Para Kandidat Siap Bertarung Jelang Pemilu Thailand

JawaPos.com – Pemilu Thailand tinggal menunggu waktu. Para kandidat berjuang mati-matian merebut hati rakyat. Itu adalah pemilu pertama setelah kudeta 2014 lalu menggulingkan Yingluck Shinawatra, perdana menteri (PM) ketika itu.

Hari masih pagi ketika Perdana Menteri (PM) Thailand Prayuth Chan-o-cha tiba di Lumphini Park, Bangkok. Mengenakan setelan berwarna gelap, Prayuth menyalami para lansia yang akan berolahraga. Kesan gahar pemimpin junta militer langsung luntur saat dia memenuhi permintaan warga untuk ikut bergoyang bersama. Dia juga menebar senyum lebar saat diminta untuk berfoto bersama.

’’Saya di sini untuk bekerja,’’ ujar pemimpin 65 tahun tersebut saat ditanya para jurnalis tentang alasannya tak memakai kaus olahraga saja.

Kunjungan Prayuth ke taman dengan ditemani banyak pekerja media memang tak biasa. Selama ini dia dikenal jarang mau diwawancarai. Hampir-hampir tak tersentuh. Dalam sebuah sesi konferensi pers, dia bahkan menyuruh para jurnalis untuk bertanya pada sebuah papan yang dipasangi gambarnya.

Prayuth memang masih berpeluang besar menang. Tapi tidak segampang yang diperkirakan di awal. Karena itu, dia berusaha sekuat tenaga untuk merebut hati rakyat. Mengubah citra junta militer menjadi lebih lembut dan manusiawi. Salah satunya adalah kunjungan ke Lumphini Park tersebut.

’’Lima tahun terakhir dia memimpin dengan kekuatan mutlak. Tapi, pemilu adalah tentang memenangkan hati dan pikiran rakyat. Militer dan para elite tradisional tidak ahli melakukannya,’’ ujar pakar politik Thailand dari Thammasat University Prajak Kongkirati.

Salah satu ancaman nyata bagi Prayuth adalah Thanathorn Juangroongruangkit. Seandainya undang-undang pemilu Thailand tak berpihak pada parpol promiliter, peluang Thanathorn untuk menjadi PM bakal sama besarnya dengan Prayuth. Politikus 40 tahun tersebut kini tengah naik daun.

Thanathorn adalah paket lengkap. Dia masih muda, berwawasan ke depan, miliarder, dan fisiknya lumayan. Terang saja, dia adalah pelari ultramarathon. Pendukung utamanya adalah pemilih pemula dan ibu-ibu. Para pendukungnya menyebut Thanathorn dengan sebutan Daddy. Dia bahkan disamakan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Selama ini Thailand terbelah menjadi kubu promiliter dan prokeluarga Shinawatra. Thanathorn memberikan pilihan baru bagi rakyat. Dia mendirikan partai yang diberi nama Future Forward Party. Sejak Mei lalu, dia bahkan melepas jabatannya di perusahaan untuk fokus di politik.

’’Jika ingin mengakhiri polarisasi politik ini, Anda butuh kekuatan baru yang bukan berasal dari salah satunya,’’ ujarnya.

Thanathorn memiliki massa yang lumayan besar. Ke mana pun dia berjalan, pasti ada yang meminta untuk foto bersama. Setiap kali dia tampil di acara televisi atau kegiatan lainnya, para pendukungnya menggila. Mereka bahkan kerap menunjukkan jari membentuk hati yang dipopulerkan artis-artis K-pop saat bertemu Thanathorn.

Bapak empat anak tersebut tahu bagaimana menjalin kedekatan dan membuat para pendukungnya senang. Beberapa waktu lalu pendukungnya mengirimkan puluhan botol tabir surya ke kantor partainya. Sebab, Thanathorn baru kampanye berjam-jam di bawah sinar matahari. Di akun Twitter-nya, dia langsung mengunggah foto dirinya yang memakai tabir surya itu di hidung dan pipinya.

Kepopulerannya membuat junta militer ketir-ketir. Terlebih, dia mengungkapkan misinya adalah mengakhiri rezim junta militer. Para pendukung Thai Raksa Chart diperkirakan akan mengalihkan dukungan untuknya. Partai tersebut dibubarkan gara-gara mengusung adik perempuan raja sebagai kandidat PM.

Thanathorn pun dijerat dengan dakwaan ujaran kebencian kepada kerajaan gara-gara unggahannya di Facebook di masa lalu. Jika terbukti bersalah, dia bisa dipenjara. ’’Jelas ini bermotif politik. Saya tidak takut, saya tak bersalah,’’ ujarnya. Tagar #savethanathorn pun marak.

Kandidat PM lainnya yang tak biasa adalah Pauline Ngarmpring. Dia adalah kandidat PM gay pertama di Thailand. Politikus yang diusung Mahachon Party itu tahu dirinya tak bakal menang. Meski begitu, Pauline tetap berkeliling untuk berkampanye. Dia dianggap sebagai simbol toleransi di Thailand.

Di lain pihak, belasan kandidat legislator memilih jalur pintas untuk tenar. Mereka mengubah namanya. Yang laki-laki mengadopsi nama Thaksin, sedangkan perempuan memilih nama Yingluck. Total, ada 15 kandidat yang berganti nama. Mereka berharap orang-orang yang masih setia dengan keluarga Shinawatra bakal memberikan suara hanya karena kemiripan nama.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia
Reporter : (sha/c22/sof)

#kandidat #pemilu thailand #thailand

Original Source

Related posts

Leave a Comment