Menengok Kerugian Materil Akibat Hoaks di Berbagai Negara

Merdeka.com – Kabar penyebaran hoaks kembali menyerebak di Indonesia. Baru-baru ini, kabar palsu mengenai pencoblosan kontainer berisi jutaan surat suara yang dicoblos.

BERITA TERKAITDirjen Bea Cukai Bicara Kebijakan Sistem Manifest Generasi IIIPemerintah Jokowi Bakal Manfaatkan 2.000 Ton Karet Jadi Bahan Campuran AspalMendag Sebut Harga Beras Akan Lebih Stabil di 2019, Ini Sebabnya

Hoaks ternyata tidak hanya merugikan reputasi penyebar, ada pula kerugian materil hingga puluhan juta pada rumah sakit dan bandara. Ini sudah terjadi sebelumnya di beberapa negara.

Di Inggris, sebuah hoaks via telepon pada 2017 merugikan pihak rumah sakit sebesar 2.465 pound sterling atau Rp 45 juta menurut kurs saat ini (1 pound sterling = Rp. 18.087). Itu merupakan ongkos yang dikeluarkan untuk pengiriman ambulans pada kasus hoaks tersebut.

Ongkos besar lainnya akibat hoaks juga harus diderita bandara Manchester. Di tahun 2014 ketika muncul hoaks bom di maskapai Qatar Airways. Dikutip dari The Guardian, Senin (7/1/2019), pengamat industri penerbangan menyebut evakuasi massal penumpang akibat hoaks ini memberikan kerugian puluhan ribu pound sterling atau ratusan juta rupiah.

Siapa yang akhirnya rugi dalam kasus hoaks tersebut? Yang memikul kerugian adalah para pembayar pajak karena dana yang keluar untuk menanggulangi kasus itu diambil dari pajak.

Tak hanya uang, hoaks juga bisa memberikan kerugian tidak terbatas. Ini terjadi di India ketika hoaks yang tersebar di WhatsApp membuat massa gelap mata dan merugikan diri orang lain.

Salah satu kasusnya, dua orang pria dihajar oleh puluhan warga karena ada hoaks yang menyebut mereka berdua akan melakukan pembunuhan dan menjual anggota tubuh, demikian laporan Reuters. Beruntung kedua pria itu selamat.

Namun, nasib berbeda dialami Shantadevi Nath. Akibat hoaks WhatsApp tentang penculik, wanita itu merenggang nyawa setelah dikepung dan dihajar 100 orang massa, sampai kemudian terkuak bahwa ia hanyalah seorang pengemis.

Sebelumnya, Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko menilai Badan Koordinasi (Bako) Humas Pemerintahan, baik di daerah dan kementerian belum berperan maksimal tangkal hoaks di dunia maya. Dia pun meminta humas pemerintahan daerah agar lebih gencar bergerilya di dunia internet.

“Sebenarnya belum bisa membuat keseimbangan antara masifnya berita hoaks di internet. Kita belum bisa mengimbanginya,” ujar Moeldoko pada acara Sinergi Aksi Informasi dan Komunikasi Publik (SAIK) 2018 di Novotel, Kota Tangerang, Senin, 3 Desember 2018.

Dia pun meminta humas di tiap pemerintahan daerah bergerak cepat dalam mengaktifkan media sosialnya dan sarana informasi serta komunikasi lain dalam dunia maya. Sebab, di Indonesia sendiri pengguna internet mencapai 142 juta orang.

“Orang di mana pun sudah melek internet, terutama media sosial. Makanya medsos itu seperti sarana luar biasa berkembangnya isu-isu politik dan SARA, ini mendorong (isu politik dan SARA) di posisi teratas,” tutur Moeldoko.

Reporter: Tommy Kurnia

Sumber: Liputan6.com[idr]

Original Source

Related posts

Leave a Comment