Korsel Berupaya Pastikan Keselamatan Pembelot yang Ditahan China

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan berusaha sedapat mungkin untuk memastikan keselamatan tujuh warga Korea Utara yang ditahan di China setelah mereka melarikan diri dari negara asal mereka.

“Kami mengerahkan semua sumberdaya diplomatik kami untuk memastikan mereka selamat dan mereka tidak berakhir dengan dipulangkan ke Korea Utara secara paksa,” kata Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kang Kyung-wha.

Berbicara kepada wartawan di Seoul hari Jumat, Kang tidak merinci kasus itu, yang ia sebut “sangat sensitif.”

“Keselamatan mereka terancam. Ini juga memerlukan pembahasan yang pelik dengan negara penampung mereka, di manapun mereka berada,” ujar Kang.

Kelompok pembelot itu menghadapi kemungkinan pemulangan paksa ke Korea Utara, di mana mereka mungkin akan dijatuhi hukuman antara lain kerja paksa, dipenjarakan, disiksa atau dieksekusi.

China tidak mengakui warga Korea Utara itu sebagai pengungsi. Negara itu menganggap mereka sebagai migran ekonomi ilegal dan secara rutin mengirim mereka kembali ke Korea Utara.

Kelompok tersebut ditangkap bulan lalu di Liaoning, provinsi di bagian timur laut, setelah menyeberangi Sungai Yalu yang memisahkan China dan Korea Utara, kata para aktivis.

Di antara mereka yang ditahan adalah seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun. Ibu anak itu, yang meninggalkan Korea Utara beberapa tahun silam dan sekarang tinggal di Korea Selatan, telah muncul di beberapa protes di Seoul, memohon pihak berwenang untuk berupaya membebaskan putrinya.

Perjalanan dari Korea Utara semakin berbahaya dalam tahun-tahun belakangan ini, karena China meluaskan pengintaiannya di dekat perbatasannya dengan Korea Utara.

Pada 2018, 1.137 warga Korea Utara membelot ke Korea Selatan, sebut Kementerian Unifikasi Korea Selatan. Sepuluh tahun silam, angka tersebut hampir tiga kali lipat lebih banyak.

Meskipun tidak sering, China pada masa lalu membebaskan pembelot Korea Utara. Pada tahun 2018, China membebaskan 30 pembelot, setelah mendapat tekanan internasional, sebut laporan berbagai media.

Banyak aktivis mengeluh prioritas Korea Utara mengenai HAM telah berkurang di tengah-tengah perundingan mengenai program senjata nuklir Korea Utara. [uh]

Original Source

Related posts

Leave a Comment