Esma Saida, Balita Yaman yang Terselamatkan dari Gizi Buruk

Perang saudara di Yaman menyebabkan lebih dari 20 juta orang menghadapi kelaparan.

REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, ADEN – Esma Saida seorang balita berusia lima bulan merupakan anak dari Rachida Taleb mengalami kekurangan gizi yang sangat buruk. Dilansir dari CBS News, kondisi Esma kian membaik setelah menjalani proses perawatan.

Esma telah berada di rumah sakit al-Sadaqa di kota pelabuhan Yaman, Aden selama hampir satu pekan. Di sana dia makan dengan formula kaya vitamin dan kalori.

Hal itu dapat menambah berat badannya secara bertahap. Bahkan, menurut keterangan CBS News Esma sekarang memiliki kekuatan yang cukup dalam kepalan kecilnya untuk memegang jari CBS News.

Taleb mengatakan dia dan keluarganya tinggal di Taiz, sebuah kota kecil yang dikepung ketika perang saudara di Yaman selama tiga tahun.

Suaminya bergabung dengan milisi lokal dan terbunuh. Taleb ditinggalkan sendirian dengan bayinya dan tidak memiliki penghasilan.

Esma lahir prematur dan tidak disusui. Taleb memiliki formula yang begitu sedikit sehingga dia terus membuatnya semakin encer dan membawa Esma dalam masalah.

Taleb dan Esma berhasil lolos dari pertempuran di Taiz dan mencapai Aden.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan pada Jumat (7/12) bahwa krisis kemanusiaan terburuk di dunia semakin memburuk.

Perang saudara di Yaman telah menyebabkan lebih dari 20 juta orang di Yaman menghadapi kelaparan.

“Kami merasa ngeri bahwa 85 ribu anak di Yaman mungkin telah mati karena kelaparan ekstrem sejak perang dimulai,” kata Direktur Save the Children di Yaman, Tamer Kirolos, Jum’at (8/12) seperti dilansir dari CBS News.

Selain itu, Tamer juga mengatakan banyak anak yang terbunuh oleh bom dan peluru. Sementara menurutnya, kelaparan yang terjadi semestinya dapat dicegah.

Senada dengan itu, Dana Darurat Anak Internasional PBB memberikan gambaran yang sama suramnya tentang krisis kemanusiaan di Yaman.

“Saat ini di Yaman, ada 400 ribu anak di bawah usia lima tahun yang sangat kekurangan gizi. Mereka bisa meninggal setiap hari,” kata Juliette Touma, Kepala Komunikasi untuk UNICEF di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sebelumnya, perwakilan dari pihak-pihak yang berperang di Yaman berkumpul hari Kamis (6/12) di sebuah kastil di kota Swedia, Rimbo, sebelah utara Stockholm, untuk pembicaraan damai yang didukung PBB dan ditujukan untuk menghentikan perang.

Kedua pemerintah yang diakui internasional, yang didukung oleh koalisi yang disponsori dan dipimpin Saudi, dan gerilyawan Houthi yang selaras dengan Iran mengatakan mereka berjuang untuk perdamaian.

Pejabat mengaku telah berusaha untuk memunculkan harapan, tetapi mereka berharap setidaknya langkah-langkah kecil tersebut akan membantu meringankan krisis kemanusiaan Yaman yang kian memburuk.

Related posts

Leave a Comment