Menteri Hanif Beberkan Tantangan Pembangunan Ketenagakerjaan di Indonesia

Merdeka.com – Menteri Ketenagakerjaan, Muhammad Hanif Dhakiri membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Ketenagakerjaan Tahun 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta. Dalam kesempatan ini, dia menyoroti berbagai tantangan dan kondisi pembangunan ketenagakerjaan ke depan yang semakin berat.

BERITA TERKAITDirjen Bea Cukai Bicara Kebijakan Sistem Manifest Generasi IIIPemerintah Jokowi Bakal Manfaatkan 2.000 Ton Karet Jadi Bahan Campuran AspalMendag Sebut Harga Beras Akan Lebih Stabil di 2019, Ini Sebabnya

Menteri Hanif mengatakan, kondisi dan tantangan pertama datangnya dari level global. Menurutnya, berdasarkan International Monetary Fund (IMF) 2018 pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 berada pada kisaran 3,7 persen. Di mana motor pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 ini tetap pada negara-negara kelompok negara berkembang yang diprediksikan tumbuh sebesar 4,7 persen.

Bahkan, pertumbuhan ekonomi negara-negara di ASEAN diproyeksikan lebih tinggi lagi, yaitu 5,2 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju diproyeksikan hanya sebesar 2,1 persen.

“Ini artinya, pada saat ini dan masa-masa yang akan datang, ASEAN (termasuk Indonesia) telah dan akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi dunia. Oleh karena itu, kita semua perlu menatap masa depan bangsa ini dengan lebih optimis,” kata Menteri Hanif dalam membuka Rakornas 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (8/1).

Menteri Hanif mengatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi global yang meningkat saat ini, Indonesia perlu meningkatkan iklim kemudahan berbisnis dan peringkat daya saing secara terus menerus dan berkelanjutan. Kemudahan berbisnis di Indonesia meningkat dar 114 pada tahun 2015 menjadi peringkat 73 pada tahun 2019 (World Bank, Doing Business Report, beberapa tahun).

Sementara, indeks daya saing Indonesia menduduki peringkat 47 dari 135 negara pada tahun 2018 World Competitiveness Index 2018, WEF). “Oleh karena itu, sektor ketenagakerjaan harus memberikan kontribusi dalam meningkatkan kemudahan berbisnis dan daya saing agar investasi semakin berkembang, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan kita bersama,” jelasnya.

Tantangan dunia ketenagakerjaan kedua yakni datang dari kondisi di dalam negeri. Di mana angkatan kerja Indonesia, berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Agustus 2018 masih didominasi oleh pendidikan SMP dan ke bawah, yaitu sebesar 57,46 persen.

Namun demikian, tingkat pengangguran terbuka terus menurun dan mencapai titik terendah selama masa reformasi, yaitu, 5,34 persen. Seiring dengan menurunnya tingkat pengangguran, tingkat kemiskinan dan tingkat ketimpangan ekonomi juga menurun.

“Tingkat kemiskinan berada pada titik terendah selama Republik Indonesia berdiri, yaitu 9,82 persen (BPS, Maret 2018). Sedangkan tingkat ketimpangan ekonomi sudah berada pada kategori ketimpangan rendah, karena sudah berada di bawah 0,4, yaitu 0,389 pada Maret 2018 BPS,” jelasnya.

Menteri Hanif berharap melalui Rakornas kali ini seluruh tantangan dan pokok-pokok pembahasan dapat didiskusikan dengan baik. Sehingga seluruh capaian disektor ketenagakerjaan pada 2019 dapat tercapai.

“Dalam Rakornas kali ini saya meminta kepada saudara-saudara sekalian untuk saling berdialog, berdiskusi, dan memberikan solusi yang konstruktif bagi percepatan pelaksanaan program dan anggaran ketenagakerjaan tahun 2019, agar masyarakat dapat segera merasakan manfaat dari program-program ketenagakerjaan,” pungkasnya. [idr]

Original Source

Related posts

Leave a Comment