Konsep Wisata Solo Bergeser, Pengunjung Diajak Berinteraksi

Solopos.com, SOLO– Untuk mengembangkan pariwisata, karakter wisatawan menjadi acuan penyediaan destinasi. Saat ini destinasi wisata yang mengajak pengunjung untuk berinteraksi dinilai lebih diminati.

Saat ini beberapa daerah termasuk Solo terus berupaya mengenalkan destinasi wisata kepada masyarakat luar. Berbagai kegiatan mendukung promosi wisata terus dilakukan. Salah satunya adalah event Bengawan Solo Travel Mart (BTM) 2019 yang digelar Minggu (17/2/2019) lalu. Pada kegiatan tersebut, peserta BTM yang merupakan travel agent dari berbagai daerah diajak mendatangi beberapa destinasi wisata di Solo dan sekitarnya. Lokasi yang dikunjungi merupakan destinasi unik.

Beberapa tempat yang dikunjungi adalah Museum Sangiran, Padepokan Keris Brojobuwono, Rumah Atsiri, dan sebagainya. Menurut Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Solo, Pri Siswanto, destinasi yang dikunjungi pada acara BTM mendapat apresiasi para peserta. “Jika ditanya destinasi mana yang paling diminati? Kami kira cukup beragam, tergantung segmennya. Untuk segmen edukasi, banyak yang tertarik ke Rumah Atsiri, Sangiran, dan pembuatan keris,” kata Pri Siswanto kepada Solopos.com, Kamis (14/3/219).

Dia juga mengatakan Solo memiliki destinasi yang cukup unik dan menarik minat wisatawan, yaitu Sepur KluthukJaladara. Meski fasilitas yang hampir sama juga ada di Ambarawa, menurutnya, konsep di Solo lain.

Mengenai prediksi perkembangan pariwisata tahun ini, dia optimistis pariwisata di Solo dan sekitarnya akan terus tumbuh. “Pertumbuhan pariwisata secara umum selalu naik trennya hanya polanya yang harus mengikuti perkembangan. Dulu berwisata bisa cukup melihat, sekarang wisatawan lebih tertarik jika bisa terlibat langsung di lokasi wisata. Misalnya ada kegiatan yang bisa melibatkan wisatawan,” kata Pri.

Pada destinasi wisata edukasi, konsep yang melibatkan wisatawan di dalamnya juga banyak diminati. “Di Rumah Atsiri, wisatawan bisa terlibat dalam kegiatannya. Ada juga Ndalem Kopi [Karanganyar] yang menawarkan foto dengan pakaian tradisional. Itu juga diminati,” kata dia.

Promosi seperti BTM yang digelar setiap tahun berdampak positif terhadap perkembangan wisata di Solo dan sekitarnya. Meskipun demikian, belum ada data transaksi yang dibukukan. Melalui kegiatan itu, potensi di Solo dan sekitarnya bisa diketahui oleh masyarakat di luar Solo. Harapannya, pengunjung ke Solo meningkat. “Pantauan kami saat ini sudah berjalan. Ada komitmen buyermembawa tamu ke Solo. Tinggal tindak lanjut secara mandiri antara buyer dan seller,” kata Pri.

Petugas pemasaran Rumah Atsiri, Paramita Sari Indah W., mengatakan destinasi itu mulai dikenal masyarakat dan dikunjungi warga Soloraya maupun luar Soloraya. Dia menyebut BTM memberikan dampak positif bagi Rumah Atsiri sebab semakin mengenalkan kepada masyarakat luas. Menurut perempuan yang akrab disapa Mita, Rumah Atsiri terbuka untuk segmen umum dan pelajar. “Untuk segmen edukasi, ada paket workshop untuk kalangan pelajar maupun umum. Mengelilingi taman, ada pemandunya. Melihat tanaman atsiri, fungsi tanaman, eksperimen, cara menanam, menyuling dan sebagainya hingga praktik aplikasi minyak atsiri,” kata Mita.

Original Source

Related posts

Leave a Comment