Skizofrenia dan Hasrat Berkuasa

TEMBOK-TEMBOK imajiner dibangun sedemikian kuat dalam pikiran para penderita skizofrenia. Mereka seakan menciptakan gelembung kebenaran yang ada dalam penafsirannya semata. Gelembung kebenaran yang terus membesar identik dengan perspektif tunggal yang dipelihara, hingga membuat penderitanya hanya concern pada fakta dan argumentasi yang mendukung hipotesisnya.

Fakta-fakta yang berlaku di alam semesta ini harus selaras dengan argumentasinya. Dari waktu ke waktu mereka semakin yakin bahwa hanya argumentasinyalah yang paling benar. Kondisi itu kemudian melahirkan mentalitas pascakebenaran. Mereka tidak lagi memedulikan kualitas kebenaran dari sebuah informasi apa pun karena yang dikehendakinya bukan lagi kebenaran, melainkan pembenaran.

Dijelaskan dalam ilmu neurosains–-seperti yang dipaparkan Taufiq Pasiak (Ketua Masyarakat Neurosains Indonesia) bahwa setiap penderita skizofrenia tidak mahir dalam membanding dan mengukur realitas yang ada di pikirannya dengan fakta yang ada di lapangan. Otak bagian depannya (korteks prefrontalis) kurang bekerja secara optimal. Pikiran mereka seakan di-setting hanya untuk menerima fakta yang sesuai dengan sikap dan tindakannya, betapa pun rendah kualitasnya.

Pada saat yang sama, pikiran itu mengembangkan mekanisme pertahanan untuk menolak fakta lain yang mengancam pendapatnya, betapa pun validnya realitas dari fakta tersebut.

Di negeri ini, khususnya pada perhelatan pemilu akbar beberapa waktu lalu, dapat dikatakan sebagai wabah atau ‘delusi massal’ karena gejala skizofrenia ini sudah merambah ke segenap lapisan masyarakat, tak terkecuali kaum akademisi yang terpelajar. Menurut Taufiq Pasiak, selaku dosen kedokteran Universitas Sam Ratulangi, sistem perpolitikan kita telah menciptakan delusi bukan hanya pada satu dua orang, melainkan juga pada sebagian masyarakat bangsa.

Pikiran dan perasaan mereka seakan melompat-lompat dari gatra satu ke dimensi yang lebih buruk dan rendah. Informasi apa pun yang diserapnya hanya dikelola untuk memperkuat asumsinya semata.

Para psikiater di rumah sakit jiwa seumumnya mendiagnosis penderita skizofrenia melalui fitur-fitur kebahasaan. Bagi mereka, bahasa merupakan alat utama resepsi dan ekspresi. Melalui bahasa, seorang pasien mengumpulkan simbol-simbol sekaligus mengungkapkan gagasannya. Ia dapat dideteksi memiliki kecenderungan menilai sesuatu secara biner. Objek yang tak disukainya dianggap sesuatu yang jahat dan cenderung mencelakakan dirinya.

Pikiran yang menjurus kepada tindakan teror dan anarkistis itu, membuat penderita skizofrenia akut, tidak lagi mampu melihat segala sesuatu secara objektif, bahwa realitas kehidupan ini begitu kompleks, dinamis, bahkan kadang paradoksal. Segala sesuatu seakan sudah final baginya, mandek, statis, dan pintu ijtihad sudah tertutup. Tak ada penafsiran lain dalam pandangan beragama karena yang dianggap sah dan legitimate ialah penafsirannya, atau penafsiran dari orang yang dianggap guru sucinya.

Perspektif tunggal seperti itu membuat seorang penderita skizofrenia mudah terjerumus kepada aksi-aksi terorisme. Di samping mudah terhasut dan terbawa arus, dirinya sudah terpatri suatu pandangan dan paham yang bersifat hitam-putih belaka. Terhadap objek yang dicintainya, ia cenderung mengultuskan secara berlebihan. Sementara itu, terhadap objek yang tak disukainya, hujatan dan caci maki terus berhamburan. Penyakit sosial ini cukup membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gejala post-power syndrom
Ketika Academy Awards dalam ajang perfilman dunia memutuskan Birdman sebagai pemenang Oscar (2015), kritik pun mulai berhamburan mengenai keabsahan film tersebut untuk layak sebagai pemenang.

Film itu disutradarai Alejandro Gonzalez, seniman dan sineas kelahiran Meksiko dengan menghadirkan Michael Keaton yang beberapa tahun sebelumnya pernah memerankan tokoh superhero ‘Batman’ yang disutradarai Tim Burton.

Film Birdman mendekati pengungkapan gaya sastra Dostoyevski, Maxim Gorky maupun Franz Kafka dalam menelusuri relung-relung batin manusia hipermodern. Sebuah deformasi jiwa yang tak bisa menghindar dari segala keangkuhan dan kebanggaan diri. Bagaikan sikap frustasi seorang politisi yang uzur dan gagal total meskipun pernah mengalami kejayaan di masa lalunya. Ia dibayang-bayangi oleh popularitas yang pernah disandangnya. Sampai kemudian membuatnya bertindak dan berulah di luar nalar dan akal sehat manusia.

Suatu masyarakat yang masih terperangkap dalam dunia bawah sadar, yang mudah terhasut oleh isu maupun aksi-aksi provokasi perlu banyak berkaca dari film ini. Juga mereka yang keranjingan kekayaan dan hasrat kekuasaan secara membabi-buta. Kini sang superhero alias jawara itu dipaksa untuk menerima dan menghadapi realitas hidup di masa tuanya. Tak ada kekuatan apa pun yang dapat menolong dan memuliakan manusia apabila ia terjatuh ke dalam keangkuhan dan kesombongannya?

Kiranya kita perlu mengadakan rethinking, meninjau kembali identitas keindonesiaan yang selama ini kita bangga-banggakan. Selayaknya kita mendengar ajaran universal yang disampaikan para pemikir dan sastrawan dunia, tetapi berinti religius ang sangat mendalam, misalnya Pearl S. Buck yang pernah menyatakan gugatannya; “Mengapa bangsa-bangsa Asia begitu mudah menganut ajaran yang didakwahkan oleh para politikus dan penguasa Amerika dan Eropa? Bukankah tidak sedikit dari orang-orang seperti kami, para eksplorator Barat yang merasakan keterpurukan manusia-manusia Faust sebagai pahlawan dan ksatria menyedihkan, dengan hati dan jiwa-jiwa muram dan gersang?”

Dalam film Birdman, keterpurukan manusia-manusia hedonis yang keranjingan kekuasaan dan popularitas itu, telah disingkap secara gamblang bahwa hakikat kesuksesan duniawi harus memberi nilai kebahagiaan dan ketenteraman batin. Sebagaimana pernyataan sastrawan John Steinbeck ketika sampai pada puncak keletihannya, “Untuk apa manusia modern bersusah payah memburu-buru kebahagiaan dalam hidupnya, padahal kebahagiaan itu sudah ada pada diri kita jika kita mau melihatnya?”

Original Source

Related posts

Leave a Comment