Revitalisasi Saribu Rumah Gadang Libatkan Swasta

Pemerintah sebelumnya menyiapkan anggaran Rp 110 Miliar untuk memperbaiki 40 rumah.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG — Proyek revitalisasi Saribu Rumah Gadang (SRG) yang diinisasi oleh Presiden Jokowi (Jokowi) ternyata tidak hanya bergantung pada pendanaan pemerintah. Meski pemerintah sudah menyiapkan dana Rp 110 miliar untuk memperbaiki 40 unit rumah gadang yang rusak, ruang bagi swasta untuk ikut mempercantik kawasan SRG tetap terbuka lebar.

Pemerintah mempersilakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, bahkan lembaga independen bentukan masyarakat untuk bisa terlibat langsung dalam revitalisasi SRG, termasuk pendanaannya. Seperti yang dilakukan oleh Yayasan Tirto Utomo, yang pekan depan memulai proses revitalisasi satu rumah gadang milik kaum dt Lelo Panjang, suku Melayu. Rumah tersebut terakhir kali di pugar pada tahun 1905 silam, lebih dari seabad lamanya.

Bupati Solok Selatan, Muzni Zakaria menyambut baik keterlibatan berbagai pihak yang ikut memperbaiki rumah-rumah gadang di kawasan Nagari Saribu Rumah Gadang. Ia bahkan memimpin langsung proses revitalisasi atas rumah gadang milik kaum dt Lelo Panjang dengan menggelar doa bersama dengan ninik mamak di kawasan saribu rumah gadang, Ahad (22/4).

“Kita bersyukur ternyata banyak pihak yang peduli dengan adat dan budaya Minangkabau, terutama melalui program revitalisasi saribu rumah gadang ini,” kata Muzni.

Salah satu praktisi pariwisata Sumatra Barat, Nofrins Napilus, menilai, bahwa langkah Yayasan Tirto Utomo bisa ditiru oleh lembaga atau instansi lain untuk terlibat dalam proses revitalisasi kawasan SRG. Yayasan Trito Utomo sendiri didirikan oleh Ibu Lisa Tirto Utomo, istri dari pemilik PT Aqua Tirta Investama yang populer dengan produk air mineralnya. Nofrins juga menyebutkan bahwa pihak yayasan ingin revitalisasi tidak boleh meninggalkan bentuk awal dan keaslian arsitektur rumah gadang.

“Beliau juga menginginkan rumah gadang tersebut akan menjadi pusat latihan kesenian dan bisa dipakai untuk kegiatan umum,” ujar Nofrins.

Pengerjaan revitalisasi rumah gadang tersebut dipercayakan kepada Tukang Tuo, Katik Yat (64 tahun) yang sudah acap kali memugar rumah gadang di Sumatra Barat. Katik Yat juga akan dibantu oleh 6 asistennya. Katik Yat mengungkapkan, dibutuhkan sedikitnya 8 bulan untuk memugar satu rumah gadang.

“Tergantung ketersediaan bahannya, kalau bahannya lengkap dan tersedia, insya Allah bisa lebih cepat,” ujarnya.

Pemugaran rumah gadang memang tidak boleh sembarangan, termasuk penggunaan bahan baku. Untuk kayu yang digunakan, Katik Yat memilih hanya menggunakan kayu jenis meranti, kayu bayua, dan kayu marantik batu sebagai bahan pemugaran rumah gadang.

Related posts

Leave a Comment