Keindahan seni tekstil indonesia di Inggris

London (ANTARA News) – Masyarakat Inggris yang tergabung dalam pecinta tekstil oriental di London terkesima meliat seni tekstil dari berbagai daerah di Indonesia berupa kain batik lawas, tenun, ulos serta songket yang dipamerkan dalam pameran bertema “Nusawastra Silang Budaya: Indonesian Textiles at the Crossroads of Culture” di gedung pertemuan KBRI London, Jumat.

“Saya merasa beruntung bisa menyaksikan begitu banyak dan beragamnya seni tekstil Indonesia dalam satu tempat,” ujar DR Philomene Verlaan dari Oriental Rug and Textile Society London kepada ANTARA News, di sela-sela pameran yang berlangsung di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London hingga Sabtu ini.

Menurut dia, suatu kebanggaan baginya bisa menyaksikan begitu banyak koleksi kain dari Indonesia yang indah dan punya nilai sangat tinggi, serta belum pernah diliat sebelumnya.

Pameran dan seminar tekstil Indonesia itu secara resmi dibuka Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Inggris Raya Rizal Sukma, dan dihadiri sekira 50 warga Inggris, serta tampak pula Kartika Soekarnoputri, putri Presiden RI periode 1945–1966 Soekarno dan Ratna Sari Dewi.

Dubes Rizal Sukma menyatakan rasa bangga dan menyampaikan apresiasi kepada Quoriena Ginting dan timnya yang bersedia memamerkan koleksi pribadinya kepada pecinta seni tekstil di Inggris.

Dikatakannya seni tekstil batik, tenun ikat dan songket disamping memiliki nilai seni yang sangat tinggi, memberikan kontribusi dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.

Rizal memandang kekayaan budaya Indonesia sebagai medium diplomasi yang efektif melalui jalur people-to-people.

Sementara itu, Quoriena Ginting menyampaikan rasa terima kasih kepada KBRI London yang memfasilitasi pameran seni tekstil koleksinya.

Selama dua hari publik Inggris dapat melihat seni tekstil batik, tenun ikat dan songket dari Indonesia yang sangat menarik, diantaranya ada yang langka karena berusia ratusan tahun dan ada juga yang membutuhkan proses pembuatan sampai lima tahun.

Dia menekankan pentingnya menjaga dan merawat warisan budaya bangsa Indonesia sebagai pembelajaran untuk generasi di masa datang.

Melalui pameran ini, publik Inggris dapat mengetahui dan memahami sejarah dan berbagai tradisi dalam kehidupan masyarakat Indonesia dari waktu yang lampau sampai masa sekarang.

Salah satu seni tekstil yang menarik perhatian pengunjung adalah kain batik yang diberi nama “Kereta Paksi Naga Liman” dari Cirebon, Jawa Barat, yang berasal dari Keraton Kanoman dan memperlihatkan berbagai pengaruh budaya dari luar Cirebon.

Selain motif mega mendung merupakan corak khas Cirebon, ada juga dipengaruhi budaya Islam (Arab), Hindu (India) dan Tiongkok digambarkan dalam kereta kencana ditarik binatang mistik Paksi Naga Liman. Sementara elemen budaya Eropa tergambarkan dari burung dengan sayap yang tampak sebagai emblem.

Sebanyak 80 koleksi pilihan pribadi Quoriena Ginting yang dipamerkan diantaranya kain panjang Batik Lasem Bang-Biron-ijo, silver songket Heni Adli, kain songket Bungo Cino Berantai, Djawa Hokokai Batik, Tapis Inuh Lampung, songket dan sulamam Minangkabau dan Limpa songke jok Flores.

Kehadiran Quoriena Ginting di London selain berpameran sekaligus meluncurkan buku berjudul “Nusawastra Silang Budaya: Indonesian Textiles at the Crossroads of Culture” edisi bahasa Inggris, sementara edisi bahasa Indonesia sudah diterbitkan tahun lalu.

Dikatakannya, bukunya tentang wastra Nusantara disusun dan diterbitkan untuk mengenalkan beragam jenis kain yang menjadi kekayaan budaya Indonesia.

Dengan mengenali berbagai seni tekstil Indonesia, maka akan tumbuh rasa cinta terhadap kain-kain tradisional Indonesia, demikian Quoriena Ginting.

Pengunjung pameran juga dapat ikut mencoba membatik dengan mengunakan canting dengan medium lilin malam.

Di sela-sela pameran, juga diadakan diskusi secara instensif bersama kurator dan seniman tekstil Eddy Soetriyono, pembatik Siti Maimona dan Adita Wasaina Ningsih serta Dr Lesley Pullen, ahli sejarah seni tekstil dari Inggris yang sangat memahami seni tekstil dari arca-arca kuno Jawa.

Pewarta:

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © ANTARA 2018

Related posts

Leave a Comment