangkap dan dibunuh menggunakan senjata tajam.

” Ada enam orang berhasil melarikan diri ke arah Mbua. Dua orang di antaranya belum ditemukan sedangkan empat orang selamat setelah diamankan oleh anggota TNI di Pos Yonif 755/Yalet di Mbua,” kata Aidi.


Related posts

Leave a Comment