Tapak Hitam Kupu-Kupu Malam di Serambi Aceh

Pengalaman MH dan dua rekannya yang nyasar ke losmen esek-esek di Kota Banda Aceh bukanlah hal mengejutkan. Sekalipun berjuluk Serambi Makkah, dan acap dipandang kaku dengan peraturan syariat, nyatanya Aceh berusaha keras menebas ilalang hitam yang mengotori halaman, bahkan ruang tengah provinsi paling ujung pulau Sumatera tersebut.

Jika di Surabaya dikenal dengan ‘Gang Dolly’, maka di Kota Banda Aceh yang dijuluki dengan Kota Madani juga terdapat gang kecil yang menjadi pusat prostitusi. Gang sempit hanya berukuran 2 meter yang dihimpit pertokoan, menghubungkan antar jalan di kawasan Peunayong itu, dikenal dengan nama ‘Gang Mabok’.

2014 lalu, Gang Mabok masih menjadi lokasi favorit wanita malam yang menjajakan pelayanan seks untuk pria hidung belang. Polisi syariat atau Wilayatul Hisbah (WH) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sempat beberapa kali mengamankan perempuan ‘nakal’ dari tempat itu.

Pasca heboh pemberitaan tertangkapnya muncikari dan tujuh PSK pada 2018, tahun lalu, bukan berarti memutus mata rantai dan geliat nakal para ‘kupu-kupu malam’ di Aceh. Mereka tetap ada, sekali pun mengendap-endap, bahkan merayap.

Saat itu, Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol. Trisno Riyanto, mengaku, sudah memetakan lokasi dan wilayah yang sering dijadikan tempat transaksi. “Ini kita masih selidiki,” sebutnya saat menggelar jumpa pers terkait penangkapan germo dan tujuh PSK di salah satu hotel di Aceh Besar, Jumat 23 Maret 2018.

Di tahun yang sama, merebak kabar prostitusi rumahan berhasil di bongkar polisi di Aceh Barat. Lebih miris, ‘bisnis lendir’ ini, melibatkan anak di bawah umur, dengan E dan H, sebagai otak pelaku dibalik bisnis terselubung yang dipusatkan di rumah yang mereka tempati.

Keberadaan para ‘kupu-kupu malam’ di Aceh diperkuat Cut Putri Widya Fonna, F, seorang mahasiswi Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unsyiah, dalam penelitiannya ‘Gaya Hidup Pekerja Seks Komersial di Negeri Syariat Kota Banda Aceh’ pada tahun 2017. Selain itu, Muhammad Reza, dari kampus dan tahun yang sama pernah meneliti’ Faktor Pengambilan Keputusan Remaja Putri Sebagai Pekerja Seks Komersial di Kota Lhokseumawe’.

Kedua penelitian ini diterbitkan di website resmi milik universitas. Dalam penelitiannya, Cut Putri Widya Fonna menyebut, interaksi antara PSK di Banda Aceh dan warga sekitar terjalin dengan baik, dimana tidak pernah terjadi pertentangan antar PSK dengan warga setempat.

“Interaksi tersebut lebih kepada individu-individu yaitu saling tidak peduli urusan antara satu dan yang lain, banyak juga tetangga yang tidak mengetahui pekerjaan asli mereka termasuk keluarganya, sehingga seluruh bantuan yang PSK berikan (berupa materi) dengan mudah diterima oleh keluarga,” jelas Cut Putri Widya Fonna di halaman abstrak penelitiannya, seperti ditelusuri Liputan6.com di website kampus, Jum’at, 11 Januari 2019, malam.

Sementara itu, di dalam penelitiannya, Muhammad Reza menyebut, terdapat dua faktor para remaja yang menjadi responden, memutuskan menjadi PSK. Faktor internal meliputi ekonomi, dan faktor eksternal, yaitu, lingkungan dan historis yang melatari kehidupan para responden.

Mengenai bagaimana kehidupan malam dan strategi para PSK menyabung hidup di Kota Syariah, meskipun belum ada data valid, dapat ditelusuri melalui cerita dari sumber yang mengaku pernah bersentuhan dengan ‘hal yang begituan’. Beberapa media maenstream juga pernah menyusuri lorong-lorong yang tersembunyi dari mata orang luar ini.

“Itu rahasia umum ya. Tapi, seperti yang kita bilang tadi, bukan lokalisasi ya. Kan pemerintah melarang. Tapi terselubung, dan hanya menjadi bagian dari dunia hitam kita saja. Prosesnya, ya, pakai aplikasi sejenis socmed itu. Tapi tidak maenstream punya. Rahasialah,” sebut FY (26), seorang wanita, yang mengaku pernah dan masih terjerembab di dunia yang dia sebut ‘dunia hitam’ kepada Liputan6.com, di sebuah kafe di Meulaboh, Jum’at, 11 Januari 2019, menjelang sore.

Original Source

Related posts

Leave a Comment