PBNU Minta Semua Pihak Bersabar Menunggu Hasil Rekapitulasi KPU

JAKARTA (VOA) —

Nahdhatul Ulama sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bersama sepuluh organisasi Islam lainnya meminta semua pihak bersabar menunggu hasil rekapitulasi sedang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Seperti sudah diperkirakan banyak pihak, pemilihan umum kali ini menjadi pesta demokrasi paling sengit. Setelah pemungutan suara usai pada 17 April lalu, kedua pasangan calon, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, sama-sama mengklaim menjadi pemenang.

Hampir semua lembaga survei merilis hitung cepat memang memenangkan calon petahana. Namun Prabowo sejak awal sudah mendeklarasikan sebagai pemenang pemilihan umum berdasarkan hasil hitung suara riil. Ia menuding kubu petahana melakukan banyak kecurangan dan bahwa seluruh lembaga survei yang melakukan quick count adalah “tukang bohong.”

Suhu politik pun memanas.

Prabowo Subianto menuding seluruh lembaga survei hitung cepat tukang bohong, dalam syukuran kemenangannya di Kertanegara, Jakarta, Jumat (19/4). (Foto courtesy: VOA/Ghita Intan).
BACA JUGA:
Prabowo : Seluruh Lembaga Survei Hitung Cepat Tukang Bohong

NU: Pemilu adalah Bukti Kedewasaan Bernegara

Menanggapi perkembangan tersebut, Nahdhatul Ulama sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bersama sepuluh organisasi Islam lainnya meminta semua pihak bersabar menunggu hasil rekapitulasi sedang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Kesepuluh organisasi Islam itu adalah Syarikat Islam Indonesia (SII), Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad al-Islamiyyah, Mathlaul Anwar, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Al-Wasliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Persatuan Umat Islam (PUI), dan Himpunan Bina Muallaf.

Dalam jumpa pers berlangsung di kantornya, Jumat (19/4), Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menekankan Pemilihan Umum 2019 menjadi bukti kedewasaan dan kematangan bangsa Indonesia dalam konteks bernegara. Dia menambahkan pemilihan umum serentak, pemilihan presiden dan pemilihan legislatif dalam satu hari, juga menjadi bukti nyata bangsa Indonesia berkomitmen menjaga persatuan dan kesatuan.

Nahdhatul Ulama bersama 10 organisasi Islam lainnya jumpa pers di kantor PBNU, Jumat (19/4) meminta semua pihak bersabar menunggu hasil rekapitulasi sedang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). (Foto: VOA/Fathiyah)Nahdhatul Ulama bersama 10 organisasi Islam lainnya jumpa pers di kantor PBNU, Jumat (19/4) meminta semua pihak bersabar menunggu hasil rekapitulasi sedang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). (Foto: VOA/Fathiyah)

Pada kesempatan itu, Said Aqil membacakan sejumlah seruan bersama kepada umat Islam.

“Mari kita bersabar untuk menunggu hasil rekapitulasi penghitungan perolehan suara pemilu yang dilakukan oleh KPU sebagai satu-satunya lembaga yang diberi kewenangan oleh perundang-undangan yang berlaku,” kata Said Aqil.

PBNU dan 10 Ormas Islam Minta Semua Pihak Menahan Diri

PBNU dan kesepuluh organisasi Islam tersebut meminta semua pihak menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum, apalagi bersikap institusional. Kalau merasa keberatan terhadap hasil pemilihan umum, lanjut Said Aqil, harus menggunakan saluran yang disediakan oleh konstitusi untuk mencari penyelesaiannya.

PBNU dan organisasi Islam lainnya mengajak seluruh komponen bangsa segera melakukan rekonsiliasi dan mengajak seluruh umat Islam untuk memperbanyak doa, zikir, serta salawat agar bangsa Indonesia mendapat berkah dari Allah.

Said Aqil menegaskan Islam tidak mengharam demokrasi, bahkan keduanya saling memperkuat. Menurutnya, Islam bisa kuat dengan sistem dekorasi, demoktasi bisa memiliki ruh jika diisi dengan nilai-nilai Islam.

Menteri Polhukam Wiranto (tengah) didampingi Kapolri Tito Karnavian (kiri) dan Kasau Hadi Tjahjanto (kanan), memberikan keterangan kepada media dalam konferensi pers di Jakarta, 18 April 2019.
BACA JUGA:
Menko Polhukam Minta Semua Pihak Tahan Diri Pasca Pemilu

Ketua Umum Persatuan Umat Islam (PUI) Nazar Haris mengatakan seruan ini dibutuhkan supaya umat Islam tidak resah karena semua informasi mengenai hasil pemilihan umum beredar di media sosial bisa ditafsirkan beragam. Dia mengkhawatirkan umat Islam terbelah.

Dia menyerukan kepada umat Islam untuk tetap tenang dan tetap mengikuti tahap-tahap demokrasi yang sedang berlangsung.

“Kita mengingatkan kepada semua elemen supaya menjaga kejujuran, keadilan. Jangan sampai ada ambisi-ambisi tertentu yang kemudian merusak nilai demokrasi yang sudah kita bangun. Intinya, kita ingin keutuhan NKRI tetap ada,” ujar Nazar.

Ketua Umum Al-Irsyad Abdullah Zaidi menyatakan seruan ini dibutuhkan untuk mewujudkan umat Islam dan bangsa Indonesia dalam keadaan kondusif, damai, dan beradab.

“Yang sangat kita harapkan adalah masing-masing paslon dapat menahan diri, terutama para pengikutnya, menahan diri untuk tidak menyebarkan hal-hal yang memperuncing situasi, memprovokasi umat,” tutur Abdullah.

Abdullah mengharapkan umat Islam tidak terprovokasi dan tidak memperkeruh situasi karena sudah pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk mengawasi pelaksanaan tahapan-tahapan pemilihan umum. Selain itu, kedua kubu juga bisa ikut memantau sehingga apapun hasilnya harus diterima dengan lapang dada.

Abdullah memohon kepada umat Islam dan bangsa Indonesia agar jangan sampai terjadi sesuatu yang akan meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan dan agama yang kita junjung tinggi. (fw/em)

Original Source

Related posts

Leave a Comment