Perubahan karakter dalam mengkritisi film

Film Bohemian Rhapsody ditahbiskan menjadi film terbaik di kategori drama dalam ajang Golden Globes Awards ke-76 yang berlangsung di Beverly Hills, California, Amerika Serikat (7/1/2019) WIB.

Banyak kritikus menilai pemenangan Bohemian Rhapsody oleh para anggota Hollywood Foreign Press Association merupakan noda.

Pasalnya ada film lain yang menurut mereka lebih pantas menang, sembari menyodorkan A Star is Born. Demikian intisari dari derasnya kritikan yang terkirim di media sosial.

David Ehrlich, kritikus film senior di IndieWire, menulis seperti ini via akun Twitter-nya, “Bohemian Rhapsody mungkin adalah hal terburuk yang pernah memenangkan sesuatu.”

Seolah belum cukup, Ehrlich juga mengomentari kemenangan Rami Malek sebagai pemeran utama pria terbaik dengan sinisme.

Pemeran Freddy Mercury dalam film Bohemian Rhapsody itu disebutnya akan menjadi aktor pertama yang memenangkan Golden Globe dan Razzie Awards untuk peran yang sama.

Razzie alias Golden Raspberry Awards adalah ajang penghargaan yang seluruh kategorinya berdasarkan penilaian terburuk.

Beberapa yang pro dengan kemenangan Bohemian Rhapsody –juga Malek– tak kalah ngotot memberikan pembelaan.

Salah satunya meluncur dari Joe Carnahan. Sineas asal Amerika Serikat itu menyebut Bohemian Rhapsody adalah film yang bagus. Pun dengan Malek yang dianggapnya tampil luar biasa memerankan Freddie Mercury.

Beberapa akun yang telaten mengulas film di Indonesia juga ikutan riuh saling melempar argumen sebagai bentuk pro dan kontra.

Pemandangan serupa terjadi juga dalam setiap penyelenggaraan Piala Citra atau ajang penghargaan sejenis. Alhasil linimasa Twitter jadi ramai.

Mengapa sebuah film memantik perdebatan sedemikian rupa? Sebab film bukan sekadar media hiburan. Ada banyak sisi magis lain film, salah satunya membentuk atau mengubah pola pikir.

Itu sebabnya ketika Jepang menjajah Indonesia, film menjadi salah satu corong utama menyebarkan propaganda. Pun saat Orde Baru berkuasa lebih dari tiga dekade.

Lalu, apakah “ribut-ribut” soal film hanya boleh dilakukan oleh kritikus film yang telah melalui standar kualifikasi tertentu? Jika pertanyaan ini dimunculkan tiga atau dua dekade silam, jawabannya mungkin iya.

Sekarang peta sudah berubah. Kritik film tak melulu hadir melalui halaman media cetak, semisal koran, tabloid, dan majalah. Internet membuka lahirnya platform baru. Menciptakan banyak kanal yang bisa dijadikan medium untuk mengupas sebuah film dari beragam aspek.

Ulasan tentang film tersebar melalui tulisan di blog pribadi dan akun-akun media sosial yang spesifik menjadikan film sebagai konten utama. Sebut misal My Dirt Sheet, danieldokter.com, Cine Tariz, atau WatchmenID.

Kritik juga kini tak melulu disampaikan lewat tulisan seperti yang selama ini eksis. Kurun beberapa tahun belakangan, YouTube dimanfaatkan sebagai sarana menyampaikan penilaian terhadap sebuah film. Hadirlah kemudian kanal seperti Cine Crib dan Sumatran Big Foot.

Perkembangan layanan pengaliran suara beserta aplikasinya, semisal SoundCloud, Spotify, atau Anchor FM juga memantik tumbuh kembang para pengulas film. Contoh yang memanfaatkan medium ini, antara lain ShowBox, Podcast Kelar Nonton, dan Asal Ulas.

Sekelompok kritikus film dan narablog yang bersemangat dengan film bahkan menggagas situs web bernama Indonesian Film Critics (IDFC). Isinya adalah ulasan film lokal –dan asing– yang telah dirilis di bioskop Indonesia.

Jika ingin menuliskan satu per satu nama-nama yang telaten mengulas soal film Indonesia, artikel ini bisa akan sangat panjang. Intinya figur pengulas film kita tak pernah seramai ini.

Para finalis lomba penulisan kritik film Indonesia yang diselenggarakan Pusbang Film Kemdikbud (6/12/2018)
Para finalis lomba penulisan kritik film Indonesia yang diselenggarakan Pusbang Film Kemdikbud (6/12/2018) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Pada Minggu yang terik di selatan Jakarta, saya bergegas menghadiri sesi diskusi tentang kritik film yang diselenggarakan secara gratis oleh Kinosaurus di Kemang (8/7/2018). Setibanya di sana, semua kursi sudah terisi.

