Berkolaborasi mengembalikan era emas komik dan prangko

Pernah pada suatu masa prangko dan komik Indonesia menikmati era kejayaannya.

Era ketika Kantor Pos menjadi satu-satunya tempat mengirim surat atau kartu ucapan kepada sanak saudara, handai tolan, atau sang pujaan hati.

Komik juga selalu menjadi andalan mengusir rasa bosan dan teman menghabiskan waktu.

Saat mendengar kabar bahwa seri terbaru komik buatan Hans Jaladara atau Djair sudah terbit, ada perasaan tak sabar untuk bersegera membeli, atau minimal menyewanya di rental komik yang terdekat dari rumah.

Untuk mengulang kembali romansa itu, PT Pos Indonesia (Persero) bersama Asosiasi Komik Indonesia (AKSI) meluncurkan seri prangko istimewa dengan tema Jagoan Indonesia.

Lokasi peluncuran di Gedung Filateli Jakarta, Sawah Besar, Jakarta Pusat, yang sarat sejarah karena merupakan bangunan warisan Post Telefon en Telegraf milik Hindia Belanda.

Menjadi edisi istimewa karena keping-keping prangko tersebut bergambar tiga tokoh komik Indonesia yang sangat populer, yaitu Sri Asih (karya R.A. Kosasih), Gundala (Hasmi) dan Si Buta dari Gua Hantu (Ganes TH).

“Momentum peluncuran seri prangko Jagoan Indonesia ini dalam rangka memperingati 100 tahun R.A. Kosasih. Selain itu, juga bertepatan 50 tahun terbitnya komik Gundala,” ujar Sekretaris Jenderal AKSI Imansyah Lubis kepada Beritagar.id usai acara peluncuran yang berlangsung di Hall CoHive Filateli (4/4/2019).

Saat hari peluncuran, ada tiga jenis yang dihadirkan Pos Indonesia, yaitu Sampul Hari Pertama (First Day Cover), Carik Kenangan (Souvenir Sheet), dan Paket Lengkap (Full Sheet).

Untuk jenis Sampul Hari Pertama, hanya tersedia 1000 set alias cetak terbatas dengan banderol Rp60 ribu. Paket ini seketika ludes pada hari pertama peluncurannya.

Jenis Carik Kenangan yang berisi tiga prangko bergambar masing-masing jagoan dicetak 20 ribu set. Isinya tiga prangko seharga Rp10 ribu untuk setiap tokoh.

Terakhir adalah Paket Lengkap berisi total 15 prangko seharga Rp3 ribu per keping. Ukurannya 30×40 milimeter. Jumlahnya sebanyak 90 ribu set untuk paket ini.

Gambar tiga tokoh jagoan yang ada dalam Carik Kenangan dan Paket Lengkap berbeda-beda sehingga totalnya ada 18 ilustrasi.

Menurut Iwan Nazif selaku ilustrator, proses pembuatan total gambar tersebut memakan waktu hingga satu bulan.

Prosesnya diawali dengan pembuatan sketsa, pembubuhan tinta, dan pewarnaan yang dibantu oleh rekan-rekannya dari PT Bumilangit.

Kebetulan tiga tokoh komik jagoan yang hadir dalam kepingan prangko ini diserahkan hak pengelolaan kekayaan intelektualnya kepada Bumilangit. Perusahaan yang berdiri sejak 2003 itu adalah rumah bagi ratusan karakter komik.

Paket Lengkap berisi 15 prangko bergambar tiga tokoh Jagoan Indonesia (kiri), dan Sampul Hari Pertama prangko edisi Gundala
Paket Lengkap berisi 15 prangko bergambar tiga tokoh Jagoan Indonesia (kiri), dan Sampul Hari Pertama prangko edisi Gundala | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi harus diakui turut memicu perubahan gaya hidup.

Maraknya penggunaan pesan singkat melalui telepon selular dan internet menggantikan peran surat pos individu.

