Polri Pilih Kasih dalam Ungkap Kasus Novel

Pimpinan KPK sambut Novel Baswedan. ©2018 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Portaldailynet, Surabaya – Penyidik senior KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Novel Baswedan sudah mulai aktif lagi menjalankan tugasnya. Dan langsung mendesak Presiden Jokowi untuk mengusut tuntas kasus yang menimpanya.

Ketua KPK Agus Rahardjo ikut menyambut langsung Novel Baswedan yang kembali masuk kerja hari ini. Agus menegaskan perlu adanya kejelasan tentang kasus yang menimpa Novel.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kasus yang menimpa Novel Baswedan ini terjadi sekitar satu tahun yang lalu. Selasa, 11 April 2017, jamaah masjid Jami Al-Ihsan di RT 003 RW 010 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, dikejutkan oleh teriakan Novel Baswedan setelah salat subuh. Penyidik KPK itu kesakitan dan matanya dirasakan perih karena disiram air keras oleh orang tak dikenal.

Novel mengungkapkan bahwa dirinya akan terus meminta kepada pemerintah untuk tetap menuntaskan kasusnya. Meskipun pihak Polri tak mau mengungkap kasus penyiraman air keras kepada dirinya. Sejak teror yang menimpanya 11 April 2017 lalu sampai hari ini pelaku penyiraman air keras itu tak kunjung terungkap.

Pertanyaan yang muncul adalah ada apa polisi tidak mau mengungkapkan kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan.

Ada beberapa kemungkinan mengapa polisi tidak ungkap kasus Novel. Pertama, polisi tidak adil dalam menangani kasus yang terjadi di negeri ini.

Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais mengatakan bahwa soal polisi sedang menjalankan sandiwara dalam mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Amien Rais pun membandingkannya dengan pengungkapan kasus Teror Bom I pada 2002. Polisi kata itu berhasil dengan cepat mengungkap dan menangkap pelakunya. Bahkan, kecepatan pengungkapan kasus Bom Bali I itu membuat Indonesia mendapat pujian dari dunia internasional.

Kemungkinan berikutnya adalah polisi tidak serius dan nampak seperti sedang melakukan sandiwara politik.

KOALISI Masyarakat Sipil Peduli KPK menilai polisi tidak profesional dalam mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Perwakilan koalisi, Alghiffari Aqsa, menegaskan polisi seharusnya bisa mencari sidik jari pelaku yang menyiram air keras pada 11 April silam.

“Orang yang ingin menyiram air keras butuh tenaga yang besar. Pasti memegang cangkirnya erat. Akan tetapi, kenapa bisa tidak ada sidik jari, sudah dihilangkan atau seperti apa.

Kesimpulannya adalah bahwa pihak kepolisian bersikap tidak tegas dan tebang pilih dalam menangani kasus. Apalagi kalau kasus itu menimpa umat Islam, mereka lamban namun jika yang melakukan orang Islam mereka bisa menyelesaikan dalam waktu yang sangat singkat.

(HR)

Related posts

Leave a Comment