Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB): Alat Deteksi Dini Tsunami Sudah Tidak Layak

Portaldailynet, Jakarta – Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan Meteologi, Kalimatologi dan Geofisika (BMKG) Hary Tirto Djatmiko mengakui, alat pemantau ketinggian gelombang tsunami miliknya kurang optimal saat terjadi gempa di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Menurut Hary, alat canggih milik BMKG itu tidak bekerja maksimal karena saat peristiwa gempa jaringan komunikasi dan listrik lumpuh. Alat yang kurang maksimal bekerja itu justru pemantau ketinggian gelombang tsunami, bukan alat deteksi tsunami.

“Untuk alat peringatan dini bekerja dengan baik, mungkin yang dimaksudkan (tidak berfungsi) alat pemantau ketinggian gelombang atau tide gauge,” kata Hary kepada Okezone, Senin (1/10/2018).

Hary menegaskan bahwa alat deteksi tsunami sebagaimana terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah sudah bekerja dengan baik. Justru yang kurang optimal itu adalah alat pemantau ketinggian gelombang.

“Tetap berfungsi namun dikarenakan jaringan komunikasi dan listrik lumpuh terutama di sekitar Donggala dan Palu maka seolah-olah kurang optimal,” pungkasnya.

Dikabarkan sebelumya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dengan parameter yang dimiliki, menyatakan bahwa gempa bumi ini berpotensi menimbulkan tsunami dengan level tertinggi SIAGA di Donggala Barat dengan estimasi ketinggian gelombang tsunami 0,58 m dan estimasi waktu tiba 17.22.43 WIB sehingga BMKG mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami (PDT).

Kemudian setelah dilakukan observasi, BMKG menyakan bahwa telah terlewatinya perkiraan waktu kedatangan tsunami, maka Peringatan Dini Tsunami (PDT) ini diakhiri pada pukul 17.36.12 WIB.

Beberapa menit setelah Peringatan Dini Tsunami (PDT) ini diakhiri, gelombang tsunami menerjang dengan ketinggian 1,5 meter. Hal ini dikonfirmasi kebenarannya oleh BMKG

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut alat deteksi dini tsunami yang tertancap di tengah laut sudah tak berfungsi sejak 2012. Padahal benda tersebut sangat dibutuhkan di negara yang sering ditimpa bencana alam seperti Indonesia.

“Enggak ada buoy tsunami di Indonesia, sejak 2012 buoy Tsunami,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Minggu (30/9/2018).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut alat deteksi dini tsunami yang tertancap di tengah laut sudah tak berfungsi sejak 2012. Padahal benda tersebut sangat dibutuhkan di negara yang sering ditimpa bencana alam seperti Indonesia.

Sutopo menduga tidak aktifnya buoy lantaran dana penanganan bencana yang tiap tahunnya selalu menurun. Tapi, ia tak bisa menjelaskan lebih detail karena itu merupakan ranah BMKG.

“Ini berpengaruh terhadap upaya mitigasi. Pemasangan alat peringatan dini terbatas anggaran yang berkurang terus,” pungkasnya

Dengan bekal peringatan dini tersebut, maka pemerintah dan masyarakat bisa mengambil keputusan cepat untuk melakukan atau tidak melakukan evakuasi agar bisa mengurangi resiko yang kemungkinan bakal terjadi.

Di sinilah polemik terjadi, bahwa peringatan dini yang diibaratkan sebagai sirine keselamatan itu telah berakhir dan kemudian banyak yang berandai-andai bahwa jika peringatan dini tidak diakhiri dan peringatan dini diberitahukan dengan meluas ke lokasi yang rawan bencana, dampak bencana dapat diminimalisir.

Yang menarik ,pencabutan peringatan dini tsunami ini berdasarkan observasi yang mendalam ataukah alat -alat canggih yang dimiliki tidak berfungsi secara maksimal atau bahkan tidak berfungsi sama sekali. Sehingga data yang harusnya bisa masuk untuk di analisa tidak bisa terdata dengan baik.

Perlu evaluasi dari pemerintah pusat dan daerah. Jangan karena kurangnya analisa akibat alat yang sudah tidak berfungsi lagi timbul banyak korban yang mungkin seharusnya bisa diminimalisir.

(jo)

Related posts

Leave a Comment