Kekonyolan Rezim Klaim yang Jadi Olok-Olok Negeri Tetangga

Kekonyolan Rezim Klaim yang Jadi Olok-Olok Negeri TetanggaCalon Presiden Joko Widodo berorasi dalam acara Parahyangan Bersatu yang juga menjadi ajang silaturahmi dengan tokoh masyarakat dan relawan Balad Jokowi di Aula Villa Istana Bunga, Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (10/3/2019). Dalam kesempatan itu capres nomor 01 itu mengajak seluruh relawan untuk memerangi kabar bohong atau hoaks. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww.

Untuk kesekian kalinya, rezim Joko Widodo (Jokowi) kembali membuat malu Bangsa Indonesia di pentas internasional. Klaim pemerintah yang mengaku berjasa dalam membebaskan WNI, Siti Aisyah, terdakwa kasus pembunuhan, di Malaysia, menjadi bahan olok-olokan media massa negeri tetangga. Pasalnya, hanya berselang sehari, Perdana Menteri Mahathir Muhammad membantah klaim Jokowi dengan menyebut pembebasan itu murni proses hukum. Bukan berkat lobi-lobi diplomasi.

Klaim bohong penguasa itu tentu juga membuat malu rakyat Indonesia. Bangsa ini seakan kehilangan wibawa akibat kelakuan pemerintah seperti ini. Suka klaim, doyan bohong. Sudah lama mereka menjadi tukang klaim di dalam negeri, sehingga berbohong sudah menjadi suatu kebiasaan. Akibatnya, mereka jadi tak malu lagi untuk menebar kebohongan ke luar negeri.

Dua tahun lalu, Jokowi pernah mempermalukan dirinya di pentas dunia. Kala berbicara di hadapan sejumlah investor di Hong Kong, Senin (1/5/2017), ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di urutan ketiga di dunia, setelah India dan Tiongkok. Tentu saja, klaim ini menjadi bahan tertawaan. Sebab, berdasarkan peringkat GDP (gross domestic bruto) terkait pertumbuhan ekonomi, Indonesia berada di peringkat ke-29 dunia. Bahkan, di level Asia saja, negara kita hanya menempati urutan ke-14.

Klaim dan kebohongan seperti ini sudah kerap kali terjadi di dalam negeri. Di bidang pembangunan infrastruktur contohnya. Berkali-kali pemerintah Jokowi mencaplok karya pendahulunya. Padahal ia hanya kebagian menggunting pita peresmian, tetapi kredit keberhasilan tidak pernah ia bagi dengan era pemerintah sebelumnya. Seolah-olah pembangunan itu hanya berkat kerja pemerintahnya yang baru berjalan kurang dari tiga tahun.

Seperti klaim pembangunan jalan tol Sumatera, bendungan Jatibarang Semarang, hingga trans Papua. Padahal, semua proyek itu telah direncanakan dan dimulai pembangunannya sejak zaman Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tetapi bagi pemerintah Jokowi, semua itu diklaim sebagai program mereka.


Baca jugaSetnov Menangis dan Baca Puisi Saat Bacakan Pledoi

Lalu, juga ada klaim pesawat N 219 yang merupakan karya anak bangsa, diaku sebagai keberhasilan Jokowi. Padahal, pesawat yang sukses menjalani terbang perdana pada Rabu (16/8/2017) dari landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung itu, telah dibuat sejak tahun 2012, masa pemerintahan SBY. Bahkan pada 2013 telah dibuat prototipenya dan pada tahun berikutnya mulai diproduksi.

Akibat terlalu sering berbohong, penguasa seperti sudah kehilangan urat malu. Mereka terus saja melakukan klaim, demi meraup popularitas semata. Dalam kasus Siti Aisyah misalnya. Pemerintah mengklaim telah melakukan proses lobi yang panjang ke Pemerintah Malaysia. Mereka mengaku berkomunikasi dengan pemimpin negeri jiran itu untuk upaya pembebasan WNI yang didakwa membunuh Kim Jong-Nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un, itu.

Bahkan, cawapres petahana, KH Ma’ruf Amin, ikut-ikutan menebarkan kebohongan itu. Ia sesumbar dengan menyatakan pembebasan Siti Aisyah berkat lobi pemerintah yang dianggap selalu berusaha melindungi TKI. Bagi dia, hal itu merupakan kebehasilan diplomasi penguasa. Ini jelas sebuah kebohongan, karena Pemerintah Malaysia terang-terangan membantahnya. Dengan tegas, mereka menyebut tak ada campur tangan Pemerintah Indonesia dalam proses hukum di negeri mereka.

Rupanya, Kiai Ma’ruf lupa akan pernyataannya beberapa hari yang lalu. Saat ia mengecam penyebar hoax, para tukang bohong, dengan menyebut mereka adalah calon penghuni neraka. Kini, kiai justru termakan omongannya sendiri.

Untuk ke depan, kita semua berharap, agar Jokowi, Ma’ruf, dan para pejabat yang kini berkuasa, mulai berhati-hati dalam berujar. Jangan lagi menjadi tukang klaim, gerombolan para pembohong. Kekonyolan yang diperbuat tidak hanya akan membuat malu dirinya sendiri, tetapi juga aib bagi penduduk negeri ini. Tunjukkanlah kewibawaan, tampilkanlah keteladanan, bukan klaim rendahan yang membuat bangsa ini terus-terusan mendapat cemoohan dari dunia internasional.


Baca jugaJokowi Pastikan Gaji PNS Naik, Ini Kata Warganet

Oleh: Muhammad Fatih

Original Source

Related posts

Leave a Comment