160 Muslim Dibantai, Pemerintah Mali Mengundurkan Diri

BAMAKO – Perdana Menteri Mali dan seluruh pemerintahannya mengundurkan diri. Langkah ini diambil empat minggu setelah sekitar 160 etnis Muslim Fulani oleh sejumlah pria menyamar sebagai pemburu.

“Presiden menerima pengunduran diri perdana menteri dan anggota pemerintah,” bunyi pernyataan dari kantor Presiden Ibrahim Boubacar Keita seperti dikutip dari VOA, Jumat (19/4/2019).

Tidak ada alasan atas pengunduran diri Perdana Menteri Soumeylou Boubeye Maiga, tetapi para legislator telah membahas tentang kemungkinan mosi tidak percaya pada pemerintah karena pembantaian dan kegagalan melucuti milisi atau memukul mundur militan Islam.

Baca Juga:Kagumi Kepemimpinan Indonesia, Mali Ingin Tingkatkan Kerja Sama dengan RIKelompok Militan Serang Kamp Tentara Mali, 14 TewasNunggu Hasil Quick Count, Lakukan Kegiatan ini, Dijamin Untung!

Pembunuhan 23 Maret lalu oleh para pemburu yang dicurigai sebagai pemburu dari komunitas Dogon di Ogossagou, sebuah desa di Mali tengah yang dihuni oleh etnis suku penggembala Fulani, adalah pembantaian berdarah bahkan dalam standar kekerasan Mali yang terus memburuk.

Serangan ini balasan atas serangan mematikan lainnya oleh kelompok afiliasi al-Qaeda di sebuah pos tentara yang menewaskan sedikitnya 23 tentara, juga di wilayah tengah Mali. Banyak etnis Fulani yang berada di barisan kelompok afiliasi al-Qaeda itu.

Pihak berwenang Mali telah menahan lima orang yang dicurigai ikut serta dalam pembantaian itu. Tetapi mereka belum berhasil melucuti senjata milisi yang diyakini banyak orang melakukannya, meskipun Maiga dan Keita berjanji untuk melakukannya.

Sebagian besar negara wilayah Gurun Sahara telah berada dalam kekacauan sejak pemberontakan kelompok Tuareg dan sekutu ekstrimis mengambil alih setengah negara pada tahun 2012. Ini mendorong Prancis untuk campur tangan untuk mengusir mereka kembali pada tahun berikutnya.

(ian)

Original Source

Related posts

Leave a Comment