90 Persen Penderita Kanker Paru Punya Riwayat Perokok

Rata-rata perokok tembakau ini terdeteksi menderita kanker paru ketika stadium empat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) mencatat 90 persen orang yang menderita kanker paru punya riwayat merokok.

“Sebanyak 90 persen penderita kanker paru punya riwayat perokok dan ia merokok menggunakan rokok tembakau,” kata anggota Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) Feni Fitriani Taufik saat diskusi media bertema Bagaimana Mengatasi Darurat Asap Rokok di Indonesia? Apa Benar Produk Tembakau Alternatif Lebih Rendah Risiko? Jumat (20/4).

Ia mengakui, dalam sebatang rokok terdapat sedikitnya sekitar 4.000 racun karsinogenik, termasuk tar. Tar merupakan hasil dari pembakaran yang berisi bahan-bahan karsinogenik.

Ia menyebutkan jika ada sekelompok DNA yang tidak mampu diperbaiki tubuh manusia maka itulah yang berkembang menjadi sel kanker. Ia menyebutkan, rata-rata perokok tembakau ini terdeteksi menderita penyakit mematikan itu ketika sudah memasuki stadium akhir, yaitu stadium empat.

Pada kondisi tersebut, angka harapan hidup hanya 50 persen. Kalaupun tidak menyerang paru, rokok menyerang yang terkait pernapasan seperti laring dan faring. Ia menyebut penderita kanker ini beragam, laki-laki, perempuan, hingga anak-anak.

“Ternyata anak-anak usia dini penderita kanker paru ini menjadi perokok pasif sehingga dia menderita kanker di usia muda,” ujarnya.

Ketika disinggung apakah pengguna rokok elektrik juga punya kemungkinan menderita penyakit yang sama seperti pengguna rokok tembakau, ia mengaku belum pernah menangani. Ini karena rokok vape baru muncul 10 tahun terakhir.

Sementara jangka waktu ketika seseorang menderita kanker paru membutuhkan jangka panjang. Jadi ia belum bisa menjawab risiko menggunakan rokok elektrik karena masih baru muncul.

Karena itu, ia meminta para perokok aktif segera berhenti merokok supaya tidak menderita penyakit yang bisa membunuh ini. Yang pertama dibutuhkan adalah motivasi berhenti merokok.

“Memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin,” katanya.

Kemudian kalau perokok ini membutuhkan bantuan untuk membantu berhenti, ia bisa berkonsultasi ke dokter atau ke pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas).

Related posts

Leave a Comment