Saya terpaksa harus berdiri bersama puluhan orang lainnya yang meluber hingga keluar ruangan. Alexander Matius selaku programer Kinosaurus sekaligus moderator mengaku terkejut melihat antusiasme peserta. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Diskusi itu menghadirkan Eric Sasono, Adrian Jonathan, dan Stephany Josephine sebagai pembicara. Tampak pula Edwin (sutradara terbaik di Piala Citra 2017) dan Ronny P. Tjandra (aktor) yang duduk di pojok kiri dan kanan ruangan.

Dalam pemaparannya, Eric menyebut bahwa di luar negeri terdapat perbedaan memaknai review dan kritik.

Review sebatas ulasan seperti kebanyakan sekarang. Sedangkan kritik yang asalnya dari kata critique dianggap lebih mendalam. Peranan kritik adalah mengulas film sebagai produk budaya alih-alih sekadar tontonan atau panduan konsumen.

“Saya sendiri cenderung tidak suka dengan pembedaan seperti itu. Bagi saya semua tergantung media dan pembacanya. Kalau diminta menulis oleh majalah Sight & Sound, tentu saya akan menulis dengan pendekatan ala critique. Kalau menulis untuk media yang lebih populer, saya akan memfungsikan tulisan itu sebagai review,” jelas Eric yang juga dikenal sebagai salah satu pendiri situs web Rumah Film.

Adrian Jonathan bersama teman-temannya di Cinema Poetica bersepakat, kritik adalah uji kelayakan akan suatu hal menurut suatu dasar alias perspektif tertentu.

Oleh karena itu, hasil tulisan-tulisan kritik film akan berbeda sesuai perspektif penulisnya. Perspektif juga terkait banyak hal, mulai dari selera, preferensi, nalar, hingga pengalaman sehari-hari.

Celakanya, karena budaya kritik dibungkam puluhan tahun oleh penguasa Orde Baru, banyak yang tak siap dengan berondongan kritik, termasuk kalangan produser, sutradara, atau pemain film. Terutama kritik yang pedas alias nyelekit.

Teppy yang mengaku bukan pengulas dan kritikus film pernah punya pengalaman terkait alergi kritikan tersebut.

Ia mendapat “teror” di Twitter dari para para penggemar salah satu film yang diulasnya melalui blog The Freaky Teppy.

“Sampai pemain-pemainnya juga ikutan baper (terbawa perasaan, red),” lanjut Teppy yang sekarang mengampu acara “Teppy O Meter”, sebuah tayangan video berisi penilaian terhadap film-film Indonesia.

Eric dan Adrian ketika awal mengulas film juga pernah merasakan pengalaman serupa. Mendapat protes dari sang pembuat film yang mereka kritik.

Menurut Teppy, siapa saja yang sudah merogoh kocek pribadi untuk menonton film berhak mengkritik apa yang telah ditontonnya. Adrian juga mengamini pendapat tersebut karena pada hakikatnya kritik adalah hak yang melekat dalam setiap orang.

Walaupun semua berhak mengkritisi film, tidak semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Contohnya menulis bahwa sebuah film jelek, tapi absen menjelaskan unsur atau ukuran apa yang membuat film tersebut jelek.

“Yang menjadi tantangan itu bagaimana menuangkannya dalam bahasa yang bisa dikomunikasikan dengan jelas,” tambah Adrian.

Angga Dwimas Sasongko sedikit berbeda. Kala menyambangi kantor Beritagar.id (7/5/2018), sutradara Filosofi Kopi itu menganggap posisi kritikus film lebih sakral ketimbang reviewer.

“Kalau tulisannya masih sebatas pembahasan soal akting jelek atau alur cerita yang lambat menurut gue sih sebutannya masih reviewer. Cuma gue tetap menghargai tulisan seperti itu,” ungkap Angga.

Seorang kritikus dari kacamata Angga harusnya menyajikan tulisan yang membedah dengan dalam sebuah karya. Olehnya dibutuhkan pemahaman dasar soal teknis dasar, semisal apa itu shot, cutting, montage, atau mise en scene, agar posisinya setingkat lebih dibandingkan penonton awam.

“Kehadiran kritikus bikin gue sebagai sineas jadi lebih tanggap dan aware ketika akan berkarya lagi. Membuat kita tumbuh,” pungkasnya sembari menyebut nama Eric Sasono yang diakuinya sebagai kritikus.

