Hoaks Merupakan Sarana Menjatuhkan Lawan Politik

Portaldailynet, Jakarta – Beberapa hari ini, media ramai memberitakan tentang berita hoax. Dalam seminggu ini saja sudah ada beberapa berita hoax, diantaranya berita yang berkaitan dengan gempa di Kota Palu.

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, seperti dikutip oleh beberapa media online, sejak Sabtu lalu setidaknya ada delapan berita hoax yang beredar diantaranya hoax Bendungan Bili-Bili di Kab. Gowa Retak. Hoax foto ribuan korban Musibah Gempa dan Tsunami. Hoax Wali Kota Palu Meninggal.

Hoax Gempa bumi Susulan. Hoax gambar relawan FPI gerak cepat evakuasi korban gempa Palu. Hoax gambar mayat yang minta gempa. Prediksi gempa bumi di tanggal tertentu. Hoax penerbangan gratis dari Makasar menuju Palu gratis bagi keluarga korban.

Namun, tudingan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang menyebut kegiatan kemanusiaan oleh relawan Front Pembela Islam (FPI) dalam menangani bencana gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah sebagai hoaks, menuai reaksi dari organisasi pimpinan Habib Rizieq Syihab itu. Setelah sejumlah media massa di Tanah Air memuat tudingan yang dibuat Kemkominfo tersebut, FPI pun menyampaikan hak jawabnya.

Diantaranya adalah bahwa informasi yang disebarkan adalah misleading dan distorsi informasi yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Dan berita yang lagi hangat adalah hoax kasusnya Ratna Sarumpaet yang kabarnya dianiaya di Bandara Husein Sastranegara Bandung.

Menurut kronologi versi kubu Ratna, ia diserang sekelompok orang yang tidak dikenal oleh dua atau tiga orang laki-laki di area Bandara Husein Sastranegara.

Namun, pihak bandara kembali menegaskan tidak ada bukti rekaman CCTV akan terjadinya penganiayaan tersebut di bandara.

“Sudah mengecek CCTV berkali-kali. Intinya dugaan penganiayaan di bandara tidak ada. Tidak ada,” tegas General Manager Bandara Husein Sastranegara, Andika Nuryaman, Rabu (3/10/2018).

Polda Metro Jaya telah menyelidiki kabar dugaan penganiayaan aktivis Ratna Sarumpaet. Kabar ini viral di media sosial. Bahkan, sejumlah tokoh ternama, seperti politikus Partai Gerindra Fadli Zon dan Rachel Maryam menyebarkan di akun Twitter-nya bahwa Ratna Sarumpaet benar-benar dianiaya.

Namun, akhirnya Ratna Sarumpaet angkat bicara soal heboh kabar dianiaya. Ratna mengakui, pada 21 September 2018, dia sebenarnya menemui dokter bedah plastik di Jakarta.

“Tanggal 21 saya mendatangi RS khusus bedah, menemui dr Sidiq ahli bedah plastik. Kedatangan saya karena kami sepakat beliau akan menyedot lemak di pipi,” kata Ratna dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Ratna akhirnya mengakui bahwa kabar yang disebarkannya tersebut adalah berita bohong alias hoaks.

Kenapa ini bisa terjadi?

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa semakin majunya teknologi, membuat hampir setiap orang dapat dengan mudah mendapatkan informasi dari media manapun. Namun tak semua berita yang didapat itu jelas kebenarannya.

Oleh karena itu, tentu ada penyebab mengapa masyarakat banyak yang tertipu dengan pemberitaan media.

Melani Budiantara, seorang pakar budaya dari Universitas Indonesia memaparkan beberapa point pemicu terjadinya pemberitaan hoax, dalam acara seminar peran kebudayaan dalam pembangunan di Bappenas, Selasa (4/4).

1. Revolusi media sosial: keterbukaan informasi dan tingginya konsumsi media sosial (Indonesia pengguna FB ke-4 terbesar di dunia)

2. Literasi media: minim, kurang kritis terhadap informasi

3. Pengguna media sosial menjadi pengedar informasi tanpa mampu melacak kebenarannya

4. Era “Post-Truth” : yang diunggulkan bujan kebenaran, tetapi kedekatan emosi dan keyakinan pribadi dengan informasi yang diedarkan.

5. Konflik horisontal, penajaman perbedaan, peredaran pesan kebencian, dan kecenderungan pada “bullying” sosial.

Pengamat Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidyatullah Adi Prayitno mengatakan isu-isu hoaks seperti yang dilontarkan Ratna memang cukup efektif untuk menarik simpati masyarakat dan menyerang penguasa.

Menurut Adi, isu hoaks seperti pemukulan Ratna ini jauh lebih cepat mendapatkan respons dan simpati dari publik ketimbang isu lain yang lebih substansial. Ini karena masyarakat cenderung lebih senang dengan isu-isu yang terkesan subjektif dan sederhana ketimbang isu-isu rumit dan ‘melangit’ seperti ketimpangan ekonomi, pelanggaran hak asasi manusia, isu politik, dan lainnya.

Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun menilai pemanfaatan isu hoaks ini sudah menjadi masalah kolektif bagi para politikus di negeri ini tak terkecuali kubu Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Mengapa itu mereka lakukan cara yang tidak berbasis pada isu substantif itu nampaknya mereka ya tadi masih meyakini bahwa cara efektif bukan karena gagasan ideal tapi menaikan citra dan merendahkan (downgrade) lawan politiknya. Lebih kepada politik subjektif jadi mengelola atau mengarahkan emosi publik,” ujar dia.

Drama berita bohong Ratna Sarumpaet dinilai bukan menjadi akhir perjuangan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Ratna sebelumnya adalah juru kampanye pasangan Prabowo-Sandi. Dia mengundurkan diri kemarin setelah ketahuan membuat kebohongan yang menghebohkan publik nasional.

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menyatakan drama hoaks Ratna memang menghasilkan citra negatif terhadap Prabowo-Sandi. Tetapi tak serta merta mematikan kans untuk menang Pilpres 2019.

Djayadi berkata pasangan nomor urut 02 itu memiliki pendukung solid yang membuat elektabilitasnya stabil di kisaran 30 persen.

Saat ini, demokrasi kita diwarnai oleh perang medsos yang tak jarang isinya adalah negative campaign atau bahkan black campaign,”ujar pengamat politik Unair, Hari Fitrianto, saat menjadi pembicara Seminar Menuju Pilgub Jawa Timur Damai, Berkualitas, dan Berintegritas, Kamis (16/11).

Menurut Hari, black campaign lebih berbahaya karena menyerang lawan politik dengan tidak berdasar data. Sedangkan negative campaign cenderung lebih longgar dengan menggunakan data, walaupun tetap saja tidak baik untuk proses demokrasi ke depan. Begitu pula dengan berita bohong alias hoax.

Kesimpulannya adalah mereka menggunakan berita hoax dalam rangka menjatuhkan lawan politiknya.

(hr)

Related posts

Leave a Comment