Alhasil bisnis surat pos menurun drastis, termasuk penjualan prangko untuk keperluan mengirim surat.

Untuk mengirim surat, undangan, atau kartu ucapan, menggunakan medium surat elektronik dinilai lebih cepat dan praktis.

Orang juga lebih senang dengan opsi mengirim barang atau dokumen ke tempat tujuan tanpa disertai prangko.

Belum lagi harus menghadapi persaingan kiriman barang dengan para perusahaan kurir swasta.

Mau tak mau Pos Indonesia sebagai perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang jasa kurir, logistik, dan transaksi keuangan berusaha melakukan sejumlah pembenahan dan terobosan.

Ikhtiar yang dilakukan adalah aktif mengajak pihak luar berkolaborasi meluncurkan produk atau mengembangkan usaha. Dan prangko jadi salah satu pos pemasukan yang jadi perhatian.

Salah satu contohnya terjadi tahun lalu. Pos Indonesia bekerja sama dengan novelis Pidi Baiq menerbitkan prangko seri Dilan 1990 yang dicetak sebanyak 100 ribu set. Satu set berisi empat desain dengan kopur (nominal tertulis) Rp25 ribu per keping.

Kini mereka menggandeng AKSI. Selain jadi kesempatan mempromosikan komik Indonesia melalui cara baru, penerbitan prangko bertema Jagoan Indonesia ini diharapkan bisa semakin menggenjot pemasukan Pos Indonesia, khususnya dari bisnis prangko.

Merujuk laporan tahunan Pos Indonesia yang diolah tim Lokadata Beritagar, pendapatan bersih dari hasil penjualan prangko kurun 2012-2017 cenderung fluktuatif.

Laba bersih penjualan prangko pada 2017 yang tercatat Rp23,51 miliar. Pendapatan tersebut menurun 9,47 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp25,97 miliar.

Setiap tahun Pos Indonesia menerbitkan sekitar 12 hingga 15 tema untuk seri prangko. Jumlah produksinya hingga jutaan keping.

Khusus 2017, target Rencana Kerja Dan Anggaran (RKAP) untuk prangko sebanyak 11 juta keping. Namun yang terealisasi “hanya” 3 juta keping. Menurun dari jumlah realisasi tahun sebelumnya yang tercatat 5,1 juta keping.

Jika bisnis prangko terus melempem, total laba bersih Pos Indonesia juga akan ikut tergerus.

Catatan total keuntungan bersih PT Pos Indonesia (Persero) sepanjang 2012-2017
Catatan total keuntungan bersih PT Pos Indonesia (Persero) sepanjang 2012-2017 | Andi Baso Djaya/Beritagar.id /PT Pos Indonesia (Persero)

Sepanjang 2012-2017, keuntungan bersih tertinggi yang diperoleh BUMN tertua itu ada pada angka Rp355 miliar. Itu tercapai dua tahun silam.

Walaupun laporan tahunan Pos Indonesia 2018 masih dalam tahap audit, Eddi Santosa selaku Direktur Keuangan dan Umum PT Pos Indonesia memprediksi laba bersih perusahaannya akan kembali menurun. Bahkan menukik.

“Kami estimasi Rp130 miliar total laba bersih,” terang Eddi (9/1). Faktor utama yang menggerus pemasukan bersih tersebut karena Pos Indonesia harus menomboki sebagian Kewajiban Pelayanan Publik (KPP) untuk pos universal.

Pos universal adalah layanan pos jenis tertentu sehingga memungkinkan masyarakat mengirim dan/atau menerima kiriman dari satu tempat ke tempat lain di dunia.

Persoalannya, kata Eddi, BUMN lain seperti Pertamina, PLN, dan PT KAI tidak terbebani saat melakukan KPP karena pemerintah membayar full cost recovery.

