Dana Desa Belum Mampu Pecahkan Permasalahan Kesejahteraan di Desa

JawaPos.com – Dana Desa yang dalam beberapa tahun terakhir terus digelontorkan pemerintah masih belum jadi obat mujarab untuk menyelesaikan masalah kesejahteraan di pedesaan. Padahal, dana desa merupakan salah satu program kebanggaan pemerintahan Presiden Jokowi untuk meningkatkan perekonomian di desa.

Sebagaimana diketahui, Kebijakan Dana Desa, terus meningkat yakni Rp 20,67 triliun tahun 2015, Rp 46,98 triliun tahun 2016, serta masing-masing Rp 60 triliun pada tahun 2017 dan 2018.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto mengatakan belum mujarabnya dana desa tercermin dari tingkat pengangguran terbuka yang ada di pedesaan. Kendati kecil, namun hal itu dinilai tidak sejalan dengan program tersebut.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2018 mencatat, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) masih sebesar 5,34 persen. Artinya, masih ada 7 juta penduduk yang menganggur.

Angka tersebut jika dirinci terdiri dari pengangguran di desa sebesar 4,04 persen atau lebih tinggi dibandingkan pada periode yang sama tahun 2017 yakni sebesar 4,01 persen.

“Padahal ada dana desa yang digelontorkan. Tapi tingkat pengangguran terbuka di pedesaan naik walaupun relatif kecil. Bahwa dana desa belum jadi obat mujarab untuk menyelesaikan masalah kesejahteraan di pedesaan,” ujarnya di Restoran Rantang Ibu, Jakarta Selatan, Kamis (14/3).

Dana desa sejatinya akan ditransfer oleh pemerintah pusat sebagai program pemberdayaan masyarkat dalam membangun infrastruktur dasar di daerah.

Meski begitu, Eko meminta pemerintah agar tidak hanya fokus pada pengembangan SDM tetapi juga kesempatan kerjanya. Di sisi lain, perlu perbaikan pada kualitas kurikulum pendidikan di dalam negeri, sehingga nantinya mereka yang baru lulus sudah siap dengan dunia kerja.

“Ini perlu penyesuaian, apalagi kita bakal memasuki industri 4.0,” tuturnya.

Sementara itu, Peneliti INDEF Ahmad Heri Firdaus mengatakan hal senada. Dia mengatakan, saat ini jumlah pekerja dengan pendidikan rendah cukup mendominasi.

Menurut dia, hal itu tidak bisa dibiarkan. Sebab, profesi mereka bakal terancam seiring berlakunya industri 4.0.

“Bagaimana mereka nanti menghadapi industri 4.0. mungkin lulusan itu bisa bekerja di pabrik bertahun-tahun tapi ya itu itu saja. Begitu ada teknologi robot yang bisa pasang kancing, hilanglah profesi itu. Kalau ada satu juta, ya satu juta yang hilang,” tandasnya.

Editor : Mohamad Nur Asikin
Reporter : Hana Adi

#dana desa #penyaluran dana desa #tingkatkan kesejahteraan

Original Source

Related posts

Leave a Comment