Demokrasi Mati di Tangan Petugas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Portaldailynet, Jakarta – Rasa takut, kalut, dan marah karena terpojok dan merasa kalah, membuat orang akan menerjang secara membabi – buta. Tidak perduli norma – norma, aturan, bahkan tidak perduli jika harus hancur lebur.

Mungkin seperti itulah yang tengah dirasakan, dan harus dilakukan Jokowi selaku Paslon dari petahana.

Berbagai cara telah dilakukan. Mobilisasi para pejabat ASN untuk secara terselubung ikut mengkampanyekan dirinya. Dan menghukum Pejabat ASN yang menolak instruksinya dan mendukung kubu sebelah. Menebar janji -janji yang baru, sementara janji lama tak kunjung di tepati. Menambah banyak model kartu, padahal kartu lama tidak berdampak bagi rakyat banyak.

Lembaga – lembaga survei asal bapak senang (ABS) memberikan laporan hasil survei yang kesemuanya menunjukan keunggulan Jokowi. Tapi itu tidak membuat dirinya tenang, tapi makin membuat kalut dan marah. Maka akhirnya ia memproklamirkan perang dan akan melawan. Entah Negara dan Rakyat mana yang akan dilawan.

Rupa – rupanya itu semua belumlah cukup. Tidak memperdulikan lagi dengan aturan berdemokrasi lewat pemilu. Tidak memperdulikan lagi akan asas – asas pemilu. Jokowi mengajak para pendukungnya untuk memakai baju putih sebagai suatu simbol pada saat pencoblosan. Saat paling penting di pesta Demokrasi.

Mungkin Jokowi lupa. Atau bakan tidak tahu, sebagaimana biasanya. Sering lupa akan janjinya dan tidak tahu apa yang dibaca dan ditandatangani. Atau karena terlalu kalut dan marah. Maklumlah dia hanya seorang petugas partai. Hal yang mendasar dari Pemilu Demokrasi di Indonesia adalah berasaskan langsung, umum, bebas, dan rahasia atau luber.

Kalau Pemilu dimobilisasi, disuruh serempak ke TPS memakai baju putih, lalu dimana asas bebas dan rahasianya.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana kisruhnya dan tegangnya pelaksanaa Pemilu. Kubu Jokowi memakai pakaian warna putih. Kubu sebelanya pakaianya bebas, bertemu dalam satu tempat TPS. Bisa – bisa terjadi bentrokkan dan pertumpahan darah antara dua kubu.

Apakah ini tidak di ketahui oleh Jokowi dan partai pengusungnya. Partai yang menamakan dirinya partai paling Demokratis. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Jika hal ini telah diketahui dan dipahami, tapi tetap diterjang. Maka Jokowi selaku petugas PDIP telah berusaha membunuh Demokrasi itu sendiri.

Apa ini yang mereka harapkan? Karena melihat kenyataan kekalahan di depan mata. Membuat keonaran dan kegaduhan dalam pelaksanaan Pemilu.

 

(Jo)

Related posts

Leave a Comment