Prabowo, Penyelamat Aksi Sejuta Umat

Oleh M Solihat

Tidak banyak yang tahu tentang kebaikan-kebaikan Prabowo untuk umat dan bangsa. Dan, kalaupun tahu, bisa jadi malah akan terus disembunyikan oleh mereka yang benci dan dendam. Mereka lebih senang menebar kejelekan Prabowo dibanding hal-hal positifnya.

Termasuk peran Prabowo pada Aksi Sejuta Umat tahun ’98, yang dipimpin Amien Rais, menjelang lengsernya Suharto dari kursi kepresidenan. Tidak banyak yang tahu, kecuali orang-orang terdekatnya dan orang-orang yang masih menjaga loyalitasnya hingga sekarang.

Secara kebetulan sekarang saya ada di lingkaran Prabowo. Meskipun saya tidak cukup dekat dengan Amien Rais, saya dekat dengan orang-orang dekatnya Amien Rais. Lebih penting dari itu, saya termasuk satu di antara sekian ribu atau mungkin juta rakyat yang menyaksikan, yang ikut dalam aksi-aksi menurunkan Suharto waktu itu. Termasuk ikut Aksi Sejuta Umat itu. Sama seperti belum lama ini saya ikut Aksi 212.

Apa artinya ini ? Artinya informasi yang saya sampaikan ini yakin kebenarannya, bukan termasuk kabar dhoif alias hoax.

Apa betul Prabowo Penyelamat Aksi Sejuta Umat ’98 ?

Untuk melihat kebenarannya, mari kita buka kembali sejarah peristiwa itu… bismillah !

Menjelang kejatuhan Suharto (21 Mei 1998), Amien Rais, tokoh sentral reformasi, berencana mengadakan Aksi Sejuta Umat di Monas tepat pada Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei’98). Aksi ini merupakn rangkaian dari aksi-aksi people power sebelumnya yang dilakukan mahasiswa bersama seluruh elemen rakyat untuk menuntut Suharto turun dari kursi presiden. Aksi ini bersamaan dengan aksi mahasiswa yang sudah berhari-hari turun tumpah ruah ke jalan-jalan utama di Jakarta serta mengepung dan menduduki gedung DPR RI.

Rangkaian aksi gelombang rakyat sebelum itu adalah aksi mahasiswa yang dikenang sebagai Tragedi Trisaksi (12 Mei’98) yang menimbulkan banyak mahasiswa mati dan luka-luka ditembak pasukan keamanan.

Darah sudah tumpah di kampus dan di jalan-jalan raya, mahasiswa mati dan luka-luka. Tapi Suharto belum juga mau turun. Maka Amien Rais pun bertekad mengerahkan Aksi Sejuta Umat. Tujuannya cuma satu: Suharto Turun !

Tekad jihad sudah bulat. Pekik takbir sudah berkobar. Semua sudah siap mati syahid. Tinggal menunggu satu komando: dari Amien Rais !

Malam menjelang 20 Mei ’98 langit Jakarta menghitam. Suasana penuh ketegangan. Pangab Jenderal Wiranto (waktu itu) sudah mengeluarkan imbauan agar Amien Rais mengurungkan rencana aksinya. Jika tidak, pasukan keamanan sudah siap dengan perintah tembak di tempat.

Amien Rais tidak bergeming. Dia sudah lama kehilangan urat takutnya, sekalipun satu peluru sudah dipastikan besok akan menembus jantungnya. Dan bersamanya akan bersimbah darah ribuan umat di sepanjang jalan Thamrin dan Monas.

Tapi akhirnya, alhamdulillah, dengan pertimbangan kemungkinan akan banyak jatuh korban….Amien Rais luluh. Aksi Sejuta Umat pun urung dilakukan.

Pertanyaannya, siapakah yang telah meluluhkan hati keras Amien Rais? Jawabnya: dialah Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto. Prabowolah yang datang memeluk erat Amien Rais, melakukan pendekatan tidak dengan senjata, melainkan dengan silaturahim, berdialog, penuh kedamaian, kekeluargaan sebagai umat dan warga bangsa. Prabowo memberi saran kepada Amien Rais agar mengurungkan aksinya karena sudah dipastikan akan banyak korban di kalangan umat.

Alhamdulillah aksi sejuta umat urung dilakukan. Umat pun terselamatkan. Dan hikmah terbesarnya, Suharto pada 21 Mei 1998 menyatakan mundur sebagai presiden.

*) Penulis adalah mantan peneliti Center for Information and Development Studies (CIDES)

Komentar Facebook

Tags

Original Source

Related posts

Leave a Comment