Gambaran Kejenuhan Rakyat, Capres-Cawapres Fiktif Nurhadi-Aldo Bisa Giring Masyarakat Golput

PENGAMAT politik UIN Jakarta Adi Prayitno menilai, hadirnya capres-cawapres fiktif Nurhadi-Aldo merupakan sindiran kepada pasangan calon (paslon) yang bertarung dalam Pilpres 2019.

“Capres fiktif itu merupakan parodi politik yang narasinya menyindir dua kandidat yang model kampanyenya tak substansial, tautan opini enggak karuan, dan tak mendidik. Tak heran jika kutipan capres Dildo (Nurhadi-Aldo) itu berbentuk sindiran pedas. Bahkan, pesannya dibuat sengaja sulit dipahami publik,” kata Adi saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (11/1/2019).

Selain itu, menurut Adi, capres-cawapres fiktif itu dapat dimaknai sebagai kejenuhan politik masyarakat. Hal itu karena dia melihat saat ini banyak pihak yang menghalalkan segala cara untuk menyerang lawan guna meningkatkan elektoral.

Pembangunan Sudah Rampung 97 Persen, LRT Jakarta Siap Beroperasi Akhir Februari

“Capres fiktif itu bisa dimaknai sebagai kejenuhan politik rakyat, karena suasana pilpres yang tak konstruktif, mirip-mirip politik abad pertengahan yang menjadikan kelemahan lawan sebagai keuntungan utama elektoral, itu kan kacau, bukan jualan program unggulan tapi malah sibuk buka aib politik lawan,” paparnya.

Adi juga khawatir adanya fenomena itu akan menggiring masyarakat untuk apatis dan golput (golongan putih) dalam Pilpres nanti.

“Fenomena ini mesti disikapi serius untuk mencegah rakyat golput. Ini warning bagi partisipasi rakyat di pemilu 2019,” ucapnya.

Tabloid Obor Rakyat Bakal Terbit Lagi, Polisi Serahkan ke Dewan Pers

Sebelumnya, kehadiran pasangan capres-cawapres fiktif Nurhadi-Aldo menjadi fenomena tersendiri di jagat maya.

Munculnya pasangan yang disingkat ‘Dildo’ itu mendapat sambutan sekaligus kekhawatiran sejumlah pihak.

Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva, kemunculan paslon ‘Dildo’ yang dianggap sebagai lucu-lucuan ini juga bisa memicu orang jadi antipati terhadap politik.

Ini Tiga Tipe Orang Penyebar Hoaks di Internet, Nomor Satu Terjadi karena Gaptek

“Bisa mengarah ke situ, karena tidak puas karena hanya ada dua pasangan capres. Jadi ini yang jadi capres lucu-lucuan, karena, ‘Ah sudahlah, kita lucu-lucuan saja, ngapain dua itu’. Jadi orang antipati terhadap politik. Ini sebenarnya tidak bagus, tapi ini kan suatu kondisi yang tercipta karena pilihan kita memaksakan hanya ada dua calon,” ulas Hamdan Zoelva, Sabtu (5/1/2019).

Berbeda pendapat dengan Hamdan Zoelva, Ketua DPR Bambang Soesatyo menganggap hal itu akan membuat pemilu sebagai pesta demokrasi yang menyenangkan.

“Menurut saya makin banyak makin bagus, sehingga pemilu dianggap suatu acara atau pesta yang menyenangkan,” kata Bamsoet, sapaan akrabnya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (9/1/2019). (Chaerul Umam)

Original Source

Related posts

Leave a Comment