Proyek Baru Kemenag, Mengganti Kartu Nikah Setipis e-KTP

Portaldailynet, Jakarta – Peluncuran kartu nikah sebagai pengganti buku nikah yang selama ini dipakai,oleh Kementerian Agama (Kemenag) menuai banyak kritik dari berbagai lapisan masyarakat. Nantinya kartu nikah ini bentuknya kira-kira sebesar dan setipis KTP. Dan direncanakan 2020 buku nikah sudah tidak dipakai lagi.

Dirjen Binmas Islam, Muhammadiyah Amin menyatakan bahwa peluncuran kartu nikah ini dilatarbelakangi oleh inovasi era digital , meminimalisir banyaknya pemalsuan buku nikah, dan bersinergi dengan data-data kependudukan antara lain nama, alamat dan dll.

“Kartu nikah berisi tentang informasi pernikahan yang bersangkutan seperti nama, nomor akta nikah, nomor perforasi buku nikah, tempat dan tanggal nikah,” kata Amin .Minggu(11/11/2018).

Dalam kartu nikah tersebut, akan ada kode QR yang terhubung dengan aplikasi Simkah (Sistem Informasi Manajemen Nikah). QR yang dapat dibaca dengan menggunakan barcode/QR scanner yang tersambung dengan aplikasi simkah.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Ace Hasan Syadzily mengatakan, dari segi anggaran sendiri, pembuatan kartu nikah tersebut tidak sebesar anggaran pembuatan KTP Elektronik. Karena, menurut dia, kartu nikah tersebut hanya merupakan kartu biasa seperti halnya kartu pelajar.

“Kartu itu kan tidak seperti kartu e-KTP yang memang membutuhkan anggaran yang cukup besar, karena kontennya macam-macam,” kata politikus Partai Golkar ini.

Pernyataan politikus Partai Golkar ini sebenarnya menjadi kontradiktif dengan tujuan kenapa kartu nikah ini diluncurkan. Kalau tidak sama dengan KTP Elektronik dan hanya kartu biasa seperti halnya kartu pelajar lalu untuk apa kartu ini di luncurkan. Bisakah kartu yang seperti katru pelajar ini bersinergi dengan data-data kependudukan ?

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai langkah pemerintah untuk menerbitkan kartu nikah sebagai buku nikah bukan hal yang mendesak. Sebab, buku nikah bukan layaknya Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang wajib di bawa ke mana-mana.

“Perlu diperjelas dahulu maksud dan tujuan apa? Menurut saya selama ini buku nikah sudah berfungsi dengan baik, di tempat yang dijaga oleh keluarga misal di brankas. Jadi penerbitan ini tidak mendesak untuk diganti,” ujar Wakil Sekretaris Jendral PBNU, Masduki Baidowi ketika dihubungi Republika, Minggu (11/11).

Menurutnya, jika rencana pemerintah ini terealisasi justru akan mempersulit masyarakat. Karena apabila berbentuk kartu, maka berpotensi hilang.

“Misalnya diganti dalam bentuk mirip ATM bisa di bawa ke mana-mana maka punya potensi mudah hilang,” ucapnya.

Untuk itu, ia meminta Kemenag mematangkan rencana ini secara detail baik tujuan dan maksudnya. Sebab, selama ini penyimpanan buku nikah yang dilakukan masyarakat sudah berjalan dengan baik.

“Saya tidak tahu adakah tujuan selain kepraktisan, kalau praktis memang lebih kecil, simpel dan mudah membuatnya karena sekarang eranya digital. Tetapi apa sebenarnya orang bawa buku nikah ke mana-mana? Kan tidak seperti KTP, maka ditanya gagasannya seperti apa, fungsinya,” ungkapnya.

JIka memang kartu nikah ini belum begitu urgent, dan tidak jelas tujuannya lalu kenapa Kemenag terkesan memaksakan untuk meluncurkannya. Adakah maksud-maksud tersembunyi dari proyek kartu nikah ini? Apakah proyek ini merupakan salah satu mesin pengumpul uang untuk tahun 2019?

Kesimpulanya adalah, proyek ini tidak jelas tujuannya dan bukan sesuatu yang mendesak.

Kedua tidak menjamin bahwa kartu nikah yang seperti kartu pelajarini tidak bisa ditiru dan dipalsukan.

Ketiga,hal ini terkesan dipaksakan dan mengandung maksud-maksud tersembunyi.

(jo)

Related posts

Leave a Comment