Jokowi Instruksikan Kepala BNPB Anyar Percepat Rehab Daerah Terdampak Bencana

Merdeka.com – Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Munardo mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah-daerah terdampak bencana. Jokowi ingin agar rekonstruksi daerah terdampak bencana dikawal secara serius hingga tuntas.

BERITA TERKAITBlusukan ke Sukabumi, Cak Imin dan Hanif Dhakiri ‘Mondok’ di PonpesSebelum Diciduk, Mucikari Vanessa Angel Ngaku Dijemput Mobil Berpelat MerahBupati Bekasi Nonaktif Ngaku Diminta Mendagri Agar Izin Meikarta Dibantu

Wilayah-wilayah yang terdampak bencana di antaranya, Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diguncang gempa, Kota Palu dan Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah yang diguncang gempa dan tsunami, serta wilayah pesisir barat Banten dan selatan Lampung yang diterjang tsunami.

“Terutama yang di NTB, kemudian berlanjut ke Sulteng dan Lampung dan Banten,” kata Jokowi dalam rapat terbatas dengan topik ‘Peningkatan Kesiagaan Menghadapi Bencana’ di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (14/1).

Selain itu, Jokowi meminta pemberian edukasi kebencanaan kepada masyarakat dapat dimulai pada akhir bulan ini. Dia menginginkan agar pengetahuan tentang kebencanaan di tingkatkan di semua daerah, terutama di daerah-daerah rawan bencana.

“Saya ingin agar diakhir bulan ini bisa dimulai baik di Kemendikbud, juga di masyarakat dan saya ingin ini terus digerakkan semua daerah terutama di daerah-daerah rawan bencana,” ujar Jokowi.

Sebelumnya, bencana melanda wilayah Indonesia terjadi hampir bersamaan sepanjang 2018 lalu. Beberapa PR yang menanti Kepala BNPB baru Letjen Doni Monardo itu di antaranya tsunami Selat Sunda dan longsor melanda wilayah Sukabumi menjelang akhir 2018. Relokasi dan penanganan pengungsi erupsi Gunung Sinabung serta rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa di NTB dan Sulawesi Tengah.

Terlebih BNPB memprediksi di tahun 2019 akan banyak bencana yang melanda Indonesia. Bencana itu jenis hidrometerologi akan mendominasi di tahun 2019. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, dominasi bencana hidrometerologi diakibatkan karena masih luasnya kerusakan daerah aliran sungai (DAS) dan lahan kritis.

Sutopo mengatakan, rata-rata laju perubahan lahan pertanian menjadi lahan non pertanian sebesar 110 ribu hektare terjadi per tahunnya. Sedangkan luas lahan kritis sekitar 14 juta hektare.

“Banjir dan longsor masih akan banyak terjadi di daerah-daerah yang rawan banjir dan rawan longsor sesuai dengan peta rawan banjir dan longsor. Kemudian, kebakaran hutan dan lahan masih akan terjadi, tetapi dapat diatasi dengan lebih baik. Prediksi selama 2019 musim akan normal, tidak ada El Nino dan La Nina yang menguat intensitasnya,” kata Sutopo, Senin 1 Januari 2019.

Sutopo pun berpesan kepada kepala BNPB baru nantinya memiliki koordinasi baik terhadap setiap lembaga dan pihak terkait penanganan bencana. Sebab, fungsi dan tugas BNPB diatur dalam Undang-Undang Nomor 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana dan PP Nomor 21/2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.

Reporter: Lisza Egeham
Sumber : Liputan6.com [rhm]

Original Source

Related posts

Leave a Comment