Blusukan ke Kuningan, Dedi Mulyadi Temui Pemulung Difabel

Tak hanya menginspirasi, Arifin ini ternyata banyak dikagumi para tetangganya.

REPUBLIKA.CO.ID,KUNINGAN — Arifin (55 tahun) pemulung difabel asal Kampung Cidoyong, Desa/Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, tetap bertahan di tengah keterbatasan ekonomi. Pria yang hidup sebatangkara ini, patut diteladani. Pasalnya, dalam kondisi keterbatasan fisik dia mampu bekerja keras untuk meneruskan kehidupannya. Arifin mengatakan, selama ini dirinya mengais rezeki dengan memulung barang bekas. Namun karena Keterbatasan fisik, dia harus memulung dengan cara merangkak. Meski demikian, Arifin selalu bersyukur. Sebab, dari hasil usahanya itu dirinya mampu mengumpulkan uang sebesar Rp 150 ribu setiap tiga pekan sekali.

“Alhamdulillah, saya masih diberi kesehatan. Sehingga saya masih bisa bekerja. Hasil dari memulung ini, digunakan untuk membeli makanan. Meskipun tidak mewah, tapi bisa membuat perut kenyang,” ujarnya, melalui rilis yang diterima Republika, Senin (23/4). Tak hanya menginspirasi, Arifin ini ternyata banyak dikagumi para tetangganya. Salah satunya, Aceng (40 tahun). Aceng menilai, Arifin merupakan sosok yang sangat positif. Meskipun difabel, pria yang hidup sebatang kara ini tidak pernah meminta-minta, baik ke tetangga ataupun yang lainnya. “Dia itu, punya karakter yang kuat. Kami menilai Mang Arifin sosok yang sangat mandiri,” ujar Aceng.

Melihat sosok Arifin ini, Cawagub Dedi Mulyadi menjadi terenyuh. Dedi yang tanpa sengaja melihat Arifin sedang mengumpulkan barang bekas di tempat sampah, lalu menghentikan langkah kakinya. Pasangan dari Cagub Deddy Mizwar ini, sangat ingin bertandang ke rumah Arifin. “Kang, saya ingin main ke rumah Akang,” ujar Dedi.

Dengan rasa malu, Arifin menerika ajakan mantan Bupati Purwakarta ini. Setibanya di rumah Arifin, Dedi tak menemukan perabot satupun. Rumah berukuran 8×10 meter ini kosong melompong dan kurang bersih. Akan tetapi, rumah Arifin ini kategorinya layak huni. Menurut Dedi, Arifin merupakan sosok yang perlu diteladani. Terutama oleh generasi muda. Sebab, ditengah keterbatasan fisiknya, dia masih mau bekerja. Meskipun pekerjaannya bersentuhan dengan benda-benda kotor yaitu barang bekas. Meski demikian, Arifin tidak mengeluh. Dia tetap bersyukur karena masih diberi kesehatan dan rezeki.

Related posts

Leave a Comment