Lelang Sampul Hari Pertama prangko Jagoan Indonesia yang telah dibingkai dan dibubuhi tanda tangan masing-masing ahli waris. Lelang ketok palu pada angka Rp8 juta.
Lelang Sampul Hari Pertama prangko Jagoan Indonesia yang telah dibingkai dan dibubuhi tanda tangan masing-masing ahli waris. Lelang ketok palu pada angka Rp8 juta. | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Jika Pos Indonesia masih kelimpungan menentukan arah menuju masa kejayaannya lagi, komik dalam negeri justru sedang melangkah dalam jalur yang tepat untuk mengulangi era keemasannya.

Pada acara pendeklarasian Asosiasi Komik Indonesia alias AKSI di Hide and Seek Swillhouse, Jakarta Selatan (24/4/2018), disebutkan bahwa ledakan komik mulai terlihat sejak dua tahun terakhir.

Ketua AKSI Faza Meonk, kreator komik Si Juki, menyebut bahwa rerata ada 13 juta orang membaca komik di Indonesia setiap hari melalui ponsel.

Selain itu, lebih dari 100 judul komik Indonesia rilis mingguan setiap hari sepanjang tahun di berbagai aplikasi komik dan media sosial.

Fakta ini sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu ketika jumlah komik lokal yang diterbitkan hanya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.

Sejumlah komik Tanah Air juga telah diterjemahkan ke sejumlah bahasa, seperti My Pre-Wedding, Pasutri Gaje, Eggnoid, Si Juki, dan komik-komik lainnya.

Intermediat komik juga bukan hanya dengan animasi, film, dan merchandise, tapi kini ada prangko.

Terkhusus film, menyusul Valentine, Si Juki the Movie, dan Terlalu Tampan, Bumilangit bersama Screenplay Films pada Agustus 2019 bersiap merilis adaptasi komik Gundala arahan sutradara Joko Anwar.

“Saat ini sedang masuk dalam fase pascaproduksi. Peluncuran prangko ini termasuk rangkaian promo menuju film Gundala. Doakan lancar ya,” pinta Imansyah Lubis yang juga menjabat Production Manager BumiLangit Studios.

Tahun depan menyusul film Si Buta dari Gua Hantu yang rilis. Penyutradaraan diserahkan kepada Timo Tjahjanto.

Menyadari aneka fakta komik mulai diminati kembali, tercetuslah ide membentuk AKSI. Harapannya sebagai tempat bagi perusahan-perusahaan pengelola hak kekayaan intelektual untuk saling bekerja sama menyatukan visi.

Anggotanya terdiri dari 10 penerbit komik, yaitu Bumilangit, Pionicon, Octopus Garden, Infia, FranKKomiK, Skylar Komik, Ciayo Comics, re:ON Comics, Kosmik, dan Padma Pusaka Nusantara.

Jika komik terus menggeliat, efeknya akan mendorong laju pendapatan dari subsektor penerbitan.

Sokongan subsektor ini menghasilkan Rp39,875 miliar dari keseluruhan kontribusi sektor ekonomi kreatif pada 2015. Meningkat dari tahun sebelumnya yang tercatat pada angka Rp38,021 miliar.

Berdasarkan data PDB Ekonomi Kreatif Indonesia atas dasar harga konstan tahun 2014-2016 menurut subsektor, PDB ekonomi kreatif yang tercipta pada 2016 sebesar Rp720,632 triliun.

Dari jumlah tersebut subsektor penerbitan –tempat komik bernaung– menyumbang sebesar Rp41,309 miliar rupiah.

Kontribusi tersebut menempatkannya di posisi kelima di bawah kuliner, fesyen, kriya, dan televisi dan radio dari total 16 subsektor industri kreatif.

Melihat tren positif yang terus ditunjukkan perkomikan Indonesia, semua praktisi komik merasa optimistis “the Golden Age” yang dahulu diciptakan mendiang R.A. Kosasih dan kawan-kawan akan segera tercipta.

Original Source

Related posts

Leave a Comment