Jika Terpilih, Caleg Gerindra Ingin Buka Lapangan Kerja bagi Perempuan di Jakarta

Merdeka.com – Politikus Partai Gerindra, Novita Dewi mengaku bersyukur perempuan sudah memiliki perhatian yang besar terhadap politik. Namun, dia menyayangkan belum banyak perempuan yang terpilih dalam pemilu 2019.

“Kuota 30 persen hanya untuk menjadi calon legislatif oleh partai, bukan keterpilihan. Hal ini karena start dalam politik perempuan tertinggal dari laki-laki. Oleh karena itu, perempuan yang tampil di ajang politik harus memiliki effort yang lebih besar agar dapat mengejar ketertinggalan,” kata Novita di Jakarta, Kamis (2/5).

Kemudian, dia mengaku akan bekerja keras menguatkan ekonomi keluarga jika terpilih menjadi anggota DPRD DKI Jakarta periode 2019-2024. Sebab, menurutnya, apabila ada masalah ekonomi maka perempuan yang paling merasakan dampaknya.

“Selanjutnya, memastikan kesejahteraan itu dilakukan dengan membuka dan menciptakan lapangan kerja bagi perempuan melalui kewirausahaan serta memastikan harga-harga bahan pokok terjangkau,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur SPIN Indonesia, Igor Dirgantara mengatakan caleg kalangan perempuan harus mengambil peran untuk tampil aktif di tingkat daerah. Menurut dia, caleg tingkat nasional lebih didominasi oleh kaum laki-laki.

“Jika caleg pria lebih mendominasi di level nasional, maka fokus caleg perempuan sebaiknya konsentrasi di level lokal (daerah),” imbuhnya.

Dia menjelaskan jumlah pemilih perempuan di pemilu legislatif 2019 lebih banyak dari laki-laki, tapi tidak signifikan bagi kemenangan caleg perempuan. Padahal, jumlah pemilih perempuan 96,6 juta di atas pemilih laki-laki sebesar 96,3 juta orang.

“Di Pemilu 2019, ada 3.371 orang caleg perempuan dan 5.029 caleg laki-laki. Caleg perempuan hanya 40 persen dari total jumlah caleg sebanyak 8.400 orang, di mana tiap caleg memperebutkan suara untuk memenangkan satu dari 575 kursi DPR,” paparnya.

Namun, kata Igor, jumlah perempuan di DPR dari waktu ke waktu juga tidak representatif, bahkan tidak pernah mencapai angka 30 persen. Tahun 2014, lanjutnya, hanya menghasilkan anggota legislatif perempuan sejumlah 97 orang atau 17,32 persen dari total anggota 560 orang di DPR.

Padahal, dari segi jumlah penduduk saja demografi perempuan mencapai lebih dari 50 persen penduduk Indonesia. Mereka memerlukan suara mewakili kepentingan perempuan dalam pengambilan kebijakan nasional atau daerah yang berdampak pada kehidupan perempuan, seperti kesehatan dan pendidikan.

“Oleh karena itu, harus terus dilakukan upaya yang masif, terstruktur dan sistematis menambah jumlah perempuan dalam daftar caleg demi peningkatan partisipasi politik perempuan,” tandas dia. [ray]

Original Source

Related posts

Leave a Comment