”Visi Presiden” Jokowi, Strategi Manipulasi Kampanye?

Oleh : Hersubeno Arief

Akhirnya ketahuan juga apa penyebab Jokowi sebagai caprestak mau memaparkan visi misi yang difasilitasi KPU. Rupanya Jokowi sudah merasapasti menang pada Pilpres 2019.

Minggu malam (13/1) melalui sejumlah stasiun televisinasional Jokowi memaparkan visinya sebagai presiden. Agak aneh sebagaipresiden, dia memaparkan visinya di akhir masa jabatan. Lazimnya yangmemaparkan visi misi adalah seorang kandidat capres. Melalui pemaparan visimisi, pemilih bisa menilai, apakah dia layak dipilih kembali atau tidak.

Untuk seorang presiden yang akan mengakhiri jabatan, yangtepat adalah evaluasi sepanjang masa jabatannya. Bukan malah mengumbar janjibaru. Di Amerika Serikat disebut sebagaipresidential approval rating. Atau level persetujuan publik terhadap kinerjaseorang presiden.

Pilihan Jokowi untuk memaparkan visinya ini agak janggal.Tapi pasti ada strategi besar yang tengah dia siapkan. Ini semacam strategi“mengakali” aturan KPU dan Bawaslu.

Pertama, dengan memilih memaparkan visi misi sebagaipresiden, maka Jokowi tidak terkena aturan larangan melakukan blocking timeseperti diatur dalam Peraturan KPU Tahun 23 Tahun 2018 tentang kampanyepemilihan umum. Sementara sebagai capres Jokowi akan terkena larangan tersebut.

Kedua, atas nama seorang presiden, dia bisa menggunakanseluruh saluran televisi nasional. Kalau toh hitung-hitungannya komersial,karena berkaitan dengan biaya air time, Jokowi bisa membebankan anggarannyakepada negara.

Ketiga, dengan menggunakan saluran TV sebagai seorangpresiden, Jokowi mendapatkan kemewahan yang tidak bisa dimiliki oleh Prabowosebagai kompetitornya. Setiap saat dia bisa mengakses TV, Prabowo tidak. TVsaat ini merupakan media yang paling efektif sebagai alat kampanye, karenamenjangkau pemirsa yang sangat luas di seluruh Indonesia.

Tampaknya model kampanye terselubung semacam ini akandilakukan berkali-kali. Malam ini Jokowi memaparkan visinya dalam episodeinfrastruktur. Selanjutnya dia akan memaparkan visi-visi lain yang menjadiandalan jualannya dalam kampanye.

Keempat, dengan memaparkan visinya sebagai presiden, Jokowimencoba mengirim pesan dan membangun kepercayaan diri bahwa dia sudah pastiakan kembali memenangkan Pilpres. Strategi ini bisa mengundang kecurigaan,Jokowi akan menggunakan segala macam cara untuk memenangkan pilpres. Apapuncaranya, dia harus menang.

Kelima, dengan pola kampanye semacam ini Jokowi tampaknya sudah memutuskan untuk tidakmelibatkan Ma’ruf Amin. Perannya dianggap tidak cukup signifikan, atau malahmembuat elektabilitasnya menurun. Dia _all out _ berjuang sendirianmemanfaatkan seluruh fasilitasnya sebagai seorang presiden.

Apakah kampanye terselubung Jokowi itu melanggaraturan? Terpulang kepada KPU dan Bawasluuntuk menilainya. Yang jelas kampanye model begini melanggar serta mengabaikannalar dan akal sehat publik.

Dalam pilpres, penilaian publik jauh lebih penting dan menentukan dibanding penilaianKPU dan Bawaslu. Publik sudah lebih cerdas dan kritis. Bila salah mengelolanya,alih-alih mendapatkan simpati. Publik bisa semakin antipati. end

Komentar

Facebook Comments

Original Source

Related posts

Leave a Comment