Rumitnya Kasus Novel Baswedan

Portaldaily.net, Jakarta – Pada 11 April 2017, Novel Baswedan diserang dua orang tak dikenal sepulang dari salat subuh berjamaah di Masjid Ihsan di dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kedua orang yang berboncengan dengan sepeda motor itu dengan sengaja menyiramkan air keras ke wajah penyidik yang banyak mengusut kasus korupsi besar ini. Mata kiri novel rusak hingga 95 persen. Novel harus menjalani operasi berkali-kali di Singapura.

Hingga hari ini, 18 Juli 2019, TGPF mengumumkan hasil investigasi pun, baik pelaku penyerangan dan ataupun aktor intelektual belum berhasil diketahui.

Menyikapi gagalnya pengungkapan kasus Novel Baswedan, Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian pun membentuk tim teknis lapangan sebagai langkah lanjutan pengusutan kasus penyerangan. Tim teknis akan dipimpin oleh Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Idham Azis

Tim teknis itu bekerja setelah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) selesai. “Rekomendasi tadi sudah jelas, dengan segala temuan hasil kerja 6 bulan tim pakar, direkomendasikan tim teknis lapangan yang spesifik. Teknis lapangan spesifik itu hanya dimiliki kami,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Mohammad Iqbal di kantornya, Jakarta Selatan pada Rabu, 17 Juli 2019.

Anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Novel Baswedan, Hendardi, menyebut penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengajukan syarat yang tak bisa dipenuhi saat dimintai petunjuk soal kasus penyiraman air keras menimpa Novel.

Selain syarat pembentukan TGPF oleh presiden, Novel juga meminta agar polisi mengungkap kasus kekerasan yang menimpa karyawan KPK yang lain.

Hendardi menuturkan, syarat yang diajukan Novel tidak dapat dipenuhi timnya karena bukan ranah mereka. Meskipun begitu, Hendardi menilai permintaan itu wajar mengingat Novel adalah korban.

“Atau (syaratnya) ungkap dulu seluruh kasus kekerasan yang terjadi terhadap pegawai KPK, itu bukan mandat kami. Tapi wajar saja permintaan itu sebagai seorang korban, tapi dia mau minta, mintanya jangan pada kami,” ucap Hendardi.

Dengan adanya syarat yang diajukan oleh Novel Baswedan berarti ini membuktikan bahwa tidak hanya dirinya yang mengalami ancaman. Namun hal ini tak pernah diungkapkan, tentunya ada alasan yang mendasar entah karena keamanan atau nyawanya juga terancam.

Sudah dua tahun kasus Novel Baswedan berlalu, belum ada titik terang. Kalo kita amati kasus ini sangat berbeda penanganan dengan  kasus kriminal lainnya, begitu rumit kah kasus ini hingga belum bisa terungkap, atau sengaja diulur-ulur waktunya.

Pastinya ada sesuatu yang besar yang ditutupi hingga hari ini belum ada titik terang.

(Dn)

Related posts

Leave a Comment