Ratna Sarumpaet Ditahan di Polda Metro Atas Permintaan Keluarga

JAKARTA – Ratna Sarumpaet dititipkan selama 20 hari di Rutan Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan. Faktor kesehatan dan keamanan menjadi pertimbangan sehingga dia tidak ditahan di rutan Kejati DKI.

Kuasa hukum Ratna, Insank Nasrudin menjelaskan, selain mempertimbangkan hal tersebut, dititipkannya Ratna di Rutan Polda memang permohonan dari pihak Ratna dan keluarga.

“Kondisi beliau berat badannya turun. Lumayan kalau dihitung-hitung bisa 10 kiloan (kg). Kemudian kalau toh dipindahkan memang menyangkut permohonan kami, udah lah di sini saja,” ujar Insank ditemui di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (31/1/2019).

Ia menjelaskan, tidak ada penyakit serius yang tengah diidap oleh ibu dari Atiwah Hasiholan ini. Alasan pihaknya meminta agar Ratna ditahan di Rutan Polda Metro Jaya, sebab mengingat usia Ratna yang akan segera memasuki 70 tahun, maka tidak bisa disamakan dengan penahana terhadap tersangka yang usianya lebih muda atau usia produktif.

“Engga (ada penyakit) dong. Ibu RS (Ratna Sarumpaet) usianya sudah lanjut, sisi kemanusian 70 tahun engga bisa diklaim masih sama dengan 20an. Namanya juga orangtua,” jelas Insank.

Atas pertimbangan tersebut, Ratna Sarumpaet akan ditahan sementara di Rutan Polda Metro Jaya. “Rencana nanti akan kita tahan di Polda Metro Jaya. Dititipkan disitu untuk 20 hari ke depan,” ujar Kepala Kejari Jakarya Selatan Supardi di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Sebelumnya diketahui, berkas perkara Ratna Sarumpaet telah lengkap atau P21. Pelimpahan tahap dua pun dilakukan, yakni penyerahan tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan. Sekitar pukul 11.00 WIB Ratan telah berangkat menuju Kejari Jakarta Selatan. Namun tak lama berselang, ibu dari Atiqah Hasihilan ini dikembalikan ke Rutan Polda Metro Jaya.

Ratna ditangkap akibat kasus penyebaran berita bohong atau hoaks terkait penganiayaan terhadap dirinya. Ia ditangkap pada 4 Oktober 2018 di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, sebelum dirinya terbang ke Chile.

Aktivis itu disangkakan dengan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 jo Pasal 45 Undang-Undang ITE. Akibat kasus tersebut, ia terancam 10 tahun penjara. (cw2/b)

Original Source

Related posts

Leave a Comment