Palu Meradang Dampak dari Rusaknya Pemerintah Rejim

Portaldailynet, Jakarta – Kondisi Palu belum reda dari ancaman gempa susulan. Gempa susulan terus mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah hingga siang ini. Gempa terbaru mengguncang Donggala, Senin (1/10/2018) pukul 12.43 WIB.

Gempa ini berkekuatan magnitudo 5,5 terjadi di lokasi 0,06 Lintang Utara dan 119,55 Bujur Timur, di 62 km Barat Laut Donggala. Pusat gempa berada di kedalaman 10 km.

Menurut lembaga nirlaba Aksi Cepat Tanggap (ACT), mencatat korban tewas akibat gempa bumi di Donggala dan Palu sudah mencapai 1.203 orang. Menurut laporan situasi terkini ACT, korban paling banyak yang meninggal berasal dari Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, yakni 700 orang.

Pengumuman itu berdasarkan data pada Senin (1/10), pukul 05.00 WIB. Rumah Sakit Undata Palu juga menampung korban meninggal terbanyak yakni 201 orang.

Dr Eka Erwansyah, dosen kedokteran Unhas anggota tim relawan Universitas Hasanudin mengatakan bahwa bencana Palu dalam pandangannya bukan hanya bencana Luar biasa, tapi bencana yang sungguh sangat luar biasa.

di Palu ada tiga pemusnah dalam tragedi ini. Pertama, gempa yang menelan banyak korban karena tertimbun reruntuhan bangunan. Kedua adalah tsunami yang menelan 1000 orang yang akan melakukan Venue Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) 2018 yang rencananya digelar 28-30 September 2018.

Ketiga adalah lumpur yang mengakibatkan ratusan rumah di Kelurahan Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah tertimbun lumpur hitam saat gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter mengguncang daerah itu, Jumat (28/9).

Lumpur hitam berasal dari tanggul kali yang terletak di bagian timur Kelurahan Petobo di Jalan H.M. Soeharto.

Gempa yang berkepanjangan ini yang tidak menyisakan sedikit pun, membuat masyarakat kekurangan makanan dan minuman. Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya penjarahan di beberapa toko serba ada.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyayangkan tindakan pengambilan barang yang dilakukan masyarakat terhadap toko-toko ritel di Palu dan Donggala.

Aprindo mencatat, hingga saat ini telah terjadi pengambilan barang oleh masyarakat di 40 gerai Alfamart dan 1 gerai Hypermart di Kota Palu.

Ketua Umum Aprindo, Roy N. Mandey menyayangkan pernyataan sikap Pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri yang berkesan arogan dengan memberikan izin bagi masyarakat untuk mengambil barang di toko Ritel yang ada di Palu dan Donggala.

“(Izin tersebut diberikan) tanpa koordinasi terlebih dahulu dengan para pemilik usaha atau management maupun menghubungi Aprindo sebagai Assosiasi Pengusaha Toko Modern,” kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (1/10).

Lebih lanjut, Roy menambahkan keputusan ini tidak mendidik masyarakat. Selain itu, pemerintah seolah-olah memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk bertindak diluar tata krama, moral, etika, multi tafsir dan kurang berbudaya.

Pertanyaannya sekarang adalah kenapa gempa di Kota Palu dan Donggala Sulawesi Tengah belum reda. Ada apa dibalik semua ini.

Namun, untuk menjawab persoalan diatas, perlu kiranya mengetahui kehidupan masyarakat kota Palu. Menurut mahasiswa anti-LGBT, dalam jumpa pers di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Kota Palu. Puluhan mahasiswi ini resah soal akun media sosial memiliki lebih seribu orang anggota.

Dalam pemaparannya, anggota aliansi Mahasiswa Anti-LGBT tersebut menyatakan hasil dari penelurusannya soal perilaku seksual menyimpang seperti lesbian, gay, biseksual dan transgender terus meningkat tajam. Dimana para pelaku LGBT tidak malu lagi untuk memperlihatkan perilaku seksual menyimpangnya. Bahkan memberikan komentar tajam seakan mengajak para pemuda lainnya untuk ikut dalam lingkaran praktik LGBT.

“Kita tahu bersama bahwa LGBT ini adalah perilaku yang menyimpang dan dilaknat Allah SWT. Kalau kita lihat, mengapa ini bisa begitu marak, ini didasari atas dasar paham sekuler,” kata Nulfa, Ketua Aliansi Mahasiswa Anti-LGBT.

Tidak hanya pria dewasa, ternyata praktik LGBT di Kota Palu sudah merambah para pelajar yang masih duduk di tingkat SMP dan SMA. Buktinya, terdapat grup penyuka sesama jenis khusus pelajar usia sekolah bernama “GAY SMP N SMA/SMK KOTA PALU”.

Grup tersebut bersifat tertutup namun berisi ribuan anggota aktif. Mengejutkan! Tak hanya sekedar nama, grup ini ternyata memang benar-benar berisi sekumpulan penyuka sesama jenis yang masih berusia pelajar.

Setelah menelusuri lebih mendalam tentang isi grup ini, ternyata banyak fakta dan pengakuan mengejutkan yang tersimpan mengenai perilaku LGBT yang mereka lakukan selama ini. Beberapa lelaki penyuka sesama jenis mengaku menjadi seorang gay sejak masih berada di bangku SMP. Bahkan ada pula yang menjadi gay saat masih SD.

Kenapa ini bisa berkembang pesat? Jawabnya karena LGBT dilindungi oleh undang-undang. Dalam RUU KUHP tidak menyatakan bahwa LGBT itu terlarang keberadaannya. Oleh karena itu, pelaku LGBT tetap bebas melakukannya asal tidak memenuhi syarat sebagai pidana.

Lebih parah lagi, pidana terhadap LGBT ternyata menggunakan delik aduan. Artinya, jika tidak ada pengaduan, maka perbuatan LGBT tidak bisa diproses pidana. Bahkan, syarat yang mengadukan pun dibatasi hanya oleh orang yang punya hubungan dengan si korban. Kalau anak, maka orangtuanyalah yang mengadukan. Kalau bukan, pasangannya yang mengadukan. Cuma itu.

Sebetulnya, pemerintah harus menyadari bahwa ini merupakan kesalahan yang fatal. Karena, bisa jadi ini merupakan faktor pemicu terjadinya gempa. Harusnya, pemerintah juga belajar dari kisah kehidupan orang masa lalu.

Kesimpulannya, banyaknya terjadi gempa, salah satunya gempa Palu yang berkepanjangan ini merupakan dampak dari buruknya pemerintahan hari ini.

(hr)

Related posts

Leave a Comment