Proses Mencari Tuhan, Mahershala Ali Mantap Jadi Mualaf

LONDON – Proses pencarian Tuhan bisa menjadi sebuah proses panjang dan sangat emosional bagi seseorang. Terutama ketika mereka merasa telah menemukan Tuhan dengan keyakinan yang berbeda yang dianut keluarga dan bahkan dirinya sebelumnya. Proses panjang ini pulalah yang dialami aktor Mahershala Ali.

Terlahir dengan nama Mahershalalhashbaz Gilmore, Mahershala merasakan pahit getirnya kehidupan di usia muda. Dia mulai mempertanyakan Tuhan yang dia cari ketika berusia 20an. Sepanjang hidupnya, Mahershala dibesarkan di tengah keluarga Kristen yang taat. Kakeknya adalah seorang Penatua. Jabatan ini kemudian disandang ibunya, Willicia.

Kehidupan masa kecil Mahershala tidaklah terlalu mulus. Ayahnya, Phillip, tiba-tiba meninggalkan keluarga itu demi mengejar kariernya sebagai seorang aktor. Phillip adalah seorang penari amatir yang pada akhir 1970an diundang untuk tampil di acara televisi bernama Soul Train. Dia menang, pulang dengan membawa mobil sport dan kemudisn pergi ke New York untuk bekerja di teater. Selama hampir 20 tahun sampai dia meninggal pada pertengahan 1990an, Phillip tampil di sejumlah drama musikal Broadway. Mahershala beberapa kali berkunjung, tapi tidak terlalu sering bertemu ayahnya karena pekerjaannya itu.

Baca Juga:Tembus 5 Juta Penonton, Preman Pensiun Akan Nangis Bareng di BaitullahDuo Rohman Konsisten Suguhkan Musik Kekinian Berbalut Religi

Tanpa kehadiran ayahnya, otomatis, Mahershala hanya tinggal bersama ibunya. Mereka pun sangat dekat. Ketika berusia 20 tahunan, Mahershala mulai mempertanyakan hubungannya bersama Tuhan yang selama ini dia kenal.

“Kami kehilangan banyak tahun. Berhubungan dengan Tuhan melalui Kristen membawa saya selama beberapa waktu. Dan, kemudian saya merasa saya harus memahami sesuatu dengan lebih dalam. Jadi, saya melewatin proses mendalami berbagai macam agama dan filosofi dan cara untuk berhubungan dengan Tuhan. Dan, itu berakhir dengan Islam bagi saya,” tutur Mahershala kepada Guardian dalam sebuah wawancara.

Pada 2000, Mahershala pun memantapkan hatinya. Dia kemudian menjadi mualaf. Salah satu langkah pertamanya setelah memeluk Islam adalah mengubah namanya dari Gilmore menjadi Ali. Ini membuat ibunya kecewa. Banyak temannya yang bingung. Namun, menurut Mahershala, semuanya itu tidak terlihat begitu sulit untuk menjelaskan apa yang dia lakukan kepada mereka.

Kesulitan menjadi Islam datang pada dirinya usai peristiwa 11 September (9/11) 2001. Setelah para pembajak menabrakkan pesawat ke World Center Trade (WTC) di New York dan ke Pentagon di Washington DC, kehidupan kaum muslim di Amerika Serikat (AS) menjadi sulit. Cibiran, ejekan dan kecurigaan pun mampir kepada mereka. Mahershala pun bukan pengecualian.

“Rasanya bukan sesuatu yang sulit dilakukan (menjelaskan kemualafannya). Dan, kemudian 9/11 terjadi,” kata dia.

Pascaperistiwa itu, Maherhsala sempat mengalami kesulitan ketika harus bepergian dengan pesawat. Selama beberapa tahun, dia harus masuk ke ruang pemeriksaan keamanan ketika di bandara. Dia kemudian tahu bahwa namanya masuk daftar pengawasan untuk perjalanan udara. Tak hanya itu, istrinya pun terpaksa melepas hijabnya saat berada di jalanan kota. Sementara, rekening bank mereka tiba-tiba dibekukan.

Pada Januari 2017, Mahershala harus menghadiri upacara penghargaan Screen Actor Guild (SAG). Sebelum acara itu digelar, Presiden AS Donald Trump baru saja mengumumkan kebijakan yang kemudian disebut larangan bepergian muslim. Mahershala punya banyak hal dalam hidupnya—dia akan punya anak dan akan menghadiri upacara penghargaan Oscar. Di SAG dan Oscar, dia dinominasikan untuk aktor pendukung terbaik lewat film Moonlight.

Apa yang dia raih itu adalah sesuatu yang luar biasa. Jarang bagi seorang aktor muslim bisa masuk nominasi penghargaan seperti itu. Dia bisa saja tidak memikirkan politik saat itu. Tapi, selama perjalanan menuju SAG, dia terus memikirkan larangan perjalanan Trump itu. Mahershala tidak mengkhayalkan mendebat dan di saat yang sama dia merasa perlu menegaskan di mana dia berdiri di tengah-tengah acara kondang itu.

“Dan, kalau saya adalah orang yang mereka rasa cukup terhormat mendapatkan penghargaan itu, maka saya tidak ada bedanya dengan orang yang dilarang masuk ke negara ini,” kata dia.

Dan, dia menang. Mahershala memanfaatkan kesempatan itu untuk menceritakan tentang dirinya saat pidato penerimaan penghargaan. Pidatonya itu ditonton ratusan ribu orang di online.

“Ibu saya seorang penatua. Saya seorang muslim, dia jungkir balik saat saya bilang saya jadi mualaf 17 tahun lalu. Tapi, saya beritahu kalian sekarang, singkirkan ini dan saya bisa melihat ibu saya, ibu bisa melihat saya dan kami saling menyayangi,” ujar Mahershala.

Kesulitan hidup tak hanya didapatkan Mahershala dari agama yang dia anut. Rasnya pun membuatnya mengalami kesulitan tersendiri. Kepada Guardian, dia menuturkan dia merasa harus mengatur ketakutan orang atas warna kulitnya. Dia sangat sadar dengan bagaimana orang melihatnya karena warna kulitnya dan mengakui bagaimana orang memperlakukannya mempengaruhi energinya.

Selain ras, Mahershala melihat agamanya menjadi sesuatu yang dihindari kaum konservatif di Amerika. Dia pun mulai mengira-ira apakah itu akan mempengaruhi pekerjaannya. Dia kemudian memutuskan untuk menjaga keyakinannya dengan memisahkannya dari pekerjannya sebagai aktor. Dua hal itu—pekerjaan dan keyakinan—berada di jalan bertubrukan selama bertahun-tahun.

Tahun ini, Mahershala memenangkan piala Golden Globe untuk kategori aktor pendukung terbaik lewat film Green Book. Aktingnya bisa dinikmati di layar bioskop kembali lewat film Alita: Battle Angel pada Februari mendatang.

(alv)

Original Source

Related posts

Leave a Comment