13-1-1982: Pahlawan Misterius dalam Kecelakaan Pesawat Air Florida

Liputan6.com, Washington DC – Pada 13 Januari 1982, di tengah badai salju, pesawat Air Florida Penerbangan 90 menghantam jembatan 14th Street Bridge, menabrak tujuh kendaraan yang ada di sana, sebelum akhirnya jatuh ke Sungai Potomac yang permukaannya dilapisi es beku.

Kecelakaan yang menimpa Boeing 737-222 dengan kode register N62AF itu hanya berjarak 2 mil atau 3,2 kilometer dari Gedung Putih.

Baca Juga

Lion Air JT 610 Jatuh Disebut Kecelakaan Pesawat Terburuk Tahun 20182 ‘Orang Biasa ‘Ini Berjasa Mencegah Terjadinya Perang Dunia III15 Tahun Lagi, 40 Persen Pekerjaan di Dunia Digantikan oleh Kecerdasan Buatan

Mereka yang menyaksikan kecelakaan maut tersebut berpikir, tak mungkin ada yang selamat. Sebanyak 74 penumpang dan lima awak pesawat pasti tewas di dalam bangkai baja yang perlahan menghilang ke dalam air.

Namun, satu demi satu, enam penyintas muncul ke permukaan. Nyaris putus asa, mereka berpegangan ke ekor pesawat agar bisa mengambang.

Seperti dikutip dari NBC News, Sabtu (12/1/2019), tak mudah untuk bertahan hidup. Mereka harus susah payah berenang, melewati sahabat, teman duduk, bahkan pasangan yang sudah jadi mendiang. Dan, jika tak segera dievakuasi, para penyintas sadar benar, mereka akan segera tenggelam dan bergabung dengan para korban yang terperangkap dalam bangkai pesawat.

Enam orang itu jauh dari sehat. Ada yang retak tangan, kaki, atau keduanya. Tangan mereka yang beku mencengkeram ekor pesawat yang licin.

“Tolong kami,” mereka berteriak. “Kami akan mati di sini.”

Kala itu, mereka berada hanya beberapa meter dari pesisir Virginia. Namun, sekeliling mereka dipenuhi es tebal yang lancip.

Mengirim kapal penyelamat ke lokasi para korban sama saja bunuh diri. Sementara, mengirimkan helikopter di tengah badai justru bisa membuatnya jatuh.

Ada yang mencoba menggunakan truk pemadam kebakaran, mengulurkan tangga yang ada di sana. Cara itu tak berhasil. Seseorang mencoba turun, berjalan di atas es, dan mengulurkan tali tambang yang dibawanya. Tapi, ia tak bisa mendekat dan nyaris pingsan saat ditarik balik.

Dua puluh menit setelah kecelakaan, matahari mulai tenggelam, namun tak ada yang bisa lokasi kecelakaan pesawat. Peluang para penyintas untuk selamat kian menipis. Harapan mereka nyaris pupus.

Tiba-tiba, bak keajaiban, sebuah helikopter penyelamat muncul di langit yang mulai gelap, menjatuhkan pelampung dekat seorang penyintas, lalu tak lama kemudian mengangkatnya dari air.

Pria berikutnya yang menerima pelampung itu menyerahkannya kepada yang lain, seorang perempuan.

Helikopter kemudian mengangkat perempuan ke tempat yang aman, lalu berbalik.

Saat pelampung jatuh di dekatnya, pria yang sama memberikannya ke orang lain. Lagi dan lagi.

Pria misterius tersebut terus menyerahkan pelampung ke orang lain, meski ia tahu benar, itu mungkin kesempatan terakhirnya untuk bertahan hidup.

Benar saja, saat helikopter kembali untuk mengangkat penyintas terakhir, mereka tak menemukan seorang pun di sana. Pria itu lenyap di bawah es.

Orang-orang itu bertanya-tanya, siapa gerangan sosok pahlawan misterius itu? Dan mengapa ia mengorbankan nyawanya untuk orang lain?

Apalagi, dia bahkan tidak bisa melihat wajah orang-orang yang dia selamatkan, karena mereka berada di sisi berlawanan dari puing pesawat.

Original Source

Related posts

Leave a Comment