Isu Dibalik Asia Sentinel

Portaldailynet, Jakarta – Panggung politik Indonesia memanas dengan munculnya berita yang menyebut ketua partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono.

Laporan John Berthelsen berjudul Indonesia’s SBY Government: ‘Vast Criminal Conspiracy di Asia Sentinel, 11 September lalu. Berthelsen dalam laporannya menulis soal dugaan keterlibatan Ketua Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dalam skandal pencurian uang hasil pajak sebesar 12 miliar dolar AS.

Pantas, pernyataannya tersebut membuat SBY berang dan akan mengejar sampai ke ujung dunia. “Akan kita kejar sampai ke ujung dunia mana pun, yang merusak dan menghancurkan nama baik kita,” kata SBY merespons laporan Berthelsen di Asia Sentinel.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan mengatakan kasus ini akan dibabat tuntas, meski permintaan maaf pihak Asia Sentinel telah diterima.

“Karena itu permintaan maafnya, menariknya dan kemudian menyatakan menarik seluruh berita itu adalah perbuatan yang mulia. Tetapi kami tidak berhenti, kami akan tuntaskan seluruh pihak yang telah menyebarluaskan dan menggoreng ini,” kata Hinca dalam video siaran pers di Victoria Park Hong Kong, Kamis (20/9).

Dengan munculnya artikel dari Asia Sentinel ini, sepertinya ingin memunculkan kembali kasus bank Century.

Menurut Fahri Hamzah, ketika mengurai kronologi kasus Bank Century, hingga membentuk pansus DPR, hingga kasus ini diupayakan untuk ditutup selamanya, sebenarnya memiliki dua skandal.

“Bank Century itu skandalnya dua, pertama skandal pada Bank Century-nya, di mana ada pembobolan uang dengan argumen yang ngawur dan akhirnya menggunakan uang negara, dan kedua skandal pada penutupan kasusnya,” bebernya.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah memiliki pandangan lain soal kasus pemberitaan Asia Sentinel, yang menuding Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalang di balik pencucian uang pembayaran pajak dan bailout Bank Century.

Fahri Hamzah mengatakan, mencuatnya kembali kasus Bank Century menjelang Pemilu Presiden 2019, karena KPK tidak menyelesaikan kasus tersebut.

“Ya pokoknya itu otaknya, kalau tangan pun itu tangan dari KPK, karena KPK yang meng-hold kasus itu,” kata Fahri Hamzah di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/9/2018).

Isu Asia Sentinel menjadi menarik karena memunculkan banyak kejanggalan. Diantaranya media Asia Sentinel sendiri tidak jelas statusnya.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan menyebut Asia Sentinel yang memuat tulisan terkait Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai media yang tidak kredibel.

Hal itu ia sampaikan usai melakukan investigasi di Hong Kong selama dua hari sejak Rabu (19/9). Dia merekam pernyataannya dalam sebuah video berdurasi 3 menit 9 detik di Victoria Park, Hong Kong.

Hinca mengklaim telah berkoordinasi dan berkomunikasi dengan para pihak yang berkenaan dengan Asia Sentinel. Selain itu dia juga menyinggung Metro TV karena menyebut Asia Sentinel sebagai media kredibel.

Kejanggalan kedua adalah perihal siapa di balik fitnah Asia Sentinel. Banyak dugaan. Salah satunya menitikberatkan pada lenyapnya nama salah satu pendiri Asia Sentinel, Lin Neumann pasca kehebohan itu.

Belakangan terkuak pula bahwa Lin Neumann adalah orang asing yang dekat dengan Indonesia.

Neumann adalah pendiri dan editor dari Jakarta Globe yang dicukongi James Riady, salah satu pengusaha papan atas yang disebut-sebut dekat dengan Joko Widodo.

Neuman juga tercatat sebagai direktur Amcham Indonesia. Neumann bahkan bisa wara-wiri di Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Di medsos sudah beredar foto bersama Neumann dan Kepala KSP Moeldoko.

Namun, yang paling bikin publik curiga adalah kicauan Teddy Gusnaidi di Twitter. Belum sampai 24 jam anggota Dewan Pakar DPP PKPI ini meminta SBY “diam saja”, tiba-tiba isu Asia Sentinel meledak.

Publik curiga Teddy sudah tahu perihal operasi pembunuhan karakter SBY lewat tangan Asia Sentinel ini. Pertanyaannya, dari siapa Teddy tahu? Dari Neuman? Atau jangan-jangan dari KSP?

Jika Asia Sentinel benar dijadikan alat untuk memukul SBY, rusaklah demokrasi di Indonesia. Ini jelas bukan politik yang beradab, bukan politik kaum penganut pancasila.

Melainkan politik ala marchiavelli yang dikutuk oleh semua bangsa beradab di dunia. Demi melanggengkan kekuasaan, segala cara dihalalkan.

Apa tujuannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengembosi suara Partai Demokrat dalam Pilpres 2019.

Ada kekhawatiran besar di kalangan ini. Jika gerakan “bantu rakyat“ Partai Demokrat sukses merebut hati rakyat, otomatis suara Partai Demokrat semakin besar di Pemilu 201.

Ujung-ujungnya modal politik Agus Harimurti Yudhoyono untuk berkompetisi di Pilpres 2024 semakin besar pula. Ini bahaya buat para politisi yang sudah berinvestasi habis-habisan untuk merebut kursi Istana sepeninggalan Jokowi.

Kesimpulannya adalah isu mengenai Asia Sentinel merupakan rekayasa dalam rangka untuk menjatuhkan partai oposisi. Karena dengan strategi tersebut kubu petahana bisa melanggengkan posisinya.

(hr)

Related posts

Leave a Comment