Wisata Batik Tulis Kian Eksis di Desa Bekonang Sukoharjo

Solopos.com, SUKOHARJO — Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, selama ini dikenal menjadi sentra batik tulis di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Namun membanjirnya produk batik printing lambat laun menggerus keberadaan batik tulis.

Imbasnya, sebagian besar pengrajin batik tulis di bekonang gulung tikar. “Sekarang jumlah pengrajin batik tulis bisa dihitung dengan jari termasuk saya. Generasi muda lebih memilih profesi lain dibanding menekuni batik,” kata seorang pengrajin batik tulis, Sukamto, saat berbincang dengan solopos.com, Jumat (26/4/2019) lalu.

Masa kejayaan kerajinan batik tulis di desa itu terjadi pada era 1950-1970 an. Kala itu, para pengrajin batik kewalahan menerima order lantaran tingginya tingkat permintaan batik. Alhasil, mereka menangguk untung besar dari penjualan batik tulis.

Lambat laun, kondisi sentra batik tulis di kedua desa itu berubah 180 derajat karena munculnya persaingan dari batik printing.

Namun kini, pamor batik tulis kembali cemerlang berkat inovasi yang dilakukan para pengrajin. Keunggulan batik tulis terletak pada proses pewarnaan kain yang menggunakan bahan pewarna alami seperti kulit manggis, kulit kayu teger.

Proses pewarnaannya pun dilakukan secara tradisional yang membutuhkan waktu cukup lama. Sementara bahan pewarna batik printing menggunakan bahan-bahan kimia.

Selama beberapa tahun terakhir, tak sedikit wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke sentra industri batik tulis di Bekonang untuk melihat langsung proses produksi batik tulis.

“Mereka tertarik belajar membikin batik tulis mulai dari menggambar motif hingga mewarnai kain. Bahkan, ada beberapa wisatawan mancanegara yang rela menginap selama beberapa hari untuk mempelajari proses produksi batik tulis,” ujar Sukamto.

Sementara itu, Kepala Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Joko Tanyono, mengatakan industri batik tulis menjadi potensi wisata yang bisa dikembangkan pada masa mendatang. Pembeli, menurut dia, tak hanya berbelanja pakaian batik namun bisa melihat proses produksi batik tulis.

Selama tiga tahun, bantuan dana desa dari pemerintah pusat digunakan untuk memperbaiki infrastruktur perdesaan seperti jalan dan talut lahan pertanian. Kini, sebagian dana desa bakal dikucurkan untuk pembinaan dan pengembangan sentra industri batik tulis.

“Potensi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) seperti batik tulis memiliki prospek pada masa mendatang. Terlebih batik tulis merupakan bagian dari budaya Indonesia yang harus dirawat dan dijaga,” kata dia.

Related posts

Leave a Comment