Min Flykt över Havet, Sebuah Ekshibisi Tentang Pengungsi di Swedia

Sepanjang waktu, orang-orang melarikan diri dari negaranya untuk kehidupan yang lebih baik. Mereka melarikan diri dari perang, kemiskinan, dan presekusi. Menyebrangi lautan kadang merupakan satu-satunya jalan untuk keluar. Dengan persiapan seadanya, lautan menjadi tempat dimana harapan dan ancaman berkumpul menjadi satu.

Setiap orang dalam pelarian memiliki kisahnya masing-masing. Setiap individu memiliki alasan, cobaan, serta harapan yang berbeda, namun mereka memiliki satu kesamaan, yaitu ingin tetap hidup.

Di perpustakaan kota Gothenburg, Swedia, tanggal 17 November 2018 – 14 April 2019 diadakan pameran Min Flykt över Havet (My escape over the sea) yang merupakan ekshibisi tentang para pengungsi yang menyebrangi lautan untuk bisa sampai di Swedia dari masa perang dunia ke-2 sampai hari ini. Ekshibisi tersebut menampilkan foto, video, maupun artikel dari berbagai pihak, mulai dari pengungsi, petugas perbatasan negara, hingga pemerintahan. Mari kita simak sebagian cerita mereka.

1. Cerita dari Öresund: melarikan diri dari kejamnya Nazi
Min Flykt över Havet, Sebuah Ekshibisi Tentang Pengungsi di Swediadok.pribadi

Öresund merupakan selat yang menghubungkan Denmark dan Swedia. Pada tahun 1930an Nazi mengubah pemerintahan Jerman menjadi kediktatoran dan menempatkan kaum Yahudi sebagai warga kelas 2. Hal ini meupakan cikal-bakal Holocoust. Setelah sebelumnya tidak mau menerima pengungsi, gelombang perang pada tahun 1943 mengubah pendirian Swedia. Pada Oktober 1943, Swedia menerima 8000 pengugsi Yahudi yang menyabrangi selat Öresund menggunakan kapal. Hingga 2 tahun berikutnya, Swedia menjadi tempat berlabuh 30.000 pengungsi dari Jerman. Sepertiga pengungsi tersebut datang ke Swedia melalui laut.

2. Cerita dari Östersjön: anak-anak yang berpisah dari tanah air dan orang tua
Min Flykt över Havet, Sebuah Ekshibisi Tentang Pengungsi di Swediadok.pribadi

Östersjön, atau Laut Baltik, merupakan jalan keluar bagi anak-anak Finlandia yang diserang oleh Uni Soviet pada November 1939. Perjalanan melewati laut merupakan hal yang menakutkan bagi anak-anak ini. Mereka masih terlalu kecil untuk pergi jauh tanpa orang tua. Semua anak-anak mengenakan kalung yang berisi informasi nama mereka, nama orang tua mereka, serta rute perjalanan, untuk mempermudah identifikasi, karena sebagian mereka masih terlalu kecil untuk bisa berbicara dan menjelaskan keadaan mereka. Sebanyak 80.000 anak-anak diterima oleh keluarga angkat mereka di Swedia hingga perang usai. Namun sekitar 7000 dari mereka tidak pernah kembali lagi ke Finlandia.

3. Cerita “orang-orang kapal” yang terusir dari Vietnam

Lanjutkan membaca artikel di bawah
Editors’ picks10 Penginapan di Lombok yang Murah, Harganya Cuma Rp100 Ribuan Lho!6 Lokasi Terbaik untuk Melihat Bunga Bangkai Terbesar di DuniaSudah Tahu Posisi Duduk Terbaik Saat Naik Roller Coaster Ini?
Min Flykt över Havet, Sebuah Ekshibisi Tentang Pengungsi di Swediadok.pribadi

Sebutan “orang-orang kapal” (boat people) muncul setelah ribuan orang-orang Vietnam melarikan diri dari negaranya pada akhir tahun 1970-an. Gelombang pengungsi tersebut membanjiri negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia. Namun kedatangan para pengungsi ini membuat ketegangan tersendiri di negara-negara tersebut. Konferensi PBB pada tahun 1979 akhirnya memutuskan negara-negara barat turut serta membantu memberikan perlindungan dan suaka terhadap para pengungsi ini. Swedia sendiri menerima sebanyak 5000 pengungsi.

Baca Juga: Bagaimana Sih Potret Kehidupan Kaum Muslim Minoritas di Swedia?

4. Cerita dari darat: long march demi kepastian hidup
Min Flykt över Havet, Sebuah Ekshibisi Tentang Pengungsi di Swediadok.pribadi

Pada tahun 2015, sekitar 300 orang pengungsi dari Syria, yang lelah menunggu tertahan tanpa kepastian di Denmark, menjalankan aksi berjalan kaki ke Swedia. Mereka membentuk rantai manusia yang panjang tanpa terputus. Aksi yang sama juga dijalankan oleh pengungsi dari Syria yang tertahan di Budapest, Hungaria. Mereka berjalan hingga ke perbatasan Austria. Meskipun beberapa negara menolak mereka, namun hal tersebut tidak menyurutkan niat penduduk-penduduk yang tinggal disana untuk membantu mereka. Mereka mendapatkan makanan dan minuman sepanjang perjalanan dari para relawan berbagai negara.

5. Cerita dari petugas perbatasan: antara nurani dan tanggung jawab
Min Flykt över Havet, Sebuah Ekshibisi Tentang Pengungsi di Swediadok.pribadi

Johanna Wemminger, petugas penjaga perbatasan di perairan Swedia, baru saja melakukan tugasnya pagi itu ketika dia melihat puluhan kapal berisi ratusan orang masuk ke perairan Swedia. Sebagai individu, dia ingin menerima semua masuk ke negaranya, tapi sebagai petugas kenegaraan, dia tau, dia harus melakukan berbagai prosedur untuk memastikan mereka bisa masuk dan diterima di Swedia. Petugas-petugas lain, seperti Johanna, melakukan tugasnya seperti, memberikan makanan, pakaian, dan selimut hangat, memberi perawatan segera terhadap yang sakit, sebelum akhirnya mendata dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Masih panjang jalan yang harus ditempuh untuk para pengungsi ini sebelum akhirnya mendapat suaka dan memulai hidup baru di negara yang sangat asing bagi dirinya sendiri.

Ekshibisi ini mengajarkan kita bahwa meskipun hal tersebut (perang, mengungsi, melarikan diri) tidak terjadi pada diri kita, bukan berarti itu tidak terjadi sama sekali. Kejadian ini nyata dan dekat dengan kita. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membantu mereka seperti berdonasi di lembaga yang terkait mengurusi masalah pengungsi. Cerita para pengungsi ini membuat kita tersadar bahwa tinggal dan hidup di negara yang aman dan tanpa perang merupakan nikmat yang tiada tara.

Baca Juga: FOTO: Pameran Artefak Rasulullah Pertama di Indonesia

Anisa Anggi Dinda Photo Verified Writer Anisa Anggi Dinda

Kinda find a good way to share some experience here. Enjoy!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Original Source

Related posts

Leave a Comment