Saham Asia Buntung di Tengah Perlambatan Ekonomi dan Perang Dagang

AKURAT.CO Pasar saham Asia berada di posisi kurang untung pada Senin pagi (11/2/2019) setelah para investor khawatir pada pertumbuhan global, politik AS dan berkelanjutannya perang dagang China-AS.

Sementara itu, “safe-haven” greenback bertahan dekat tertinggi enam minggu terhadap mata uang utama lainnya.

Indeks MSCI yang lebih luas dari saham-saham Asia-Pasifik di luar Jepang, sedikit lebih lemah setelah jatuh dari tingkat tertinggi bulan pada Jumat (8/2/2019).

baca juga: Menteri Basuki Menerima Dua Golden Award SIWO PWI Pusat 2019 Delegasi Dagang AS Tetap Negosiasi Dengan Cina Meski Tanpa Trump Manufaktur Kunci Indonesia Jadi Negara Maju

Volume perdagangan diperkirakan akan tipis dengan Jepang tutup untuk hari libur umum, sementara pasar China dibuka kembali setelah istirahat selama seminggu untuk liburan Tahun Baru Imlek.

Saham-saham dunia mengakhiri pekan lalu di zona merah, di tengah ketidakpastian tentang pertumbuhan ekonomi global dan ketegangan perdagangan, membukukan penurunan mingguan pertama mereka tahun ini.

Namun, indeks-indeks ekuitas utama Wall Street pulih dari kerugian pada Jumat, dengan benchmark S&P 500 berakhir sedikit positif dan Nasdaq menambahkan 0,14 persen. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 0,25 persen.

Para investor sedang menanti perundingan perdagangan minggu ini, dengan delegasi pejabat AS yang melakukan perjalanan ke China untuk putaran negosiasi berikutnya.

Kekhawatiran baru-baru ini terhadap pasar adalah gagalnya pembicaraan antara anggota parlemen Demokrat dan Republik AS selama akhir pekan di tengah perbedaan kebijakan penahanan imigran, meningkatkan kekhawatiran penutupan pemerintah lagi.

Perkembangan itu muncul setelah berita utama lainnya yang harus diproses pasar sejak akhir pekan lalu.

Ini termasuk penurunan tajam pertumbuhan zona euro tahun ini dan tahun berikutnya serta deklarasi Presiden AS Donald Trump bahwa dia tidak punya rencana untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping sebelum batas waktu 1 Maret untuk mencapai kesepakatan perdagangan.

“Pertumbuhan mungkin merupakan area risiko yang besar, AS masih berada di jalur yang sehat tetapi stabilisasi China lebih banyak harapan daripada kenyataan saat ini sementara momentum Eropa terus melemah,” kata analis JPMorgan dalam sebuah catatan.

“Investor memiliki banyak hal yang perlu dikhawatirkan, termasuk pelemahan pertumbuhan yang sedang berlangsung di Eropa dan risiko ini menyeret geografis utama lainnya,” tambah mereka.

“Tapi kebijakan-kebijakan perdagangan AS meski tidak menjadi prioritas, retorika perdagangan akan tetap menjadi masalah.”

Pasar akan mengawasi dengan cermat pendapatan dari perusahaan-perusahaan besar AS termasuk Coca-Cola Co, PepsiCo Inc, Walmart Inc, Home Depot Inc, Macy’s Inc dan Gap Inc untuk petunjuk lebih lanjut tentang kesehatan sektor konsumen.

Para analis sekarang memperkirakan laba kuartal pertama untuk perusahaan S&P 500 turun 0,1 persen dari tahun sebelumnya, yang akan menjadi penurunan laba kuartal pertama sejak 2016, menurut data IBES dari Refinitiv, dilansir dari Antara (11/2/2019).

Di pasar mata uang, indeks dolar AS bertahan di dekat tertinggi enam minggu di sekitar 96,665 terhadap sekeranjang mata uang, dan memiliki kenaikan mingguan terkuat dalam enam bulan, karena pedagang menumpuk ke greenback dalam langkah “safe-haven”.

Euro sedikit lebih lemah di 1,1321 dolar AS, sementara sterling turun 0,1 persen di 1,2933 dolar AS.

Dolar Australia melayang di dekat posisi terendah satu bulan setelah bank sentral negara itu bergeser dari bias pengetatan sebelumnya menjadi mengatakan suku bunga sekarang bisa bergerak ke arah mana pun. Dolar Australia terakhir di USD0,7092 setelah jatuh ke sedalam USD0,7060 pada Jumat (8/2/2019).

Harga minyak bertahan dekat kisaran terakhir dengan keuntungan dibatasi oleh kekhawatiran tentang melambatnya permintaan global. Minyak mentah AS melemah 13 sen di awal perdagangan Asia di USD52,57 per barel sementara Brent telah menetap di USD62,06 pada Jumat (8/2/2019).[]

Original Source

Related posts

Leave a Comment