Bersabarlah dalam Menasihati dan Membina Umat!

SUATU saat pasti akan datang seorang penyeru agama yang datang kepada kita, ia membawa syariat yang kita belum pernah mengetahuinya, baik berupa perintah ataupun larangan. Boleh jadi saat itu kita masih melakukan hal dilarang oleh agama, atau kita belum sanggup melaksanakan perintah agama yang dibawa oleh penyerbu tersebut (penerus Risalah Para Nabi).

Ada beberapa reaksi umum yang akan muncul ketika itu terjadi, terlebih yang dilarang itu adalah mata pencaharian kita atau sesuatu yang sangat kita nikmati, sehingga sangat berat ditinggalkan saat ini. Jika dalam bentuk perintah, ternyata perintah itu adalah perintah yang kita belum terbiasa melakukannya sehingga sangat berat untuk dikerjakan saat ini.

Reaksi tersebut adalah:
Pertama: Menolak mentah-mentah apa yang diserukan oleh penyeru agama tersebut
Kedua: Menyerang balik hingga melakukan perbuatan destruktif terhadap penyeru dan ajaran yang dibawanya
Ketiga: Menerima secara lapang dada, namun masih berproses untuk menyempurnakan ajaran
Keempat: Berubah total seketika saat ajaran itu sampai, yang larangan langsung ditinggalkan, yang perintah langsung dikerjakan

Bagi para penyeru agama, tentulah reaksi nomor empat yang diharapkan, yaitu berubah langsung secara total. Tapi saya yakin, reaksi ini akan sangat jarang terjadi di masyarakat Indonesia bahkan dunia. Malahan yang sering terjadi adalah seseorang yang membawa ajaran yang benar itu ditolak, dimusuhi, bahkan diserang. Semoga para Da’i tetap sabar ketika mendapat reaksi seperti ini.

Namun dalam artikel kali ini, saya sedang menasihati diri saya dan diri para da’i tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para guru dan mereka yang lebih faqih dalam agama melebih saya. Nasihat tersebut adalah “bersabarlah membina umat karena boleh jadi mereka yang saat ini masih mengerjakan apa yang dilarang, dan belum melakukan apa yang diperintahkan, bukan karena mereka menolak, melainkan mereka sedang berproses, sebagaimana para ustaz dan ulama yang berproses hingga mencapai apa yang saat ini telah mereka raih”.

Para da’i yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, seruan para guru kita telah sampai kepada kita dan kita pun berusaha menyerukannya kembali kepada orang-orang yang berada di sekitar kita. Apakah seluruh yang diajarkan oleh guru kita, langsung dapat kita amalkan secara sempurna? Saya yakin jawabannya belum total. Namun kita menerima dengan lapang dada, dan mengakui atas keburukan diri kita. Maka kita pun berproses, dan Dia yang Maha Melihat akan menilai berbagai proses yang sedang kita upayakan

Oleh karenanya, wahai para penyeru agama. Bersabarlah dalam menyeru umat, kita sampaikan apa yang menjadi amanah kita dari Allah Ta’ala untuk menyampaikan ke tengah-tengah umat. Setelahnya biarkan umat melakukan proses perbaikan diri berdasarkan nilai ajaran yang luhur ini sebagaimana kita pun mengalami prosesnya. Cukuplah Allah Ta’ala menjadi HAKIM bagi diri kita dan umat, sehingga tidak perlu kita menghakimi berbagai kekurangan yang masih berada di masyarakat. Ingatlah tugas kita adalah memperbaiki diri dan menyampaikan kebenaran, bukan merubah keadaan, terlebih menghakimi keadaan.

Nasihat saya kepada masyarakat yang mudah-mudahan Allah Ta’ala mudahkan proses yang sedang kita lakukan bersama menuju Takwa, ketika ada yang datang sebuah seruan yang benar berdasarkan dalil yang kuat sebagaimana telah Allah Ta’ala ajarkan di dalam Alquran terimalah dengan lapang dada bahwa benar ajaran itu datang dari TUHAN YANG MAHA MENCIPTAKAN segala sesuatu, sekalipun kita belum dapat mengamalkan ajaran Nya secara total.

Terimalah apa yang telah Allah Ta’ala gariskan tanpa muncul sedikit penolakan disertai dengan memohon ampun kepada Nya atas segala larangan yang masih dikerjakan, berikut segala perintah yang masih dilalaikan, agar Allah Ta’ala menjadi saksi bahwa kita termasuk ke dalam orang-orang yang tunduk lagi patuh sekalipun masih jauh dari kesempurnaan.

Namun apalah jadinya kita ketika di awal kita sudah menolak, bahkan menganggap bahwa syari’at itu adalah ancaman bagi mata pencaharian dan ancaman terhadap apa yang dinikmati, sehingga reaksi yang muncul pun adalah memusuhi. Tidak kah engkau pernah mendengar kabar mengenai hari pembalasan? Tidak kah engkau khawatir ketika di hari tersebut, engkau digolongkan ke dalam golongan musuh agama? Naudzubillah.

Wallahu a’lam. [Maulana Ishak, S.Pi, Alumni MSP IPB angkatan 43, Relationship Management Rumah Zakat, Ex. Staff Khusus Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, MS]

Original Source

Related posts

Leave a Comment