Jemaat Gereja di Solo Bikin Pohon Natal dari 9.000 Botol Bekas

JawaPos.com – Tidak semua sampah harus dibuang begitu saja. Dengan pemanfaatan yang tepat, sampah pun bisa disulap menjadi sesuatu yang lebih indah. Seperti yang dilakukan oleh jemaat Gereja Katolik Santa Perawan (SP) Maria Regina Purbowardayan, Solo, Jawa Tengah (Jateng) ini. Para jemaat menyulap sampah botol bekas menjadi sebuah pohon natal yang unik.

Pohon natal tersebut mempunyai ketinggian enam meter. Sebagai batangnya ada sebuah kayu penyangga. Untuk membuat sebuah pohon natal tersebut membutuhkan botol bekas sebanyak 9.000. Pohon dibuat bulat layaknya sebuah bola. Diameter pohon yakni 4,2 meter. Saat ini proses pembuatan pohon natal dari botol bekas masih berlangsung.

Penyusunan botol-botol bekas dilakukan oleh sedikitnya 18 jemaat. Pengerjaan sudah memakan waktu lebih kurang satu bulan. Salah satu tim dekorasi, sekaligus panitia Natal Gereja SP Maria Regina, Bagus Karyadi mengungkapkan, pemilihan botol bekas sebagai bahan pembuatan pohon natal adalah karena merasa prihatin dengan banyaknya sampah botol.

Pohon Natal Bekas
Penyusunan botol-botol bekas dilakukan oleh sedikitnya 18 jemaat. Pengerjaan sudah memakan waktu lebih kurang satu bulan. (Ari Purnomo/JawaPos.com)

Setiap kali ada rapat gereja, sampah botol selalu menumpuk. Sehingga, menimbulkan pemandangan yang kurang sedap. Dari situlah muncul ide untuk menciptakan sesuatu dari barang-barang tersebut. “Dari sampah botol itu kami kumpulkan dan kami susun menjadi sebuah pohon natal. Ini untuk persiapan perayaan Natal nanti,” urainya, Rabu (12/12).

Ingin Terlihat Berbeda

Bagus menambahkan, karya sebuah pohon natal menggunakan bahan dari botol bekas adalah kali pertama. Sebelumnya, setiap merayakan natal hanya menggunakan pohon cemara buatan dan dihias dengan sejumlah aksesori dan ornamen.

Dan hal itu dianggap sudah terlalu (biasa). Maka dari itu, Bagus mengatakan, butuh sesuatu yang berbeda dan menarik untuk merayakan momen Natal ini. “Jadi ini menjadi sesuai yang berbeda. Kami sengaja membuat tinggi sampai enam meter agar bisa dilihat dari kejauhan,” imbuhnya.

Sampai saat ini proses pembuatan pohon natal sudah hampir rampung. Akan tetapi, nantinya pohon ini akan dipercantik dengan sejumlah ornamen dan aksesori. Pemasangan, baru akan dilakukan pada 20 Desember mendatang. “Kalau ada ornamennya nanti saat dinyalakan malam hari akan terlihat lebih indah. Dan keindahannya bisa lebih indah dari pohon natal biasanya,” katanya.

Sementara itu, Pastor Gereja Katolik SP Maria Regina Purbowardayan Romo Antonius Saptana Hadi mengungkapkan, bahwa pemilihan botol bekas karena keprihatinan akan banyaknya sampah.

“Mengenai bentuknya yang bulat itu memiliki filosofi kebulatan tekat. Artinya, jika mengerjakan sesuatu harus diawali dengan tekat dan niat baik maka hasilnya juga akan baik,” katanya.

(apl/JPC)