Kekuatan Ledakan Meteor Laut Bering Versus Meteor di Langit Bone Indonesia

Liputan6.com, Houston – Sebuah meteor meledak di atas Laut Bering pada 18 Desember 2018. Insiden itu lolos dari deteksi teleskop di Bumi, termasuk versi canggih yang dimiliki Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Untungnya, insiden tersebut terjadi di wilayah terpencil tanpa penghuni, sehingga tak menghadirkan bahaya bagi manusia.

Baca Juga

NASA: Ini Penampakan Meteor yang Menyelonong ke Bumi dan Meledak di Atas Laut BeringDitemukan Sumber Bahan Kimia Terekstrem di Semesta, Ini Kata FisikawanKetika Paus Fransiskus dan Vatikan Membicarakan soal Masa Depan Robot

Menurut NASA, meteor di atas Laut Bering diperkirakan berdiameter 10 meter dan beratnya mencapai 1.500 ton. Batu angkasa itu sebesar itu lolos dari atmosfer saat melaju dengan kecepatan mencapai 115.200 kilometer per jam dan meledak di ketinggian 25 kilometer di atas permukaan laut.

Kekuatan ledakannya setara 173 kiloton TNT atau 10 kali lipat energi bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima, Jepang di penghujung Perang Dunia II.

Dua instrumen pada satelit Terra milik NASA, Moderate Resolution Imaging SpectroRadiometer (MODIS) dan Multi-angle Imaging SpectroRadiometer (MISR), menangkap penampakan ledakan tersebut.

NASA Abadikan ledakan meteor di atas Laut Bering (Credit: NASA/GSFC/LaRC/JPL-Caltech, MISR Team)

Jejak meteor digambarkan sebagai bayangan gelap berupa garis. Sementara warna oranye di bawahnya muncul dari udara super panas yang diciptakan oleh ledakan.

Menurut NASA, seperti dikutip dari situs sains LiveScience pada Senin (25/3/2019), bola api yang dipicu ledakan meteor tersebut adalah yang terbesar yang teramati sejak 2013. Namun, hal tersebut tak menimbulkan ancaman bagi manusia karena insiden tersebut terjadi di wilayah tak berpenghuni.

Ledakan serupa pernah terjadi di atas Laut Bone pada 2009 lalu.

Meteor Bone

Pada 8 Oktober 2009 sekitar pukul 11.00 Wita, suara ledakan keras mengagetkan masyarakat Bone, Sulawesi Selatan. Kala itu penyebabnya masih misterius, sejumlah spekulasi beredar: akibat gempa, meteorit, pesawat jatuh, hingga latihan rutin Sukhoi.

Baru 19 hari kemudian, tepatnya 27 Oktober 2009 dipastikan, ledakan tersebut dipicu meteor yang lolos dari atmosfer.

Menurut perkiraan NASA, meteor yang meledak di Bone berdiameter 10 meter dengan kekuatannya tiga kali bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima atau setara 50 ribu ton TNT.

Menurut ahli astronomi, Peter Brown dari University Western Ontario, Canada, kehancuran tak terjadi karena meterorit itu meledak pada ketinggian 15 sampai 20 kilometer di atas permukaan Bumi.

Meski tak menimbulkan korban, apa yang terjadi di Bone termasuk sembilan tonggak sejarah astronomi penting dunia yang terjadi pada 2009.

Seperti dimuat laman Telegraph, 27 Oktober 2009, insiden Bone telah memicu kekhawatiran tentang pertahanan planet bumi terhadap potensi benturan dengan benda-benda langit, termasuk meteor, terutama dengan ukuran yang lebih kecil yang tidak terpantau teleskop.

Original Source

Related posts

Leave a Comment