Film Milly & Mamet arahan Ernest Prakasa (keempat dari kanan) yang menuai banyak respons positif dari kritikus sekaligus meraih banyak penonton
Film Milly & Mamet arahan Ernest Prakasa (keempat dari kanan) yang menuai banyak respons positif dari kritikus sekaligus meraih banyak penonton | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Menurut Eric, munculnya perbedaan memaknai pengulas dan kritikus film tak bisa dilepaskan dari hegemoni media cetak pada era-era sebelumnya.

Para pengulas film yang mendapatkan tempat untuk menulis harus memenuhi sejumlah syarat yang ketat. Jangan heran jika peraih predikat kritikus film Indonesia pada masa lalu punya privilese.

Saat menemui Salim Said di kantornya, Institut Peradaban, Menteng Dalam, Jakarta Selatan (1/8/2018), mantan penulis kritik film cempiang di Majalah Tempo itu berkisah kerap mendapat undangan dari para produser.

“Mereka mengajak saya menonton terlebih dahulu versi rough cut filmnya sebelum rilis ke publik. Setelah itu menanyakan penilaian saya terhadap film tersebut,” kenang Salim (75) yang kini sudah pensiun mengulas film.

Hadirnya internet yang melahirkan banyak platform mengulas film membuat karakter mengkritisi atau mengulas film ikut berubah.

“Cukup tulisan singkat di Twitter atau Instagram. Para sineas pun menyadari angin perubahan tersebut. Tak jarang kita melihat sineas me-retweet atau me-repost ulasan pendek tentang film mereka di media sosial. Artinya mereka turut memanfaatkan fenomena ini,” ujar Eric.

Pun demikian, pria yang kini mengambil studi doktoral di Film Studies Department, King’s College, London, Inggris, itu menganggap kritik-kritik yang lebih serius dan mendalam tetap perlu ada demi menghadirkan keberagaman.

John De Rantau (49) mengutarakan hal serupa. Sutradara film Wage itu melihat bahwa di tengah perkembangan kritik film sekarang yang tak lagi harus terkungkung jumlah halaman, tenggat, dan tema, kritikus seharusnya bisa lebih berkembang laiknya para pembuat film independen.

Sebagai salah satu juri dalam lomba penulisan kritik film 2018 yang diselenggarakan Pusbang Film Kemdikbud, John melihat banyak naskah peserta yang masih berupa sinopsis.

“Ditambah sedikit trivia yang mungkin dicuplik dari hasil googling ketimbang telaah mendalam,” sambungnya.

Aspek kebahasaan juga menjadi sorotan para dewan juri. Soalnya masih banyak juga yang mencampurkan Bahasa Indonesia dan Inggris dengan rancu.

Perihal film-film yang disutradarainya mendapat banyak ulasan negatif, John tak ambil pusing. Baginya sebuah karya sudah bukan milik pembuatnya ketika rilis di pasaran sehingga orang bebas menilai apa saja.

Ernest Prakasa juga mengaku legawa dengan segala hasil ulasan terkait film-filmnya. Saran Ernest, lebih elok jika menyampaikan kritik dengan menggunakan bahasa yang tidak tajam dan jahat.

“Penyampaian seperti itu hanya akan membuat orang defensif dan akhirnya kritik lu mental. Padahal kritik bisa dikemas dengan lebih baik tanpa menghilangkan esensi yang ingin disampaikan. Bisa menjadi win-win solution,” pungkasnya.

Seperti halnya perfilman Indonesia yang meningkat secara kuantitas, kritik film juga diharapkan demikian.

Apakah nanti akan berbanding lurus antara kualitas dengan kuantitas, waktu yang akan menjawab. Sebab menjadi pengulas, pengkritik, atau apa pun sebutannya adalah pekerjaan yang tak selesai. Harus senantiasa diasah dengan cara terus menonton dan menulis.

Untuk saat ini, sepatutnya insan perfilman bersuka cita. Sebab ada kesadaran untuk membuat ekosistem perfilman tetap seimbang. Karena bagaimanapun juga kritikus film sejatinya bagian dari ekosistem perfilman.

Imbas lain dari semakin banyaknya orang yang membicarakan dan mengulas film Indonesia, entah hanya menyentuh permukaan atau menukik, merupakan bagian dari merayakan film Indonesia.

Pada akhirnya, mencuplik tulisan Eka Kurniawan, novelis yang sempat pula mengulas film di Majalah F, “Tak ada kritik film yang lebih pedas selain penonton yang tidur di kursi bioskop.”

Original Source

Related posts

Leave a Comment