China-Jepang kembangkan kereta jet berkecepatan hingga 500 km/jam

Beijing (ANTARA News) – China dan Jepang bekerja sama mengembangkan kereta api yang digerakkan mesin jet atau aerotrain yang berkecepatan 400-500 kilometer per jam.

Kereta api yang melaju di atas bantalan udara (air cushion) tersebut tidak menggunakan bahan bakar fosil, baik minyak, batu bara, gas, maupun listrik.

Kereta api ini nantinya akan mengubah sistem transportasi dunia, demikian pernyataan sejumlah pakar sebagaimana dikutip Chongqing Morning Post, Rabu.

Uji produksi dan tes laju aerotrain generasi pertama dan kedua telah dilakukan di Jepang, ungkap Profesor Lai Chenguang dari Chongqing University of Technology yang turut terlibat dalam proyek tersebut.

Kereta api tersebut sepenuhnya akan memanfaatkan energi alam yang hemat biaya, meskipun berkecepatan tinggi.

“Pada saat kereta mampu melaju dengan kecepatan 500 kilometer per jam, maka konsumsi energinya hanya sepertiga dari konsumsi kereta cepat yang ada saat ini dan seperenam dari kereta maglev (levitasi magnetik),” kata Profesor Lai.

Selain itu, kemampuan angkut kereta tersebut juga bisa ditingkatkan dengan menggunakan teknik annular spoiler.

Baca juga: Hello Kitty akan melaju bersama kereta peluru Jepang

Baca juga: Menteri BUMN di China bahas percepatan konstruksi kereta cepat

Baca juga: China kembangkan kereta cepat “autopilot”

Berpijak pada hasil studi aerodinamika, Chongqing University of Technology melakukan penelitian lebih lanjut untuk merancang model kereta generasi ketiga.

“Kereta api yang tidak menghasilkan polusi sepertinya tidak mungkin untuk diciptakan, namun bukan hal yang mustahil,” kata Prof Lai menambahkan.

Selama ini China dan Jepang terus bersaing dalam meningkatkan teknologi kereta cepat.

Sampai saat ini China juga masih mengembangkan kereta maglev berkecepatan di atas 400 kilometer per jam agar tidak ketinggalan dengan rivalnya yang masih menjadi perintis dalam pengembangan teknologi perkeretaapian di Asia itu.

Pewarta: M. Irfan Ilmie

Editor: Gilang Galiartha

COPYRIGHT © ANTARA 2018

Related posts

Leave a Comment