Teknik Memenangkan Debat, Timses Capres Wajib Tahu

Oleh: A. Zaini Bisri (Wartawan senior dan dosen UPS, Tegal)

Menonton siaran langsung debat perdana Pilpres 2019, Kamis malam, 17 Januari 2019, antara paslon Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno, saya jadi teringat lagi prinsip-prinsip memenangkan perdebatan yang diajarkan Prof. Dr. HM Rasyidi, menteri agama pertama RI.

Pak Rasyidi dikenal sebagai tokoh yang pandai dan mendalam ilmunya tapi sederhana, jujur, dan amanah. Dia mahasiswa pertama Indonesia yang lulus dari Universitas Kairo dengan nilai A. Beliau juga doktor alumnus Universitas Sorbonne Prancis. Buku-buku karyanya yang terkenal, antara lain, Filsafat Agama, Islam dan Kebatinan, dan Bibel, Qur’an dan Sains Modern yang merupakan terjemahan dari karya Maurice Bucaille. Bintang Mahaputera dianugerahkan kepadanya atas jasa-jasanya bagi negara dan bangsa.

Sebagai ahli filsafat dan yang sejak muda sudah menguasai kitab Matan as-Sullam, yakni buku tentang logika yang aslinya ditulis oleh Aristoteles, murid Plato, Rasyidi tentu saja piawai dalam pemikiran filsafat dan ilmu mantiq. Kepiawaian inilah yang kemudian sebagian dituangkan dalam sebuah risalah tentang perdebatan.

Sayang saya sudah lupa judul risalah tersebut. Saya membacanya dalam ulasan orang lain. Tapi saya masih ingat salah satu prinsip utama memenangkan perdebatan yang diajarkan Pak Rasyidi. Prinsip itu adalah “jawablah pertanyaan dengan pertanyaan lagi” atau “jangan berkeinginan menjawab tuntas pertanyaan lawan debat”.

Jawablah Pertanyaan dengan Pertanyaan Lagi

Ini salah satu teknik terpenting dalam memenangkan perdebatan. Jangan berambisi atau terlalu bersemangat untuk menjawab setiap pertanyaan dari lawan debat hanya supaya dianggap pandai atau menguasai persoalan. Ambisi ini justru akan memojokkan Anda dan bisa membuat Anda kehabisan jawaban. Dalam arena genting seperti debat pilpres yang tiap segmen dibatasi waktunya dan dikendalikan sepenuhnya oleh host atau moderator, keinginan untuk memberikan jawaban yang memuaskan audiens bisa menjadi jebakan batman.

Jebakan itu menjerat Prabowo saat menjawab tudingan Jokowi soal caleg mantan koruptor. Prabowo terjebak dan menjawab out of context dengan menoleransi korupsi kecil-kecilan. Padahal 6 (enam) caleg mantan koruptor Gerindra itu untuk level DPRD yang tidak diteken oleh Prabowo sebagai ketua umum Gerindra. ICW, yang datanya dikutip Jokowi, sudah mengklarifikasi soal ini.

Serangan Jokowi ini tidak seharusnya dijelaskan oleh Prabowo yang tampak tidak siap dengan jawaban yang pas. Apalagi tudingan ini cenderung menyerang pribadi. Prabowo tidak perlu menjawabnya. Balikkan saja tudingan itu dengan pertanyaan, “Maaf, apakah layak pertanyaan ini diajukan di arena debat pilpres? Kami akan menjawabnya nanti di luar debat.” Atau, kalau ingin “menyerang” balik, Prabowo bisa membalikkan tudingan itu ke Jokowi: “Karena ini urusan partai, silakan Pak Jokowi cek data partai-partai mana yang paling korup, mungkin itu termasuk partai pendukung Bapak.”

Begitu pula ketika Jokowi ditanya (dikomplain) Prabowo soal ketidakadilan penegakan hukum, khususnya perlakuan aparat terhadap seorang kepala desa yang ditangkap karena mendukung Prabowo-Sandi, sementara banyak pejabat negara tanda tangan mendukung Jokowi-Ma’ruf tidak diapa-apakan, Anies yang hanya salam dua jari dipanggil Bawaslu, Jokowi tidak perlu mengulang jawaban-jawaban normatif “laporkan saja!” atau berjanji akan revisi undang-undang. Ini berkesan sebagai petahana Jokowi sedang ngeles.

Komplain ini bisa dijawab dengan pertanyaan, “Apakah kasus kepala desa itu sudah dilaporkan ke aparat yang berwenang? Kalau sudah, pasti akan saya tindak lanjuti.” Jawaban model pertanyaan ini mengandung makna: Sebagai presiden, Jokowi tidak harus tahu seluruh proses penegakan hukum tapi dia punya iktikad untuk mengoreksi kewenangan aparat di bawahnya.

Masih banyak jawab-jinawab dalam debat perdana itu yang bisa dijadikan contoh kelemahan masing-masing paslon. Prinsipnya, jangan biarkan lawan debat memaksa kita untuk memberikan jawaban-jawaban eksplanatori yang akhirnya membuat kita kehabisan jawaban atau menjawab dengan ngawur. Mainkan dan putar balik logika lawan dengan pertanyaan-pertanyaan balasan yang memojokkan. Jangan biarkan lawan menekan kita dan membuat kita hanya bisa bertahan.

Momentum untuk memenangkan debat hanya muncul jika kita terus dalam posisi menyerang dan fokus pada logika lawan. Tentu saja harus diatur agar serangan tetap menggunakan gestur dan retorika yang santun. Tetap tersenyum, tidak perlu intonasi suara yang meledak-ledak. Audiens akan menilai kualitas komunikasi kita bukan dari suara tapi dari kelancaran retorika dan kecerdasan membaca pertanyaan-pertanyaan lawan debat.***

Komentar Facebook

Tags

Original Source

Related posts

Leave a Comment