Petani Panen Raya, Kenapa Pemerintah Malah Impor Jagung

Portaldailynet, Jakarta – Terkait produksi jagung, Data Badan Pusat Statistik (BPS) sudah memberi keterangan resminya. BPS menyimpulkan produksi dan pasokan jagung tahun 2018 sudah surplus sebesar 12 juta ton pipilan kering (PK).

Selama 3 tahun ini, Indonesia sudah menghentikan impor jagung, yang biasanya 3,5 juta ton pertahun atau setara menyelamatkan devisa Rp 10 triliun. Bahkan di tahun 2018 saja, sampai bulan Oktober, Indonesia sudah mengekspor 370 ribu ton jagung ke negara tetangga.

Perhitungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyimpulkan realisasi luas tanam bulan Juni-September 2018 mencapai seluas 1.318.284 hektare, dengan perkiraan panen bulan September-Desember seluas 1.263.170 hektare. Dari perhitungan tersebut, diprakirakan produksi yang dihasilkan sebesar 7,18 juta ton PK.

Dari sisi konsumsi, diperkirakan pada bulan tersebut kebutuhannya mencapai 5,13 juta ton PK yang terdiri untuk konsumsi langsung, industri pakan, peternak layer, industri pangan lainnya dan produksi benih. Artinya masih ada surplus 2,05 juta ton PK di periode bulan September – Desember.

Kondisi tersebut menunjukkan suplai jagung dalam negeri akan tetap aman sampai akhir tahun.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan lagi-lagi membuka keran impor untuk komoditas jagung pakan. Padahal belum lama ini Kementerian Pertanian baru saja mengekspor ratusan ribu ton komoditas jagung ke beberapa negara tetangga.

Meski bertolak belakang namun sejumlah kementerian terkait kegiatan ekspor dan impor seolah tutup mata. Pasalnya, dalam rapat koordinasi yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Ekonomi Darmin Nasution Jumat (2/11) lalu kembali isu impor 100 ribu ton jagung pakan dibahas. Menurut Darmin keputusan ini harus diambil dengan alasan sederhana, yakni harga jagung pakan mahal dan dirasa memberatkan peternak ayam mandiri.

Direktur Eksekutif Petani Centre, Entang Sastraatmadja menilai impor pakan jagung ini adalah permintaan segelintir kalangan elit di republik ini yang tidak ingin petani jagung lokal maju.

“Impor ini menurut saya lebih banyak digaungkan di kalangan elit. Orang yang punya kepentingan-kepentingan sesaat begitu. Dijadikan menggoreng isu impor ini menjadi sesuatu yang sangat penting,” ujar Entang di Jakarta, Sabtu (5/11).

Sebagai fakta lapangan, lanjutnya, sebagian besar petani di Pulau Jawa hanyalah petani gurem dan buruh tani. Bahkan mereka yang memiliki lahan diatas lahan diatas 2 hektar juga sangat sedikit. Jadi, bagi mereka tidak ada persoalan pemerintah akan impor jagung pakan atau tidak.

“Nah kalau kita lihat mereka, mereka tidak terlalu peduli dengan impor atau tidak. Yang penting bisa bekerja, bisa menyewa sawahnya, supaya kebutuhan hidup kesehariannnya terpenuhi,” kata Entang.

Diwawancara terpisah, Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI), Sholahuddin mengaku khawatir keputusan pemerintah ini akan menurunkan semangat petani jagung. Pasalnya sebagian besar petani jagung di sentra produksi memasuki masa tanam. Bahkan sejumlah lokasi di Jawa Timur, seperti Jember, Tuban, Kediri, Jombang, dan Mojokerto sekitar dua pekan mendatang justru akan segera memasuki panen raya.

“Kalau ada yang menyebut impor perlu dilakukan karena stok menipis kami bisa mentahkan itu. Saat ini pabrik pengering kami di Lamongan saja masih ada stok 6.000 ton. Di Dompu juga masih stok banyak karena di sana masih ada panen”, terang Sholahuddin.

Sholahuddin memperkirakan impor jagung pakan ini akan direalisasikan Kemendag bulan Januari 2019 mendatang. Momen tersebut justru bertabrakan dengan musim panen raya jagung yang dinantikan oleh petani.

“Kalau impor masuk saat panen, petani sudah bisa membayangkan harga jagung mereka akan anjlok”, jelasnya.

Hal semacam inilah yang kontradiktif, disaat petani panen raya pemerintah malah menggulirkan impor, tentunya akan berimbas pada perekonomian para petani.

Seharusnya pemerintah memberikan dukungan dan mendorong petani dalam produktivitasnya agar lebih semangat. Bukan malah mengimpor saat petani sedang panen raya.

(fr)

Related posts

Leave a Comment