Runtuhnya Raksasa Baja Indonesia

Portaldaily.net, Jakarta- Drama kerugian menahun yang dialami KARS masih terus dianalisis. Pasalnya, peluang industri baja Indonesia semakin berkembang. Saat ini, Indonesia dapat dengan leluasa mengekspor produk baja ke Malaysia. Di sisi lain, permintaan baja domestik juga semakin meningkat. Sebagai catatan, dari Januari hingga Desember 2018, permintaan produk baja di Indonesia cenderung meningkat dengan adanya peningkatan di sektor industri yang menggunakan material baja. Diantaranya sektor otomotif yang meningkat 7.99% dengan jumlah produksi mobil sebesar 1.152.641 unit per tahun (Gaikindo, Januari 2019). Hal ini diikuti dengan sektor konstruksi dan infrastruktur yang juga diproyeksikan akan semakin meningkat di tahun 2019. (wartaekonomi.co.id, 2/5/19).

Di bidang infrakstur, negara juga membutuhkan bahan baku baja. Menurut keterangan Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Suahasil Nazara, tahun ini, anggaran untuk infrastruktur sebesar Rp 213 triliun atau sekitar 10% dari total belanja negara Rp 2.095,7 triliun. Besarnya proyek infrastruktur pemerintah dan tren kenaikan harga baja diperkirakan mendongkrak penjualan baja maupun profitabilitas perusahaan-perusahaan di subsektor manufaktur ini. Tahun 2016, pasar baja domestik diperkirakan tumbuh 3,5-7% menjadi 14,5-15 juta ton dari tahun lalu 14 juta ton. Pasokan baja dari pemain lokal juga diperkirakan naik dari 40% menjadi 50% dari total permintaan nasional, didorong mandatori penggunaan baja lokal di proyek pemerintah.”Pasar baja domestik tahun ini bisa tumbuh 5% mendekati 15 juta ton, dengan pasokan baja lokal diharapkan mencapai 7,5 juta ton atau 50% dari total pasar. Seiring dengan kenaikan permintaan, pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) pabrik baja diperkirakan naik ke level 80% dari tahun lalu 30-40%. Adapun kapasitas produksi terpasang industri baja nasional mencapai 9 juta ton per tahun,” papar Hidayat. (kemenperin.go.id, 24/6/19)

Kendati demikian, pada periode ini perseroan yang berkode saham “KRAS” ini hanya mencatatkan pendapatan sebesar US$419 juta. Padahal di periode yang sama tahun lalu, Krakatau Steel meraup pendapatan US$486,2 juta.Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim mengatakan, torehan negatif ini akibat dari penurunan volume penjualan dan penurunan harga produk baja secara global.

Selama ini, Krakatau Steel memfokuskan penjualan pada Harga Baja Canai Panas (Hot Rolled Coil/HRC).  Harga HRC per ton tertinggi tercapai US$755 di Januari 2019 dan terendah US$554 di bulan Maret 2019 walaupun secara keseluruhan harga HRC berkisar antara US$650 – US$700 pada Q1 2019. KARS sendiri mengalami penurunan volume penjualan HRC 2,24% YoY menjadi US$643 per ton dan Wire Rod 3,14% YoY menjadi US$612 per ton, namun tidak demikian dengan CRC yang meningkat 5,13% menjadi sebesar US$739 per ton. Penurunan penjualan ini berpengaruh pada laba kotor sebesar US$11,75 juta, menurun dibanding periode sebelumnya sebesar US$66,79 juta. Sementara rugi operasi Perseroan mencapai US$36,2 juta pada Q1 2019 dibanding dengan periode yang sama tahun lalu yang mencatat laba operasi US$21,2 juta. Penurunan kinerja operasi ini dipengaruhi oleh lebih tingginya biaya operasi selama periode berjalan.

Proses panjang geliat KARS untuk kembali bangkit, kini semakin terjungkal dengan adanya impor baja dari Tiongkok. Hal ini menyebabkan pasar baja domestik semakin terdesak. Data South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI) memperlihatkan, ekspor baja Cina ke Indonesia pada kuartal I-2018 menguat 59% year-on-year (yoy) menjadi 250.783 metrik ton. Di periode yang sama, ekspor baja Tiongkok ke negara ASEAN lainnya justru menyusut. Impor asal Tiongkok didominasi produk baja hot rolled coil, plate, cold rolled coil, section dan wire rod. Namun, meski umumnya menurun, justru impor baja ke Indonesia semakin meningkat Ada dugaan, sebagian besar produk baja impor itu masuk Indonesia dengan cara unfair trade. Salah satunya dengan penyalahgunaan kategori pos tarif baja paduan.

Sejumlah pihak menyoroti temuan puluhan ribu ton  produk baja HRC murah yang beredar di wilayah Jawa Timur dan Banten. Berdasarkan label produk yang melekat pada coil, diduga barang tersebut berasal dari PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry, yang merupakan grup perusahaan Tsingshan, asal Tiongkok. Pada label tersebut juga tidak ditemukan adanya logo SNI maupun keterangan Nomor Registrasi Produk (NRP). Sebagaimana diketahui bahwa lokasi pabrik PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry sendiri berada di Morowali, Sulawesi Tengah.

Miris rasanya, saat KARS memberhentikan ribuan karyawan secara bertahap hingga tahun 2022. Keputusan ini diambil berdasarkan surat Nomor 73/Dir.sdm-ks/2019 perihal Restrukturisasi Organisasi PT KS (Persero) terbatas. Dalam surat tertulis, hingga Maret 2019, jumlah posisi di PT KS sebanyak 6.264  posisi dengan jumlah pegawai sebanyak 4.453 orang. Hingga tahun 2022 mendatang, KS akan melakukan perampingan posisi menjadi 4.352 posisi dengan pengurangan pegawai berkisar di angka 1.300 org. Tercatat pada pekan lalu, sebanyak 140 orang pegawai telah dirumahkan.

Masih prihatin dengan keadaan ini, Perusahaan asal Cina akan segera membangun pabrik baja di kabupaten Kendal, Jawa Tengah, dengan nilai investasi 2,54 miliar dolar AS. Diperkirakan bahwa pabrik tersebut adalah yang terbesar di Asia karena mampu menyerap 6.000 hingga 10.000 tenaga kerja. Pabrik ini direncanakan akan beroperasi 2019 atau paling tidak 2020. Mengenai tenaga kerja, pihak Hebei Bishi Steel Group menjamin akan memprioritaskan warga sekitar lokasi pabrik baja di Kecamatan Patebon dan kabupaten Kendal sebagai tenaga kerja. Geliat kebangkitan industri baja lokal akan semakin lemah dengan industri baja asing.

Pertanyaan adalah disaat Indonesia sedang jor-joran membangun infrastruktur namun perusahaan yang sebagai penopang pembangunannya merugi, bahkan karyawan di PHK sebanyak 1.300 karyawan.

Mengapa bisa demikian, dimana peran negara, inikan salah satu BUMN yang dimiliki Indonesia. Kenapa bisa kontradiktif?

(Dn)

Related posts

Leave a Comment